FaceBook Instagram TikTok Twitter

andhirarum

    • Home
    • Tentang Andhira
    • Product
    • _aderation project
    • _Kirana Creative

    Saya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu dari Mas Kunto Aji. Mulai dari lagu yang sedang booming saat pertamakali saya dengar, yaitu Terlalu Lama Sendiri. Lagu yang asyik didengar kala single (memperhalus bahasa jomlo~). Musiknya juga enak, akustikan. Berasa punya teman seperjuangan kala itu, nggak ngenes-ngenes amat ahaha ahah ahahahahah. Ehem.

    Kemudian seiring berjalannya waktu, hingga tahun lalu Mas Kun (Mas Kunto Aji) mengeluarkan satu album baru yang berjudul Mantra Mantra. Berisi 9 lagu yang dari judulnya saja sudah membuat saya tertarik dan penasaran untuk mendengarkan semua lagunya.

    Ajaib. Benar-benar ajaib. Saya tak menyangka jika lirik lagu di dalam album ini ternyata "sedalam" itu.

    Saya sering sekali mendengarkan lagu Rehat disaat perjalanan keliling kota untuk sekadar menyegarkan pikiran ketika sudah lelah dengan keadaan. Selalu saya dengarkan sebagai pengingat diri sendiri.

    Bahkan, saya pernah menangis sesenggukan gara-gara lagu ini ketika nyetir dan di kamar waktu diam berkontemplasi. Berasa ditampar dan ditenangkan dalam satu waktu.


    "Tenangkan hati
    Semua ini bukan salahmu
    Jangan berhenti
    Yang kau takutkan takkan terjadi."

    "Yang dicari, hilang
    Yang dikejar, lari
    Yang ditunggu
    Yang di harap"

    "Biarkanlah semesta bekerja untukmu."

    Lagu Sulung berhasil membuat saya menangis sesenggukan beberapa hari yang lalu ketika harus merelakan seseorang yang memang tidak akan bisa saya miliki sampai kapanpun, karena sebuah perbedaan yang tak bisa ditoleransi.


    Meski durasi lagunya tidak sepanjang lagu lain di album Mantra Mantra, tapi mendengar lirik dan intro pertamanya langsung membuat saya ambyar nangis nggugluk.


    "Cukupkanlah ikatanmu
    Relakanlah yang tak seharusnya untukmu

    Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri."

    Lagu Sulung berhasil membuat saya berdamai cukup cepat dengan keadaan. Biasanya sih kalau lagi patah hati, saya butuh waktu yang lumayan lama untuk pulih. Susah move on gitu deh, kata orang-orang. Hahaha.

    Sekarang, keadaan saya jauh lebih baik. Pelan-pelan sudah bisa menertawakan kesedihan yang kemarin. Bahkan, sudah bisa kontak kembali dan santai menanyakan si dia perihal hubungannya yang baru dengan orang lain. Ya. Salah satunya berkat mendengarkan lagu Sulung, dan banyak berkontemplasi pada diri sendiri juga.

    Bisa jadi ini gegara sering patah hati juga, sih. Jadinya udah terlatih HAHAHAHA. Seperti otot yang terus dilatih, dia justru makin kuat, bukan? *apaan seeeeh*

    Ada juga Saudade, yang mengingatkan saya tentang kedudukan saya sebagai anak pertama. Menginspirasi saya untuk menulis tentang lika-liku anak pertama beberapa bulan yang lalu.

    Baca Tulisan: Tentang Anak Pertama dan Lika-likunya



    “Dikatakan oleh angin
    Yang menghasilkan gelombang
    Jadilah besar bestari
    Dan manfaat tuk sekitar

    Dikatakan awan hitam
    Sebelum datangnya hujan
    Biarlah aku dikutuk
    Dan engkau yang dirayakan
    ”

    Pilu Membiru mengingatkan saya untuk mencoba memaafkan dan mengikhlaskan apa-apa yang sudah lewat, meski banyak yang belum sempat terucap pada mereka semua yang ada di masalalu.

    Melepaskan. Mengikhlaskan apapun yang telah terjadi, meski masih tersisa penasaran dalam hati.


    “Tak tergantikan, walau kita tak lagi saling menyapa”

    “Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu”

    Lagu-lagu yang lain seperti Topik Semalam, Konon Katanya, Jakarta Jakarta, Bungsu, dan Rancang Rencana, juga nggak kalah menarik untuk didengarkan, loh. Tetap membuat maknyess di hati.

    Dan beberapa hari yang lalu, di linimasa Twitter saya ramai sekali membahas Pilu Membiru Experience yang digarap oleh Mas Kunto Aji bersama teman-teman yang lain, seperti Mas Adjie Santosoputro, yang merupakan praktisi pemulihan batin.

    Pilu Membiru Experience merupakan sebuah project untuk mengumpulkan pendengar album lagu Mantra Mantra untuk bercerita, khususnya yang memiliki kisah mendalam dengan lagu Pilu Membiru.

    Ada tiga orang yang berbagi kisahnya dalam audio video ini, diantaranya Dede, Sasha, dan Rama. Didampingi oleh Mas Adjie Santosoputro yang merupakan seorang praktisi pemulihan batin, mereka bertiga bercerita, berkonsultasi, dan berbagi inspirasi tentang bagaimana mereka bisa melalui masa-masa sulit tersebut.


    Diluncurkan pada tanggal 13 November 2019, Pilu Membiru Experience ini terdiri dari 7 track yang terdiri dari Prolog I: Kunto Aji, Prolog II: Adjie Santosoputro, Story I: Dede Yulia Oleh Najwa Shihab, Story II: Natasha Hangraini Oleh Nadin Amizah, Story III: Rama Faishal Oleh Iqbaal Ramadhan,  Pilu membiru (Live Experience) dan Kontemplasi.

    Sejak pertamakali saya mendengar audio Pilu Membiru Experience di Spotify, air mata saya nggak berhenti bercucuran. Apalagi saat itu saya memang sedang dalam masa galau-galaunya. Nangis di jam setengah empat pagi, pula. HAHAHAHAHA.

    Saya paling suka pada Prolog II yang dibawakan oleh Mas Adjie Santosoputro. Beliau mengajak kita untuk memaafkan, mengampuni apapun yang terjadi di masalalu. Mengikhlaskan hati untuk menerima kenyataan.

    “Dengan melonggarkan mengharuskan hidup agar sesuai ingin, akan memperluas ruang kita untuk ikhlas menerima kenyataan. Yang berlalu, yaudah berlalu. Selalu tak ada kabar baru dari masalalu” – Prolog II: Adjie Santoso, Pilu Membiru Experience

    Apalagi setelah Official Video-nya Pilu Membiru Experience keluar beberapa hari setelah audio-nya, saya tambah nangis sesenggukan. Ditambah lagi mendengar sambil membaca komentar video-nya. Ternyata, semua orang juga mengalami masalah yang berbeda kadarnya di masing-masing orang, yang tentu saja tak mungkin bisa dibandingkan satu sama lain.


    Sekian banyak komentar-komentar yang ada di video, hanya satu suara yang saya dengar: bercerita untuk lega. Banyak orang---bahkan banyak sekali--- orang bercerita, saling menguatkan satu sama lain. Sama-sama melapangkan hati, memaafkan dan mengikhlaskan apapun yang telah terjadi. Menyembuhkan hati masing-masing.

    “Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu....”

    “Tak tergantikan. Walau kita tak lagi saling menyapa.”

    -------------------------------

    Mantra Mantra dan Pilu Membiru Experience. Dua karya yang luar biasa bagi saya. Bukan hanya sekadar lagu biasa untuk dinyanyikan, tapi lagu-lagunya merupakan obat bagi diri sendiri. Sebagai teman perjalanan dalam proses pemulihan diri ketika sedang terpuruk tak berharga, sedang lelah pada hidup, sedang patah hati, sedang krisis identitas pada diri sendiri. Menyadari bahwa saya tidak sendirian untuk melewati ini semua.

    Terimakasih, Mas Kun. Terimakasih telah memeluk saya, memeluk kami semua melalui lagu-lagu yang sederhana dalam lirik tetapi sarat akan makna ini. Terimakasih atas ‘mantra-mantra’ hebatnya yang menjadikan kami untuk bertahan hidup. Untuk lebih menerima, memaafkan, dan mengikhlaskan apapun yang telah terjadi. Sehat-sehat dan bahagia selalu, Mas!

    Jadi, seberapa besar dampak lagu-lagu Mas Kun pada hidupmu? Yuk, utarakan pendapatmu di kolom komentar, ya!



    Peluk Jauh,


    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading

    Sedari dulu saya ingin merutinkan menulis jurnal mingguan di blog. Tapi entah mengapa, rasa malasnya lebih dominan daripada rasa rajinnya HAHAHAHA. Terlebih lagi, rasanya saya seperti orang sok penting banget, apa-apa kok diceritakan. Tapi disisi lain saya juga berpikir, ini kan blog milik pribadi. Ya suka suka saya dong mau nulis apa~. Jadi, sok atuh, tulis sesuka hati saja demi membekukan memori hihi.

    Apa kabar minggu keempat bulan Oktober 2019?

    Alhamdulillaah, luar biasa. Banyak hal-hal menyenangkan yang terjadi di minggu ini! Tapi kesemuanya memiliki benang merah yang sama; bertemu kawan.

    Dimulai dari hari Jumat yang dibuka dengan jadwal kondangan di teman saya, Diana Cahyani, yang ada di daerah Selokajang, Srengat. Kebetulan, circle pertemanan saya dengan Diana ini ada yang sama. Jadinya berangkat barenglah saya bersama 5 teman saya; Ainulla, Sendyta, Heni Ika, Mas Angga Salim, dan adik saya, Anggana Raras.

    Dan kondangannya sungguh hangat sekali. Berasa seperti nyangkruk di kafe daripada kondangan. HAHAHA. Pengantin perempuannya malah nemuin kita berenam, ngobrol ngalor ngidul. Nggak standby terus menerus di kuade. Selow abislah pokoknya.



    Kondangan rasa cangkrukan. Selamat menempuh hidup baru, Diana dan Mas Nanda!


    Setelah kondangan, rombongan ini berpisah. Saya bersama ketiga teman saya lanjut nongkrong di Senyawa Kopi, sedangkan dua teman saya yang notabene suami istri, cabut pulang duluan.

    Baca Senyawa Kopi Blitar: Nongkrong Tak Ada Canggung, Serasa Ngopi di Rumah Sendiri

    Di Senyawa Kopi pun saya juga bertemu teman lainnya, Mbak Verwati Iriani dan Mbak Tutut Yunita. Memang sebelumnya sudah diskusi via grup chat sih kalau mau meet up. Jadinya makin ramai ketika kumpul berenam. Apalagi kita mainan kartu UNO yang dimana bisa merubah kawan menjadi lawan wkwkwk. Seru abis!



    Meski muka saya tercoreng paling banyak berasa adonan, tapi saya bahagia bisa bertemu dengan mereka :)


    Berlanjut di hari Sabtu, dimana di hari itu saya ada kondangan di dua tempat yang jamnya berdekatan. Kondangan di Maya Karimatul, yang merupakan teman SMP saya, dan teman SMA, si Dilla Saezana. Sekalian reuni gitu deh ceritanya. Saya yang udah jarang bertemu dengan teman-teman sekolah pun turut menghadiri keduanya, meski tempatnya rada jauhan ~XD

    Definisi kekoplakan teman sekolah tak pernah lekang oleh zaman itu ternyata benar adanya. Saya dibuat tertawa terus oleh mereka, entah itu teman SMP maupun teman SMA. Nggak ada yang berubah dari mereka selain fisik. Gilanya, ramenya, koplaknya, alaynya, tetap aja. Malah makin parah kayaknya HAHAHAHA.

    Ini yang membuat saya semakin rindu masa-masa sekolah, terutama masa SMP dan SMA. Masa-masa dimana saya tumbuh menjadi gadis remaja yang (sempat) alay, mulai mengenal dunia, dan bertingkah sekarepnya dewe.

    Untungnya waktu sekolah dulu saya termasuk jadi anak yang 'edan dan koplak', jadi banyak hal yang bisa saya kenang di masa-masa putih-biru dan putih-abu-abu ini. Eheu~


    Kondangan berasa reuni angkatan, tapi ini belum semua yang hadir HAHAHA. Selamat menempuh hidup baru, Dilla dan Fatwa! Jodone koncone dewe alias teman satu angkatan sendiri :))) *mulai lirik-lirik teman sendiri*


    Definisi teman bertumbuh alias teman alay bersama waktu SMP. Selamat menempuh hidup baru, Maya dan Mas Wildan! Terimakasih telah mengundang. Kalau nggak gini, kita nggak bakal ketemu ~XD


    Teman sejak SD, SMP, SMA, hingga sekarang, Della Putri dan Dinta Maydita. Baru pertamakalinya foto bareng setelah 17 tahun pertemanan. Sungguhlah teman macam apa ini :)))



    Teman menggila waktu SMP, Tiara Ulantika dan Dinta Maydita! Kalau ketemu selalu hebring alias heboh sendiri ~XD ah, ya. Ini juga pertamakalinya kita foto bertiga, ya? HAHAHAHA.


    Keesokan harinya, hari Minggu tanggal 27 Oktober 2019 saya kedatangan satu tamu yang datang jauh-jauh dari Gresik, Hasbi Mei. Dia merupakan salah satu teman dekat saya waktu kuliah--partner Jomblo Beriman Sobat Ambyar, dimana saya dan dia sering nyeletuk hal-hal yang berbau (sok) puitis dan baper tingkat tinggi. Buat seru-seruan aja sih, bukan galau beneran. Heuheu.

    Sebenarnya, dia udah ada wacana mau ke Blitar sejak beberapa bulan yang lalu. Eh, lha kok baru keturutan hari Minggu kemarin. Nganter sepeda motor milik Andia Savitri, adik tingkat yang satu kota dengan saya, sekalian main-main ke Blitar, katanya. Ok.

    Tidak ada yang berubah. Malah makin parah kebaperannya. Apa-apa dibuat baper. Memanglah sobat ambyar tenan~

    Kami menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol dan jalan-jalan di Alun-alun, Museum Bung Karno, Makam Bung Karno, dan juga mencicipi salah satu es legendaris khas Blitar, Es Pleret!

    Baca: Es Pleret Blitar, Sajian Legendaris Ini Wajib Kamu Coba

    Senang sekali bisa bertemu dengan mereka berdua! Secara, baru bertemu lagi setelah 2 tahun lulus kuliah. Ah, semoga selalu ada pertemuan-pertemuan selanjutnya!




    Dokumentasi di sesi terakhir sebelum terlupa HAHAHA. Maklum, terlalu banyak ngobrol :))) Terimakasih telah menyediakan waktunya!

    -------------------------------------------------------------------


    Bahagia rasanya bisa bertemu banyak teman. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, hingga teman yang baru kenal beberapa tahun terakhir ini. Meski energi saya terkuras cukup banyak, tapi rasa bahagia mengalahkan segalanya *ceileeh*

    Semoga kelak ada pertemuan selanjutnya yang tetap menjadi pemantik bahagia!




    With love,


    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading

    Dengan pertimbangan badan yang sudah sedikit mendingan dan acara ini sudah masuk di hari-hari terakhirnya, akhirnya saya memutuskan untuk datang menghadiri event yang baru diadakan pertamakalinya di kota tersayang ini.

    Sudah diworo-woro cukup lama oleh salah satu teman tim hore acara Ketemu Buku Blitar ini. Tapi ndilalah waktu hari H dan sampai menjelang hari terakhir acaranya, kok ya sakit cukup berat (baca ceritanya disini). Yang harusnya bisa menghadiri event waktu ada Mbah Soesilo Toer beberapa hari lalu, saya justru nggak bisa datang gegara masih belum pulih. Ya sudah, daripada dipaksa dan yang ada saya malah pingsan di jalan, mending direlakan untuk tidak hadir saja. Anggap saja masih belum rezekinya. Ehe.

    Untungnya, Allaah masih memberi saya kesempatan untuk hadir tadi malam untuk ikut senang-senang di acara ini. Alhamdulillaah.

    Saya nggak ngecek siapa guest star yang diundang di tanggal 9 Oktober malam, sih. Sengaja. Biar kejutan aja AHAHAHAH. Syukur-syukur kalau kebetulan kenal sama penulisnya. Eh, jebul kok nggak kenal wkwkkwk. Tapi gapapa, saya tetap antusias buat ngikutin rangkaian acaranya.

    Oh, iya. Seperti yang saya bilang di awal tadi, acara festival literasi seperti ini baru pertamakali ini diadakan di Blitar, loh! Sebelumnya saya sempat berangan-angan, kapan ya di Blitar ada acara semacam Patjarmerah; festival literasi yang mengundang berbagai tokoh pegiat literasi dan tentu saja ada pameran bukunya. Lha kok sama teman diberi info jika ada acara semacam Patjarmerah di bulan Oktober! Saya pun langsung hepi syalala~

    Acara yang dihelat sejak tanggal 2 Oktober 2019 hingga 10 Oktober 2019 ini diinisiasi oleh berbagai macam komunitas, yang tergabung dalam Lintas Komunitas Blitar. Berbagai macam komunitas buku juga turut memeriahkan acara ini, loh! Bahkan ada yang melapakkan buku-bukunya untuk dibaca di tempat seperti Ruang Baca Blitar. Ramai!

    Saya hadir sekitar pukul setengah 8 malam, dijemput oleh seorang teman yang akhirnya bisa bersua setelah 5 tahun hanya bisa ngobrol lewat sosial media, Mbak Fitria RA! (HAAAAA AKHIRNYA BISA KETEMU SETELAH LIMA TAHUN! PADAHAL KITA SATU KOTA LOH INI HIKS) Sempat ada drama-drama sedikit hingga akhirnya kita bertemu huhuhu maafkan Andhira yang membuat menunggu sedikit lama. (DAN LUPA FOTO-FOTO CERIA. ASTAGA)

    Langsung cusslah kita ke lokesyen. Malam itu, guest starnya adalah Mas Genta Kiswara, penulis buku yang berasal dari Sumatera. Beliau sudah menelurkan 4 buah buku, loh! Sayangnya kemarin saya belum baca satu buku dari beliau, jadinya ada yang kurang, gitu. Huhu. Maap yha Mz~

    Bintang tamu acara Ngobras (Ngobrol Asyik) tanggal 9 Oktober kemarin, Mas Genta Kiswara. Oh iya, asiknya ini acara diadakan lesehan. Hangat sekali suasananya! (Tinggal nambah gorengan sama kopi aja, nih. Etapi konsentrasi saya sedikit terpecah dengan sedapnya bau lalapan ayam goreng di depan Graha Patria)

    Beliau bercerita bagaimana proses kreatifnya untuk menjadi seorang penulis, tips menulis, dan tentunya ada curhat-curhat terselubung tentang percintaan lah ya. Hahaha. Mengingat audiens kemarin banyak didominasi oleh kaum milenial, yang notabene sedang terserang virus merah jambu.

    Cukup bosan dengan acara diskusi dengan penulis, saya memilih jalan-jalan ke dalam Graha Patria untuk melihat pameran buku yang sedang berlangsung.



    Berbagai macam buku disediakan untuk dijual, mulai dari novel yang beragam genre, buku anak-anak, buku bertema politik, sosial, pengetahuan, sejarah, dan masih banyak lagi.


     Buku-buku Mojok juga tersedia disini, loh!


    Oh, iya. Disini juga ada lapak untuk belajar sablon cukil! Yang mana saya langsung tahu kalau ini dari lapaknya Ruang Baca Blitar. Duh, saya lama banget nggak gabung sama mereka huhuhu. Tapi cukup senang semalam bisa bertemu beberapa teman dari Ruang Baca Blitar yang masih mengenali saya HAHAHA. Pokokmen kalau sudah sembuh, harus ikutan lagi nimbrung ngelapak buku bersama mereka di Citywalk Makam Bung Karno!

     Belajar sablon cukil di lapaknya Ruang Baca Blitar


    Kerennya lagi, disini sudah tidak disediakan kantong plastik, loh! Salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Jadi, wajib bagi kalian untuk membawa kantong belanja sendiri dari rumah, ya!

    Sudah ada woro-woro di meja kasir jika tidak menggunakan kantong plastik

    Ah, saya senang bisa hadir di acara festival literasi pertama yang ada di Blitar ini. Meski semalam hanya hadir beberapa jam saja dan tidak membeli buku satupun, bagi saya, acara ini keren sekali! Mengenalkan kepada masyarakat bahwa dunia literasi itu tidak membosankan dan sangat seru untuk dipelajari! Ketemu Buku yang tidak hanya bersua dengan buku!

    Semoga acara Ketemu Buku Blitar tidak hanya sekali ini diadakan. Kalau bisa ya.... setiap tahun, lah. HEHEHEHE. AAMIIN. Semoga Tuhan memberi umur panjang untuk menikmati festival literasi ini kembali!



    Love,



    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading

    Hari ini, adalah hari kedua saya mulai beranjak dari tempat tidur. Belajar beraktivitas kembali setelah 6 hari belakangan hanya bisa terbaring di tempat tidur nggak bisa ngapa-ngapain, selain utak-atik handphone.

    Enam hari belakangan, rasanya ada yang beda. Biasanya udah kelayapan kemana-mana, tapi ini hanya gegoleran di rumah aja. Dibuat bangun dan berdiri agak lama, udah pusing. Bawaannya ingin rebahan terus. Berasa useless huhu.

    Setelah terserang penyakit ini terakhir waktu kelas 4 SD, akhirnya di usia 24 tahun ini kambuh lagi. Yap, saya terkena demam typhoid atau biasa orang menyebut tipes. Penyakit yang memang sudah pernah saya derita waktu SD, tapi jarang banget (atau bisa dibilang nggak pernah) kambuh. Cukup kaget juga hasil cek darah menyatakan bahwa saya positif tipes beberapa hari yang lalu.

    Semua berawal dari batuk, pilek, pusing, dan panas cukup tinggi di awal Oktober lalu. Awalnya saya berpikir, 'Wah, ini kayaknya demam biasa efek pilek sama batuk. Dibuat istirahat aja udah cukup, nih.'

    Bahkan saat itu saya masih sempat buat mengerjakan orderan, COD dua kali siang sama malam diantar oleh adik. Meski harus nahan-nahan pusing buat CODan. Tapi waktu malam hari itu sempat muntah sekali abis pulang CODan, karena badan rasanya nggak kuat.

    Akhirnya saya buat istirahat. Semua kerjaan saya tunda, saya beri jeda kepada diri sendiri buat istirahat. Karena saya rasa bada sudah berada di ambang batas, sudah limit banget. Daripada dipaksa justu makin drop, mending langsung mengistirahatkan diri saja. Ehe~

    Lewat tiga hari, saya makin heran dan bertanya dalam hati, 'Kok panasnya belum turun-turun?' Mana ini pusingnya belum hilang-hilang, sendi dan pinggang sakitnya makin menjadi-jadi. Parah. Belum pernah saya ngerasa selemah itu.

    Sempat saya membuat status di WhatssApp untuk menanyakan rekomendasi obat penurun panas yang tokcer. Tapi banyak teman yang menyarankan langsung ke dokter aja, karena panas udah 3 harian.

    Saya yang memang curiga kalau badan ini bukan sakit yang seperti biasanya, langsung merencanakan untuk periksa ke klinik dekat rumah, dan minta tes widal (tes untuk demam typhoid)

    Sialnya, saya saat itu lupa kalau saya sangat takut dengan jarum suntik HAHAHAHA (apa-apaan ini, mantan mahasiswi kesehatan tapi takut jarum suntik). Baru sadar ketika sudah hampir sampai di tempat klinik. Bodooo emang. Tapi kalau nggak periksa gini mah, gak bakal tau kan ya. Bismillaah aja lah, demi badan segera sehat-sehat-sehat.

    Sempat-sempatnya buat foto UGD. Sambil nunggu hasil tes.

    Masuk ke ruang UGD, sempat di anamnesa (ditanya-tanya) sama perawatnya; panas udah berapa hari, apa yang dirasain. Kemudian diberi termometer buat ngukur suhu badan sendiri (hampir 38 derajat waktu itu), dan di tensi (cuma 90/70. Heuh).

    Dan ini, masuk ke sesi yang bikin agak deg-degan. Ambil darah dengan cara disuntik!

    "Mbak, nggak usah dilihat (proses nyuntiknya) kalau takut hehehehe." Si Mbak Perawat sepertinya paham kalau saya takut sama jarum suntik.

    Sial. Wkwk.

    Satu-satunya yang saya ingat sebelum jarum suntik dimasukkan ke pembuluh darah lengan kiri saya (selain berdoa) adalah, saya mensugesti diri saya sendiri jika disuntik ini tidak lebih sakit dari ditinggal nikah, ditinggal waktu sayang-sayangnya, maupun ditinggal tanpa alasan.

    ETAPI BENERAN MANJUR, SAUDARA-SAUDARA. Hanya terasa mak clekit dikit doang. Habis itu nggak kerasa apa-apa masa (efek terlatih patah hati, sepertinya) :")

    Saya merasa pemberani kala itu. Seriusan. HAHAHAHAHA APAAN SIH RECEH.

    Terus kata perawatnya butuh waktu setengah jam buat menunggu hasil tesnya. Saya memilih untuk menunggu di dalam UGD sambil tiduran di bed pasien, soalnya pusingnya nggak bisa ditoleransi. Dunia terasa berputar-putar~~

    Setengah jam berlalu, dan hasil yang keluar pun sesuai dengan dugaan saya. Tipes.

    "Mbak, ini trombositnya baik tapi tipesnya tinggi. Mbaknya ada BPJS? Dirawat aja ya Mbak?"

    "Hehehehe nggak usah, Mbak. Saya minta rawat jalan aja."

    "Takut sama jarum suntik sama infus ya Mbak?"

    Sial. Kena lagi. "Hehehehe, iya Mbak. Yaudah, Mbak. Minta diresepin obatnya sekalian ya Mbak."

    Daaan, begitulah. Saya pulang dengan perasaan lega. Penyakit sudah ketahuan, nggak menduga-duga lagi ~XD yaa tinggal jaga makan dan jaga kesehatan aja sih sampai sekarang ini.

    Langsung nitip teman buat dibelikan jus cacing ehehehe. Btw, rasanya enak!

    Evaluasi buat diri sendiri terkait penyakit tipes yang diderita awal bulan ini. Kayaknya sih gegara saya makan kurang teratur akhir-akhir ini. Makan asal makan, nggak dikontrol, kurang jaga kebersihan. Plus kurang minum air putih HEHEHEHE :")

    So, please, guys... Jaga kesehatan kalian, ya! Kerja boleh, tapi tetap harus dalam batasan. Kalau waktunya istirahat, ya dibuat istirahat. Jangan lupa makan yang teratur (terutama buat anak perantauan yang jarang terkontrol makannya). Jangan terlalu banyak makan olahan instan, pedas, dan juga yang berbau asam. Udah, mulai kurang-kurangin, deh. Jangan sampai nanti ujug-ujug ambruk seperti saya gini :")

    Stay healthy, man-temans! Terimakasih untuk yang sudah menjenguk dan mendoakan Andhira he he he :')



    Menulis dengan masih sedikit kliyengan,



    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading


    Baru saya sadari, event Serang Culture Festival 5 yang sudah berlangsung sejak tanggal 1 September ini sudah memasuki rangkaian acara terakhirnya, yaitu Serang Barong Festival. Dan saya malah belum menulis tentang event ini di blog, padahal sempat menghadiri waktu pembukaan event ini yang dibuka dengan acara Festival Layang-layang. HAHAHAHA. Baiklah, mari ditulis saja demi mengarspikan momen-momen bagi saya yang gampang pelupa ini.

    Sejak tahun lalu, saya mulai mengikuti festival desa terbesar se-Blitar Raya ini, yang kala itu sudah berjalan tahun ke-4. Yap, tahun ini, Serang Culture Festival sudah berjalan tahun ke-5. Dan saya semakin salut dengan event yang berlangsung tiap tahun sekali di Pantai Serang ini, karena semakin menarik dan semakin keren!

    Ah, ya. Saya belum bercerita apa sih Serang Culture Festival itu wkwkwk. Udah main ngecepres aja. Eheu.

    Singkatnya, Serang Culture Festival merupakan sebuah event tahunan yang diselenggarakan di Pantai Serang, yang terletak di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Biasanya, event ini diadakan sekitar bulan September, yang mana di bulan ini mulai memasuki bulan Suro, jika menurut perhitungan jawa.

    Serang Culture Festival 5 kali ini mengusung tema Gunita Aguna Satwika. Tema ini diambil tiga kata dari bahasa sansekerta, yaitu “Gunita”, “Aguna”, dan “Satwika”. Gunita diartikan sebagai budaya atau kebudayaan, Aguna diartikan sebagai berguna atau bermanfaat, dan Satwika sendiri diartikan sebagai menyatukan budi dan jiwa. Dapat disimpulkan arti dari Gunika Agung Satwika adalah budaya bermanfaat menyatukan budi dan jiwa.

    Selain Festival Layang-layang yang menjadi agenda pembuka dari Serang Culture Festival 5, terdapat beberapa rangkaian acara yang dimulai dari tanggal 1 September 2019 hingga 22 September 2019. Diantaranya ada Upacara Adat Larung Sesaji 1 Suro yang berlangsung tanggal 2 September 2019, dilanjutkan dengan Pentas Seni Jaranan pada siang harinya, dan untuk acara malam hari ada acara Pantai Serang Bersholawat Bersama Habib Ja’far Al Jufri.

    Rangkaian acara seru lainnya ada Festival Patung Pasir yang diselenggarakan tanggal 8 September 2019, Pelepasan Tukik pada tanggal 14 September 2019 yang dilanjutkan dengan Serang Beach Jazz Festival pada malam harinya. Dilanjutkan dengan Serang Fishing Festival 2 pada hari Minggu 15 September 2019 dan Serang Beach Keroncong Festival pada hari yang sama di siang harinya. Rangkaian Serang Culture Festival ditutup pada tanggal 22 September 2019 dengan acara Serang Barong Festival.

    Kebetulan, dari banyaknya rangkaian acara menarik diatas, yang bisa saya hadiri hanya Festival Layang-layang saja HUHUHUHU SEDIH. Soalnya kebetulan ada acara yang barengan, plus kebetulan juga nggak ada teman yang bisa diajak. Hiks sedih :’) tapi nggak papa, yang penting sempat hadir di salah satu rangkaian acaranya.

    Acara ini dimulai pukul 9 pagi. Tapi saya baru berangkat dari rumah sekitar pukul 11 siang, karena menunggu teman yang baru bisa berangkat jam segitu. Untungnya hari itu saya bebas nggak ada tanggungan kerjaan, karena memang sengaja mengosongkan satu hari itu untuk liburan.

    Perjalanan memakan waktu 1,5 jam dari kota Blitar. Lumayan melelahkan tapi juga menyenangkan, karena jalan yang saya lalui nggak begitu banyak yang rusak. Oh iya, harga tiket masuk Serang Culture Festival 5 untuk event Festival Layang-layang ini sebesar 15.000 rupiah. Harga yang cukup murah untuk event seperti ini.



    Penonton yang membludak di event Festival Layang-layang. 

    Festival Layang-layang kali ini terdapat empat kategori yang menarik untuk dinikmati, diantaranya ada kategori Layangan Gapangan, Layangan Hias  Tradisional, Layangan Naga, dan Kite Combat. Tentunya banyak model layangan yang unik dan menarik, yang tentunya super seru.




    Kategori Layangan Hias. Yang kategori Layangan Gapangan nggak sempet moto gegara datang kesiangan HAHAHA. Untungnya acara masih awal banget.

    Oh, iya. Tak hanya warga Blitar saja yang menjadi peserta di Festival Layang-layang kali ini loh. Festival Layang-layang dibuka untuk umum, bisa diikuti oleh siapapun. Ada beberapa peserta yang berasal dari luar Blitar diantaranya Trenggalek, Kediri, Tulungagung, dan Malang.

    Peserta dari Trenggalek, yang membuat layangan hias dengan logo daerahnya sendiri :D

    Yang paling saya nanti-nanti sih sebenarnya kategori Layangan Naga. Soalnya paling seru! Melihat naga dan ekornya meliuk-liuk di udara tuh, amazing banget bagi saya. HAHAHAH. Maaf ndesoh. Kalau nggak salah dengar dari pembawa acaranya, panjang ekornya mulai dari 60 meter hingga 120 meter. Wow.





     Meliuk-liuk di udara~ btw butuh 3 hingga 5 orang untuk menenerbangkan layang-layang model naga seperti ini.

    Acara selesai sekitar pukul setengah 5 sore. Rencananya sih, pingin menikmati sunset di Pantai Serang, karena pantai ini (katanya) merupakan spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam. Tapi apadaya, takut kalau pulang kemalaman. Dan kebetulan juga, si teman ngajak keponakannya yang masih SD hehehehe. Jadinya keinginan ini harus ditunda dulu, deh. Kapan-kapan kalau ada kesempatan lagi (....dan tentunya teman buat ngebolang). Pokoknya kudu wajib diagendakan kesini!

    (Eh, kalau ada yang mau ngajakin ke Pantai Serang buat nonton sunset, bisa banget nih. Saya siap berangkat dengan senang hati :p)





    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Holla!

    Untitled-design-2

    Saya Andhira A. Mudzalifa, seorang perempuan biasa di balik semua postingan di blog ini yang suka bercerita, makan, dan jalan-jalan.

    Menyibukkan diri di Aderation Project dan Kirana Creative .

    Untuk menyapa lebih lanjut, bisa menghubungi lewat surel di andhira(dot)dee(at)gmail(dot)com

    Terima kasih telah mampir ke tempat di mana saya menuangkan segala cerita! Selamat membaca dan menikmati :)

    Temukan Saya Di

    • facebook
    • instagram
    • twitter

    Teman-teman

    Label

    #AyoNulis #BPNRAMADAN2024 #BPNRamadan2020 #BPNRamadan2021 #CatatanDuaEmpat #DiRumahAja Aderation Project Beauty Bodycare Cooking Crafting DIY Informasi Jelajah Blitar Journey Jurnal Tahunan Kafe Kuliner Life Lovely Place Makeup Pantai Blitar Rekomendasi Review Scarlett Smartfren Thoughts Tips Travelling Vaksinasi Writing Challenge cerita jalan-jalan

    Arsip Blog

    • ▼  2024 (17)
      • ▼  November 2024 (1)
        • Kenal Lebih Dekat dengan SoFresh: Sabun Cuci Pirin...
      • ►  Oktober 2024 (1)
      • ►  April 2024 (6)
      • ►  Maret 2024 (9)
    • ►  2023 (3)
      • ►  Juni 2023 (1)
      • ►  Februari 2023 (1)
      • ►  Januari 2023 (1)
    • ►  2022 (3)
      • ►  Maret 2022 (1)
      • ►  Februari 2022 (1)
      • ►  Januari 2022 (1)
    • ►  2021 (51)
      • ►  Desember 2021 (2)
      • ►  November 2021 (1)
      • ►  Oktober 2021 (1)
      • ►  September 2021 (1)
      • ►  Agustus 2021 (3)
      • ►  Juli 2021 (1)
      • ►  Juni 2021 (1)
      • ►  Mei 2021 (17)
      • ►  April 2021 (17)
      • ►  Maret 2021 (4)
      • ►  Februari 2021 (2)
      • ►  Januari 2021 (1)
    • ►  2020 (55)
      • ►  Desember 2020 (1)
      • ►  November 2020 (2)
      • ►  Oktober 2020 (2)
      • ►  September 2020 (4)
      • ►  Juli 2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (4)
      • ►  Mei 2020 (22)
      • ►  April 2020 (11)
      • ►  Maret 2020 (1)
      • ►  Februari 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (48)
      • ►  Desember 2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (3)
      • ►  September 2019 (5)
      • ►  Agustus 2019 (3)
      • ►  Juli 2019 (2)
      • ►  Juni 2019 (1)
      • ►  Mei 2019 (6)
      • ►  April 2019 (3)
      • ►  Maret 2019 (9)
      • ►  Februari 2019 (11)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (10)
      • ►  Desember 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (2)
      • ►  Mei 2018 (3)
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (9)
      • ►  November 2017 (1)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  Juli 2017 (1)
      • ►  Mei 2017 (1)
      • ►  April 2017 (1)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (1)
      • ►  Januari 2017 (1)
    • ►  2016 (16)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (2)
      • ►  Oktober 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (2)
      • ►  Juni 2016 (1)
      • ►  Januari 2016 (4)
    • ►  2015 (4)
      • ►  Maret 2015 (1)
      • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  2011 (1)
      • ►  Juli 2011 (1)

    Popular Posts

    • Usia Kepala Dua?
    • Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan
    • A Flashback to Senior High School: Kangen!

    Saya Bagian Dari

    Logo-Blogger-Perempuan-Network-round-7

    Aderation Project

    Untitled-design-20240826-113829-0000
    Facebook Instagram Pinterest Tumblr Twitter

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top