FaceBook Instagram TikTok Twitter

andhirarum

    • Home
    • Tentang Andhira
    • Product
    • _aderation project
    • _Kirana Creative


    Tumbuh di Blitar dengan segala rupa dan warnanya, membuat saya memiliki keinginan kecil untuk terus mengulik apa pun yang ada di Kota Patria ini. Dimulai sejak lulus kuliah di tahun 2017, hingga sekarang masih terus penasaran akan kota yang baru saja merayakan hari jadinya ke-118 tahun ini.

    Wisata adalah hal yang paling mudah dikulik dari suatu kota, tak ketinggalan juga dengan Kota Blitar. Selain Makam Bung Karno, ada satu wisata religi yang menurut saya jadi salah satu wisata terbaik yang dimiliki kota ini. Masjid Ar-Rahman, masjid yang kini menjadi daya tarik wisata religi dari Kota Blitar sejak akhir 2019.

    Masjid Ar-Rahman: Lokasi Strategis di Tengah Kota


    Masjid yang terletak di Jalan Ciliwung No. 2, Kota Blitar ini merupakan masjid yang cukup baru. Berdiri sejak akhir 2019, yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur kala itu, Ibu Khofifah. Lokasinya yang cukup strategis; berada di tengah kota yang dekat dengan Stadion Supriyadi dan PIPP, membuat masjid ini banyak dikunjungi para wisatawan yang tertarik akan keelokannya yang sudah tersohor.


    Saya cukup beruntung tatkala rumah saya sangat dekat dengan Masjid Ar-Rahman. Tak kurang dari 1 kilometer, ditempuh dengan jalan kaki pun sudah sampai. Beberapa waktu lalu saya adakan waktu untuk kembali mengunjungi, sekaligus penasaran akan perkembangan yang ada di sini, yang setiap tahunnya selalu ada perubahan baru.

    Masjid Ar-Rahman: "Masjid Nabawi"-nya Blitar


    Sejak pertama kali kunjungan saya ke sini di tahun 2020 (atau 2021, ya? Saya lupa, wqwq) saya selalu terpesona dengan desain, arsitektur, dan interior dari masjid ini, karena dibuat sedemikian rupa hingga persis dengan Masjid Nabawi, Madinah. Dari cerita yang pernah saya dengar, pengunjung diharapkan dapat merasakan nikmat dan nyamannya ibadah layaknya beribadah di Masjid Nabawi.


    Saya menuju ke arah utara, koridor Fatimah Az-Zahra untuk menitipkan alas kaki di loker yang sudah disediakan. Takmir Masjid Ar-Rahman benar-benar sigap membantu mengarahkan, juga tegas dalam mengingatkan pengunjung untuk tetap menjaga ketertiban, kerapian, ketenangan, dan kesucian masjid. Untuk laki-laki dapat menuju koridor selatan, yang dipandu oleh takmir laki-laki.



    Setelah menitipkan alas kaki, saya baru leluasa untuk melihat-lihat area masjid. Kebetulan saat itu saya sedang tak ada jadwal apa pun, dan kok ya pas tidak ramai (kalau sudah siang hari mulai padat merayap), jadi lebih nyaman untuk membidik sudut-sudut yang ada di sini.

    Di awal kedatangan, saya disambut oleh gapura depan yang dibuat seperti Gerbang Makkah yang ada di Jeddah, Arab Saudi. Seingat saya, "Gerbang Makkah" Masjid Ar-Rahman ini dibangun tidak di tahun yang sama dengan peresmian masjid, antara 2022 awal atau pertengahan, bebarengan dengan pembangunan perluasan masjid. Pokoknya 2023 sudah jadi, ahahahaha. ~XD



    Lalu yang membuat saya salah fokus setelahnya adalah payung-payung yang tegak berdiri di area teras, yang mana dibuat persis dengan desain payung raksasa di Masjid Nabawi. Hanya saja, payung di Masjid Ar-Rahman ini tak bisa menutup seperti yang ada di Masjid Nabawi. Pengunjung akan ternaungi dan tidak merasa kepanasan, sehingga tetap nyaman untuk berada di area teras.




    Fasilitas di Masjid Ar-Rahman: Utamakan Kebutuhan Pengunjung


    Berada di Masjid Ar-Rahman selalu membuat damai (bila sepi, WAKAKAKA). Ini yang sering kali saya rasakan apabila ada kesempatan beribadah di sini. Cukup sering berkunjung dari masjid ke masjid besar yang ada di Kota Blitar, saya berani masukkan Masjid Ar-Rahman dalam daftar masjid terbaik yang ada di Kota Blitar.

    Pengunjung dapat duduk lesehan dan berfoto santai di area depan, dengan latar belakang yang setiap tahunnya ganti-ganti. Kunjungan kali ini saya dapat foto berlatar masjid yang ada dua orang di samping kanan-kiri. Tahun lalu saat mengajak kakak sepupu ke mari, kalau tidak salah ingat latar belakangnya ada unta.




    Awal-awal datang ke mari setelah renovasi tahun lalu, saya kira tak boleh duduk lesehan di sini. Jebul malah saya bisa duduk lesehan sambil ngopi santai, ahahaha. Beberapa waktu sebelum kunjungan ini, saya dapat undangan bertemu teman yang kebetulan takmir Masjid Ar-Rahman, yang mana dapat banyak cerita tentang tempat ini. Salah satunya ya saya baru tahu bila di Masjid Ar-Rahman, pengunjung dapat duduk santai di area depan sambil makan, ngopi, bahkan ada yang bawa karpet sendiri, doongggg! Benar-benar wisata murah meriah penuh pahala. ~XD




    Pengunjung yang datang ke mari sangat beragam. Mulai dari balita, remaja, dewasa, hingga lansia. Takmir tidak membatasi, hanya saja pengunjung harus benar-benar menjaga kesucian, kebersihan, dan ketertiban saat di masjid.

    Di sebelah selatan teras terdapat fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis yang meliputi tensi, BB, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Pengunjung yang berminat bisa langsung melipir ke mari. Teman-teman saya beberapa waktu lalu dapat kesempatan periksa di sini, dan merasakan banget manfaatnya.





    Selain itu, ada fasilitas minuman air putih, teh, jahe, dan kopi yang disediakan secara gratis oleh masjid untuk para pengunjung, dan bisa minum sepuasnya! Benar-benar dibuat nyaman dalam berkunjung ke mari. Bahkan bila hari Jumat ada makanan khusus untuk jemaah yang salat Jumat di sini. Ramadan pun disediakan makanan berbuka untuk jemaah yang salat dan berbuka di Masjid Ar-Rahman. Benar-benar definisi masjid terbaik yang bikin nyaman beribadah.



    Masjid Ar-Rahman, Kota Blitar: Bikin Nyaman dan Betah Beribadah


    Memasuki pelataran teras bagian dalam, disuguhkan pemandangan yang menenangkan. Tempat yang lapang dan luas, dengan beberapa sudut yang terdapat beberapa Alquran dan tumpukan buku yasin. Biasanya bila Ramadan tiba, tempat ini penuh dengan jemaah perempuan.






    Tempat wudu disediakan di bagian depan dan belakang, dengan tempat yang luas, nyaman, dan bersih. Kemarin sempat intip yang bagian depan. Tempatnya nyaman banget dan pastinya tertutup, sehingga aurat pengunjung perempuan tetap terjaga.



    Fasilitas mukena juga disediakan aksesnya di ruang belakang dekat tempat wudu. Pengunjung dapat meminjam alat salat setelah wudu, dan nantinya bisa dikembalikan setelah selesai ibadah di tempat yang sudah disediakan. Mukena dijamin wangi, bersih, dan suci, karena memang dijaga betul-betul oleh pengurus masjid. Tidak salah bila masjid ini jadi kesayangan banyak orang. :"))

    Salat di dalam ruangan juga membuat betah beribadah lama-lama. Dengan pendingin ruangan yang terus berembus, bersih, rapi, juga karpet yang membentang dari utara ke selatan, membuat jemaah semakin nyaman. Hal lain yang jadi sorotan adalah bau ruangan yang harumnya persis dibuat seperti harum di Masjid Nabawi. Saya belum pernah ke Masjid Nabawi sih, namun dari penuturan teman dan pengurus masjid sana memang wanginya dibuat sama, bahkan diimpor dari sana (kalau enggak salah). Agar pengunjung bisa merasakan bagaimana nyamannya suasana salat di Masjid Nabawi.





    -------------------------------------------------------

    Kalau sedang mampir ke Blitar, wajib masukkan Masjid Ar-Rahman sebagai destinasi wisata yang harus dikunjungi! Kalau kamu, wisata religi mana yang jadi favoritmu? Tulis ceritamu di kolom komentar, yaaa!

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    BPN Ramadan Blog Challenge 2024.
    Continue Reading

     


    Baru sadar kalau bulan Oktober ini, wisata di kota saya sudah mulai dibuka untuk umum. Saya yang notabene memang sudah merindukan suasana tempat wisata, langsung membuat rencana mengagendakan wisata ke sana ke mari. Namun apa daya, waktu ternyata tidak berpihak kepada saya (ceileh, bahasanya sok puitis banget, ya? Hahahahaha ~XD). Pingin wisata, tapi waktunya nggak ada wkwkwk. Nasib jadi orang sok sibuk. ~XD

    Jebul ndilalah, ternyata ada waktu satu hari di pagi hari buat piknik tipis-tipis. Asyiiiik, akhirnya! Berhubung waktu kosong yang saya punya hari itu tidak terlalu banyak, jadi saya memilih tempat wisata yang dekat dengan rumah, agar tidak membuang banyak waktu saat perjalanan (meski pada dasarnya saya sangat menyukai perjalanan, haha.). Akhirnya, saya pilih Kebun Rojo, wisata kebun rakyat yang ada di tengah Kota Blitar.


    Lokasi dan Tiket Masuk Kebun Rojo, Wisata Kebun Rakyat Blitar

    Kebun Rojo terletak di Jalan Diponegoro, Kota Blitar. Di mana jarak tempat wisata ini dengan rumah saya cukup dekat, tidak sampai 5 kilometer. Yah, mungkin hanya ditempuh 5 menit saja, hahaha. Saya di sini mengajak partner saya, yang kebetulan doi juga bisa mengadakan waktu untuk menemani saya berpiknik ria, hahaha. Kebetulan juga kami belum pernah piknik bersama, dikarenakan tempat wisata semua pada tutup karena PPKM, wkwk. Jadi baru pertama kali ini nih kami piknik! ~XD


    Tiket masuk ke Kebun Rojo ini nol rupiah alias gratis, teman-teman! Wisata yang murah meriah sekali, bukan? Cukup hanya bayar parkir saja (sekitar Rp3000 untuk sepeda motor), sudah bisa menikmati fasilitas yang disediakan oleh tempat wisata ini. :D


    Wajib Menjaga Protokol Kesehatan dan Check-in Menggunakan PeduliLindungi

    Meskipun di kota saya sudah PPKM Tingkat 1 dan memasuki era new normal, tetap saja protokol kesehatannya tidak boleh kendor. Saat piknik kemarin, wisata ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat; wajib menggunakan masker, cek suhu badan, dan juga wajib mencuci tangan sebelum masuk ke tempat wisata. Alhamdulillah, saya dan partner juga sudah vaksin lengkap, jadi tidak terlalu khawatir ke mana-mana.


    Oh iya, kemarin juga baru pertama kalinya saya check-in menggunakan PeduliLindungi. Lumayan mudah dan tidak terlalu ribet. Cukup isi nama dan NIK, serta memindai barcode Kebun Rojo. Begitu pula saya check-out, cukup dengan memindai barcode saja. :D


    Kebun Rojo, Wisata di  Pusat Kota dengan Suasana yang Sejuk

    Alasan saya memilih Kebun Rojo sebagai tujuan wisata saya kali ini adalah, selain memang dekat rumah, tempat ini juga terkenal akan kesejukannya. Menjadi oase di tengah hiruk pikuknya kota. Kebetulan juga saya juga sedang butuh tempat yang adem-adem seperti ini, hahaha. Kalau bahasa anak millenial dan generasi Z sekarang sih, healing. ~XD


    Partner jalan-jalan, wqwqwq. Alhamdulillah, sekarang kalau jalan-jalan sudah tidak sendiri lagi ahahahahaha. ~XD

    Kemarin saya ke sini masih pagi, jadi suasananya tidak terlalu padat dan suasana sejuknya terasa banget. Menyenangkan sekali.  :D


    Wisata Ramah Anak dan Sebagai Sarana Edukasi

    Selain terkenal dengan suasananya yang sejuk, Kebun Rojo ini juga kondang akan tempat wisata yang ramah anak. Ini dibuktikan dengan ketersediaan fasilitas permainan untuk anak, mulai dari ayunan, jungkat-jungkit, patung hewan yang bisa dinaiki, hingga berbagai permainan motor dan mobil-mobilan. Cukup banyak anak kecil yang saya temui kemarin, menikmati fasilitas permainan yang ada di sini. Orang tua pun tidak perlu susah payah dan jauh-jauh mencari tempat wisata yang ramah untuk anak. Hahaha. Saya yang bukan anak kecil lagi ini senang bermain ayunan di sini, loh. Seru, soalnya. ~XD





    Di taman ini juga terdapat beberapa jenis hewan dan tumbuhan yang masing-masing jenisnya diberi label nama dan informasi lengkap tentang hewan dan tumbuhan tersebut, yang mana dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi untuk anak-anak mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Jadi paket lengkap deh kalau ke Kebun Rojo, bermain sambil belajar. Saya juga belajar banyak tentang hewan dan tumbuhan loh di sini. :D




    Foto favorit dan paling lama ngambilnya, karena nunggu si Merak hadap ke kamera dulu, hahahaha. ~XD


    Tips Wisata ke Kebun Rojo di Kala Pandemi

    Karena saya wisatanya sedang ada di masa pandemi, mungkin tips-tips ini juga bisa diterapkan untuk teman-teman yang akan berkunjung ke Kebun Rojo saat pandemi:

    1. Wajib memakai masker dan menjaga protokol kesehatan. Juga, jangan lupa untuk menyiapkan aplikasi PeduliLindungi untuk check-in dan check-out dari lokasi

    2. Pilih waktu yang tepat. Kalau menurut saya sendiri sih saat pagi hari jam 8 pagi atau sore hari jam 3 sore. Tapi mengingat bulan Oktober sudah memasuki musim penghujan, saya sarankan untuk mengunjungi lokasi ini sebelum jam 1 siang, karena hujan di sini biasanya mulai jam 1 siang.

    3. Bawa bekal dan alas duduk sendiri, agar terasa piknik yang sesungguhnya, hahaha. Sebenarnya ini opsional, sih. Kemarin saya juga tidak membawa bekal banyak dan tidak membawa alas duduk. Tidak jadi masalah, karena di Kebun Rojo disediakan banyak sudut-sudut tempat duduk yang nyaman.

    4. Pastikan tetap terhubung dengan internet untuk update status dan story di media sosial! ~XD

     

    Berhubung saya anak konten banget, saya memastikan untuk tetap tersambung dengan internet agar mudah jika mengunggah konten langsung ke media sosial. Saat di Kebun Rojo kemarin, saya memakai provider Smartfren untuk tetap terhubung dengan internet. Pas banget nih, sekarang ada Program Mystery Box #OktoBERHADIAH. Membuat saya makin semangat untuk mengumpulkan SmartPoin dan menukarkannya dengan berbagai hadiah yang ditawarkan. :D



    Oh iya, hadiah yang ditawarkan juga beragam, loh. Mulai dari paket data, pulsa, fashion, beauty, voucher makanan, dan masih banyak lagi. Caranya pun cukup mudah, tinggal install aplikasi MySmartfren dan kumpulkan SmartPoin dari transaksi pembelian pulsa, kuota, atau juga bisa mengumpulkan poin dari bermain game POP Quiz dan Stratch2Win. Gampang banget, kan?

     

    Program Mystery Box #OKTOBERHADIAH ini berlaku mulai tanggal 18 Oktober 2021 hingga 31 Oktober 2021 saja! Pastikan jangan sampai ketinggalan, ya! Selamat mengikuti programnya, teman-teman! :D

     

     

    Continue Reading

     


    Pandemi masih berlangsung hingga saat ini, namun saya yang notabene suka jalan-jalan dan keluyuran ini sudah rindu sekali dengan liburan, utamanya liburan di alam bebas. Hingga pada akhirnya ada edaran dari pemerintah bila wisata sudah buka (namun tetap memerhatikan protokol kesehatan), saya pun turut senang, namun juga tetap waspada ketika nantinya ingin berlibur di tempat wisata. Saya juga memilih tempat yang masih satu kota dengan tempat tinggal saya, bila luar kota pun saya memilih yang dekat-dekat saja, masih belum berani jauh-jauh, hihi.

    Kemarin, si Bapak tiba-tiba mengajak saya beserta Ibu dan Adik untuk kondangan ke daerah Serang, yang masih masuk dalam wilayah Blitar. Saat itu waktu menunjukkan masih siang hari, yang mana rencananya akan berangkat sore hari. Entah mengapa saya tiba-tiba kepikiran melobi Bapak untuk sekalian mampir ke Pantai Serang, yang mana lokasinya cukup dekat dengan rumah saudara saya yang akan saya kunjungi nanti. Ternyata usulan saya ini diterima oleh Bapak, dong! HAHAHAHA. Saya pun segera mempersiapkan diri, membawa sandal cadangan untuk main ke pantai, kendati pakaian saya nantinya tetap memakai baju kondangan, wkwk.


    Perjalanan Menuju Pantai Serang, Blitar

    Lokasi Pantai Serang ini berada di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Di mana waktu tempuh dari rumah saya menuju pantai ini mencapai 1 jam. Kemarin saya mengambil rute Kota Blitar – Kanigoro – Jegu – Margomulyo, ikuti anak panah ke arah Pantai Serang. Bisa juga apabila lewat perempatan Lodoyo ke timur, lebih mudah jalannya, hehe.

    Perjalanan kemarin terpantau lancar tanpa ada kemacetan dengan akses jalan yang sudah cukup bagus, meski ada beberapa lubang di beberapa titik jalan. Wajar sih, namanya juga jalan umum, apalagi daerah sini juga dilewati dengan kendaraan muatan besar. Harus lebih waspada dan hati-hati.


    Pantai Serang, Pantai Blitar dengan Bentang Pantai yang Panjang

    Kami sampai di sana sekitar pukul 5 sore, setelah sebelumnya mampir sebentar di rumah saudara. Cukup sore, tapi menurut saya ini waktu yang pas sekali. Kami sampai dengan suasana pantai yang masih terlihat cukup ramai, namun tidak membludak. Mengingat waktu yang menunjukkan menjelang magrib.


    Pantai Serang termasuk dalam jajaran pantai dengan bentang pantai yang panjang. Termasuk salah satu dari tiga pantai dengan bentang pantai terpanjang di Blitar selain Pantai Jolosutro dan Pantai Pasur. Dengan bentang pantai yang panjang ini, Pantai Serang memiliki ombak yang cukup besar, jadi tidak disarankan untuk berenang.


    Pantai Serang memiliki pasir berwarna hitam. Itu sebabnya tidak disarankan untuk melepas alas kaki ketika siang hari, karena pasir terasa panas. Pernah saya mencoba nekat melepas alas kaki di pantai berpasir hitam (tapi bukan Pantai Serang), rasanya kaki saya seperti terbakar! Hahahaha. Langsung kapok, tidak mau melepas alas kaki lagi. ~XD


    Menikmati Sunset di Pantai Serang untuk Pertama Kali

    Tujuan saya memilih untuk berkunjung ke Pantai Serang saat sore hari adalah saya ingin merasakan sensasi menikmati sunset alias matahari tenggelam di pantai ini. Iya, meski saya sudah main-main ke pantai ini beberapa kali, saya belum pernah mantai ke sini hingga malam hari karena takut akan balik ke rumah nanti bagaimana, mengingat kondisi jalan yang cukup gelap dan ada beberapa titik yang berlubang. Nah, mumpung ke sini bersama keluaga, jadi sekalian saja milih sore hari. Plus dipastikan juga aman, karena bersama keluarga. Huahahaha, kondangan bonus piknik ini ceritanya. ~XD

    Tidak salah bila ada yang mengatakan bahwa Pantai Serang memiliki spot sunset terbaik di pantai Blitar, karena memang sebagus itu! Huhuhu. Saya sampai tidak berhenti untuk mengagumi langit dan mengucap puji-pujian dalam hati karena langitnya sedap sekali dipandang. Menyegarkan mata dan menenangkan jiwa, utamanya bagi penyuka sunset.



    Langit tanpa edit. Masyaa Allaah :''))))))

    Fasilitas yang ada di Pantai Serang, Blitar

    Pantai Serang sudah dikelola dengan baik oleh warga setempat, terbukti dengan adanya fasilitas yang lengkap, mulai dari kuliner, musala, toilet, hingga fasilitas hiburan lain seperti ATV yang bisa disewa. Kemarin saat sore hari ternyata masih cukup banyak orang yang menyewa ATV ini. Memang paling menyenangkan jika menyusuri pantai dengan menggunakan ATV, karena bentang pantainya cukup panjang. Lumayan membuat kaki gempor, hahaha.

    Warung makan di Pantai Serang

    Penyewaan ATV di Pantai Serang

    Tiket masuk ke Pantai Serang sendiri saya kurang tahu, kemungkinan berkisar antara Rp5.000,- hingga Rp7.000,-. Saya kemarin masuk tanpa membayar, karena saya datang sudah sore hari. Biasanya kalau sudah menginjak pukul 16.00 sudah tidak ada petugas penjaga tiket, sih. :D


    Serang Culture Festival, Acara Tahunan Pantai Serang, Blitar

    Satu hal lain yang membuat saya harus mengunjungi Pantai Serang setidaknya setahun sekali adalah adanya acara Serang Culture Festival, yang mana acara ini diselenggarakan setiap tahunnya di bulan September. Di mana acara Serang Culture Festival ini memiliki beberapa rangkaian acara, yang diadakan selama satu bulan lamanya. Di antaranya ada Festival Layang-layang, Festival Patung Pasir, Pelepasan Tukik, Serang Beach Jazz Festival, Serang Fishing Festival, Serang Beach Keroncong Festival, dan biasanya ditutup dengan Serang Barong Festival.

    Serang Culture Festival 5, tahun 2019. Dua tahun silam. :D

    Saya rutin hadir di acara ini sejak Serang Culture Festival tahun ke-4, sejak tahun 2018. Biasanya saya hadir di pembukaan, saat Festival Layang-layang. Begitu pula untuk tahun selanjutnya, saya juga hadir di event yang sama. Untuk event Festival Layang-layang Serang Culture Festival, pernah saya tuliskan di postingan ini. :D

    Baca: Serang Culture Festival 5: Festival Layang-layang

    Sayangnya Serang Culture Festival ini harus terhenti untuk sementara sejak tahun lalu karena adanya pandemi. Semoga pandemi segera berakhir dan acara ini bisa dihelat kembali. Saya sudah rindu untuk mengabadikan momen-momen yang ada di acara ini. :’))))


    Merekam dan Mengabadikan Perjalanan dalam Bentuk Digital

    Berbicara mengenai mengabadikan momen dan perjalanan, saya pun ada dalam barisan ini. Yap, bisa dibilang saya anak konten, kendati saya tetap bisa menikmati setiap perjalanan karena hanya momen-momen tertentu saja saya memotret atau merekam. Hal ini saya lakukan karena saya anaknya gampang pelupa, hahaha. Jadi harus selalu siap sedia kamera untuk merekam momen-momen, utamanya ketika sedang jalan-jalan maupun kegiatan konten-able lainnya, ihi.

    Selain saya simpan di galeri handphone, biasanya saya juga mengunggah setiap momen yang saya rekam ke media sosial yang saya punya. Tentunya, untuk mengunggah konten-konten yang saya rekam dan saya buat ini saya membutuhkan provider yang oke punya. Pilihan saya tak lain dan tak bukan tentu saja jatuh kepada Smartfren GOKIL MAX!


    Smartfren GOKIL MAX ini dibekali dengan jaringan telekomunikasi Smartfren yang 100% 4G, dengan kuota mencapai 36 GB, yang mana kuota ini bisa digunakan di waktu pagi, siang, atau malam hari. Sepuasnya, di semua aplikasi, tanpa batas waktu~~ aku merindu~~ *lho, kok jadi lagunya Ikatan Cinta gini yak? ~XD*

    Yak, memanglah ini yang saya butuhkan sebagai generasi konten. Bahkan ada tambahan extra kuota sebesar 70 GB di jam 00.00 hingga 05.00 di semua aplikasi, loh! Benar-benar provider sahabar generasi konten banget, ya?

    Smartfren GOKIL MAX ini sudah bisa diperoleh di 144 kota yang ada di seluruh Indonesia, yang meliputi Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara, loh. Gokil!

    --------------------------------------------------------------

    Jangan lupa untuk tetap memerhatikan protokol kesehatan apabila sedang berwisata, ya! Sehat-sehat selalu untuk teman-teman di mana pun teman-teman berada. :D

    Bagi teman-teman yang penasaran dengan wisata Blitar, yuk yuk, sini silakan tanya-tanya, barangkali saya bisa membantu. Atau barangkali malah mau langsung wisata dan mengajak saya? HAHAHA. Langsung kontak saja, ya! :p

    Continue Reading


    Bersepeda adalah satu dari kegiatan yang akhir-akhir ini mulai saya gandrungi kembali gegara saya sudah punya sepeda baru (bukan karena lagi musim sepedahan seperti sekarang ini)! Hahaha. Ya sebenarnya nggak baru-baru juga, tetiba si Bapak bawa pulang sepeda punya temannya yang sudah tidak terpakai lagi. Daripada dianggurin, Bapak bawa pulang sepedanya dan diizinkan sama teman beliau hihi.

    Oke, dongeng tentang sepedanya nanti saja saya ceritakan di postingan lain.

    Kemarin Jumat, saya diajak salah satu teman mengopi saya, Mbak Tutut Yunita, untuk bersepeda santai tipis-tipis sore hari. Berhubung saya memang berniat untuk bersepeda, saya mengiyakan ajakan beliau, dan ternyata beliau ngajakin ke suatu tempat baru yang katanya saya bakal senang jika diajak ke sana (dan tempat yang tepat untuk berkonten ria, katanya). Oke, baiklah.

    Perjalanan santai menggunakan sepeda ini menempuh waktu sekitar 20 menit karena lokasi lumayan jauh dari rumah (ya sebenarnya juga nggak jauh-jauh amat sih, berhubung naik sepeda aja jadi kelihatan jauh). Sampai lokasi kebetulan juga tempatnya baru akan buka lapak, mbahahaha. Kami berdua pengunjung pertama pada hari itu, ceritanya.

    Sepedahan yang lumayan ngoyo saat itu. Bikin kembang kempis, mbhahahaha.

    Baru tahu ada tempat seperti ini di Blitar Kota bagian timur. Ningsih Galeri: Ngopi dan Vintage, nama tempanya (bukan Ningsih Tinampi, gaes. Tolong jangan salah baca). Lokasinya ada di Jalan Soedanco Supriyadi nomor 185, Kota Blitar. Masih dalam wilayah kota kok, meski agak timur sedikit sudah masuk wilayah kabupaten muahaha. Ngomong-ngomong nih ya, dari kemarin ngulas kedai kopi terakhir kenapa lokasinya selalu ada di perbatasan kota, ya? Hmm.....

    Baca: Waiki Coffee and Eat: Menyandingkan Kedinamisan Kultur Coffee Shop dengan Sajian Kuliner Nusantara


     Tampilan depan Ningsih Galeri: Ngopi dan Vintage. Berasa sedang berkunjung ke rumah nenek di desa.

     Tampilan depan Ningsih Galeri sudah terasa hawa-hawa vintage-nya.

    Kursi yang mencuri perhatian saya saat datang, yang belakangan saya ketahui ini beneran asli kursi jaman dulu, yang didapat dari Jawa Tengah.

    Beruntung sekali ketika datang ke tempat ini, saya dan Mbak Tutut Yunita –teman bersepeda saya hari itu sekaligus yang mengajak saya ke tempat ini— (dan kemudian ada teman blogger saya yang lain menyusul setelah magrib, Mbak Verwati Iriani) bisa bertemu dengan pemilik tempat unik ini. Mas Will, begitulah beliau biasa disapa. Mbak Tutut sudah bertemu dengan Mas Will ini sehari sebelumnya sih (karena udah nongkrong duluan di sini), jadi sudah kenal terlebih dahulu. Sedangkan saya baru bertemu dengan beliau pada hari itu. Tak lupa saya juga berkenalan dengan partner kerja beliau di sini, Mbak Sinta.

    Mas Will bercerita bahwa tempat ini buka kembali masih berjalan sekitar dua minggu. Sempat buka sebelum pandemi, namun saat ada berita semua kedai kopi dan kafe harus tutup untuk sementara, tempat ini juga ikut tutup. Baru buka kembali sekitar dua minggu yang lalu. Pantas saja saya baru ngeh, hahaha.

    Mengalirlah cerita dari Mas Will tentang tempat unik yang beliau dirikan ini. Diawali dengan mulai menjamurnya tempat tongkrongan di Blitar, Mas Will berinisiatif untuk membuka tongkrongan kopi juga. Namun agar menjadi pembeda dengan tempat lainnya, tempat milik Mas Will ini dihiasi oleh properti koleksi milik beliau pribadi mulai dari barang antik, barang klasik, hingga barang-barang vintage. Iya, beliau memang seorang kolektor, yang mana barang-barang yang beliau dapatkan ini rata-rata dari Jawa Tengah. Terlihat unik dan menarik, ya!

     Ruang depan Ningsih Galeri. Serasa ada di ruang tamu. Sudah disambut dengan barang-barang antik yang menyenangkan mata. Kursi yang digunakan juga menambah aura jaman dulu sekali. Ah, ya. Dulu saya sempat punya kursi ginian, wkwk.

     Mesin Ketik, telepon jaman dulu, mesin jahit, yang semuanya koleksi pribadi :D


     Kamera jadul juga ada di sini!

     Kamera jadul jenis lain dan sepatu roda yang masih jaman bertali.


     Setrika jaman dulu, yang panasnya bersumber dari arang. Hayo, dulu pernah lihat proses menyetrika menggunakan setrika ini, nggak? 

    Koleksi-koleksi yang beraneka ragam

    Dari Mas Will juga saya baru mengerti jika kuno, antik, klasik, dan vintage ini memiliki arti yang berbeda. Antik, barang-barangnya susah dicari, rentang waktu sekitar 1900-1950an. Klasik, pertengahan tahun 1950, identik dengan kayu dan besi. Sedangkan vintage, identik dengan besi dan plastik, rentang waktu sekitar tahun 1970-an. Saya kira jika ketiga kata ini sama artinya, hahaha.

     Berlanjut ke ruang tengah, yang juga menampilkan koleksi barang unik dan antik. Ada Radio, tempat minum perang, telepon kabel, koleksi uang lawas, termos, tumpukan buku lawas, bahkan ada teko lurik!

     Koleksi piringan hitam vinyl dan gambar khas Tionghoa dengan label toko pecinan Surabaya.

     Asli saya langsung excited ketika melihat ini! Ya ampun, rasanya seperti kembali di jaman dulu banget hahahaha :') ini kacang goreng yang dibungkus dengan kertas minyak, yang mana saya sudah mulai jarang menemui di Blitar.

     Koleksi kamera yang sukses membuat saya melongo, hahaha. Oh iya, di sini koleksinya juga dijual. Mas Will sempat bercerita ada koleksinya yang laku dibeli oleh sesama kolektor juga, haha.



    Tumpukan kaset, televisi lawas hitam putih, telepon, termos nasi, dan koleksi jam.

    Ningsih Galeri: Ngopi dan Vintage ini juga menyediakan menu makanan dan minuman, yang kesemuanya tidak ada menu diatas 10.000 rupiah. Memang tidak tersedia menu kopi kekinian sih, namun itu justru yang menambah keunikan tempat ini. Menu-menu yang tersedia ada kopi hitam, wedang uwuh, nasi kucing yang dibungkus dengan daun jati, menu mi instan, hingga terdapat juga menu camilan seperti tahu petis dan kacang yang dibungkus dengan kertas minyak. Benar-benar terasa makan di rumah nenek, haha.

     Menu yang memakai font ala mesin ketik, menambah kembali ke masa lalu.

     Menu nasi kucing dibungkus daun jati (IDR 5.000) dan wedang uwuh yang disajikan dengan cangkir lurik (IDR 7.000). Menambah suasana seperti makan di rumah nenek.

    Isinya lalapan sambal ijo, yang sambalnya cukup nampol di lidah saya yang tidak menyukai pedas ahahaha. Wedang uwuhnya juga enak! Bikin hangat saat musim bedinding seperti ini :D

    Sementara ini tidak ada WiFi di tempat yang unik ini. Justru bagi saya malah menambah kefokusan untuk eksplor dan mengamati tempat ini lebih banyak dan mendetail (dan foto-foto, tentunya!). Lebih menyenangkan lagi jika ke sini memakai kostum ala-ala klasik atau vintage, sekaligus menyesuaikan tema dan bonus foto, haha. Oh iya, tempat ini sudah pernah dijadikan tempat untuk pre wedding, loh!

     Ruangan ketiga alias ruangan samping ruang depan, yang membuat saya makin tercengang. Suasana klasiknya malah terasa banget di sini.

     Koleksi barang antiknya yang semakin beraneka ragam jenis. Huaaaa, saya tercengang!

     Biasanya tempat ini untuk timbangan ukuran ketika membeli minyak tanah. Masih mengalami jaman ini, nggak?

     Koleksi radio dan mesin tik yang cukup banyak.

     Telepon dan piringan hitam yang berjejer rapi. Yap, semuanya koleksi pribadi :D

     Tampilan keseluruhan dipotret dari belakang.

     Koleksi foto bangunan lawasnya Blitar, foto sebelah kiri merupakan perempatan Lovi jalan A. Yani (sampai sekarang tokonya masih ada, berupa apotek. Sedangkan foto sebelah kanan merupakan bangunan Dipayana, yang dulunya merupakan bioskopnya Blitar jaman dulu. Tapi Dipayana kini sudah nggak ada. Sayang sekali :'))

     Alun-alun Blitar (foto sebelah kiri) dan Kelenteng Blitar (foto sebelah kanan). Semuanya masih ada dan kini semakin bagus :D

    Koleksi uang lawas Indonesia.

    Kaleng Blue Band jaman dulu ternyata masih ada di sini. Saya, Mbak Tutut, dan Mbak Vera penasaran ini dulu produksi tahun berapa. Dicari-cari tapi nggak nemu tahunnya, hahaha.

    Overall, saya menikmati sekali tempat baru yang saya kunjungi ini. Sepertinya bakal menjadi basecamp nongkrong baru dengan teman-teman seperkopian duniawi. Akan kembali lagi ke sini dalam waktu dekat karena belum puas sama sekali, hahaha. Masih banyak yang perlu di-eksplor :D



    View this post on Instagram

    hey para sephiaaaa, terima kasih utk kemampirannya 😄 di sini #ningsih_gallery @tututyunita.s @andhirarum
    A post shared by @ m.will33 on Jul 3, 2020 at 7:05am PDT

    Jadi, gimana? Sudah cukup penasaran dengan tempat ini? Yuk, segera agendakan cussss bersama orang kesayangan!

    ------------------------------------------

    Ningsih Galeri: Ngopi dan Vintage

    • Lokasi: Jalan Soedanco Supriyadi no. 185, Sananwetan, Kota Blitar
    • Jam buka: 17.00-24.00 (Hari Minggu tutup)





    Love,



    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Holla!

    Untitled-design-2

    Saya Andhira A. Mudzalifa, seorang perempuan biasa di balik semua postingan di blog ini yang suka bercerita, makan, dan jalan-jalan.

    Menyibukkan diri di Aderation Project dan Kirana Creative .

    Untuk menyapa lebih lanjut, bisa menghubungi lewat surel di andhira(dot)dee(at)gmail(dot)com

    Terima kasih telah mampir ke tempat di mana saya menuangkan segala cerita! Selamat membaca dan menikmati :)

    Temukan Saya Di

    • facebook
    • instagram
    • twitter

    Teman-teman

    Label

    #AyoNulis #BPNRAMADAN2024 #BPNRamadan2020 #BPNRamadan2021 #CatatanDuaEmpat #DiRumahAja Aderation Project Beauty Bodycare Cooking Crafting DIY Informasi Jelajah Blitar Journey Jurnal Tahunan Kafe Kuliner Life Lovely Place Makeup Pantai Blitar Rekomendasi Review Scarlett Smartfren Thoughts Tips Travelling Vaksinasi Writing Challenge cerita jalan-jalan

    Arsip Blog

    • ▼  2024 (17)
      • ▼  November 2024 (1)
        • Kenal Lebih Dekat dengan SoFresh: Sabun Cuci Pirin...
      • ►  Oktober 2024 (1)
      • ►  April 2024 (6)
      • ►  Maret 2024 (9)
    • ►  2023 (3)
      • ►  Juni 2023 (1)
      • ►  Februari 2023 (1)
      • ►  Januari 2023 (1)
    • ►  2022 (3)
      • ►  Maret 2022 (1)
      • ►  Februari 2022 (1)
      • ►  Januari 2022 (1)
    • ►  2021 (51)
      • ►  Desember 2021 (2)
      • ►  November 2021 (1)
      • ►  Oktober 2021 (1)
      • ►  September 2021 (1)
      • ►  Agustus 2021 (3)
      • ►  Juli 2021 (1)
      • ►  Juni 2021 (1)
      • ►  Mei 2021 (17)
      • ►  April 2021 (17)
      • ►  Maret 2021 (4)
      • ►  Februari 2021 (2)
      • ►  Januari 2021 (1)
    • ►  2020 (55)
      • ►  Desember 2020 (1)
      • ►  November 2020 (2)
      • ►  Oktober 2020 (2)
      • ►  September 2020 (4)
      • ►  Juli 2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (4)
      • ►  Mei 2020 (22)
      • ►  April 2020 (11)
      • ►  Maret 2020 (1)
      • ►  Februari 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (48)
      • ►  Desember 2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (3)
      • ►  September 2019 (5)
      • ►  Agustus 2019 (3)
      • ►  Juli 2019 (2)
      • ►  Juni 2019 (1)
      • ►  Mei 2019 (6)
      • ►  April 2019 (3)
      • ►  Maret 2019 (9)
      • ►  Februari 2019 (11)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (10)
      • ►  Desember 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (2)
      • ►  Mei 2018 (3)
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (9)
      • ►  November 2017 (1)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  Juli 2017 (1)
      • ►  Mei 2017 (1)
      • ►  April 2017 (1)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (1)
      • ►  Januari 2017 (1)
    • ►  2016 (16)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (2)
      • ►  Oktober 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (2)
      • ►  Juni 2016 (1)
      • ►  Januari 2016 (4)
    • ►  2015 (4)
      • ►  Maret 2015 (1)
      • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  2011 (1)
      • ►  Juli 2011 (1)

    Popular Posts

    • Usia Kepala Dua?
    • Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan
    • A Flashback to Senior High School: Kangen!

    Saya Bagian Dari

    Logo-Blogger-Perempuan-Network-round-7

    Aderation Project

    Untitled-design-20240826-113829-0000
    Facebook Instagram Pinterest Tumblr Twitter

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top