Waiki Coffee and Eat: Menyandingkan Kedinamisan Kultur Coffee Shop dengan Sajian Kuliner Nusantara

07.49.00



Berawal dari rasa penasaran akan postingan instagram story teman yang memotret sebuah sudut kedai kopi baru yang ada di Blitar, membuat saya mengagendakan untuk segera mengunjungi kedai kopi yang ada di daerah Blitar Kota bagian selatan ini. Tak terasa, sudah tiga kali ini saya berkunjung ke kedai kopi ini, dan saya malah lupa belum menulis ulasannya hahahaha. Oke, mari ditulis sebagai jurnal pribadi (dan buat isen-isen blog biar ada isinya, gitu).

Waiki Coffee and Eat, Kedai Kopi Baru di Sisi Selatan Kota Blitar

Berlokasi di Jalan Palem nomor 99 Rembang, Kota Blitar, kedai kopi ini berada di ujung selatan Kota Blitar, dimana tempat ini berada hampir di perbatasan antara Blitar kota dan Kabupaten Blitar. Bagi saya pribadi tak terlalu menjadi masalah, meski harus menempuh jarak yang lumayan hahaha. Toh juga terbayar dengan suasana kedai kopi ini, yang ternyata memang asyik dan menyenangkan.

Atap Waiki Coffee and Eat yang belakangan saya tahu ini merupakan icon yang menonjol dari kedai kopi ini. Saya abadikan foto ini ketika kunjungan yang ketiga kalinya.

Icon Waiki Coffee and Eat yang terpampang di depan kedai kopi. Menjadi salah satu spot foto. Pertama kali saya penasaran akan Waiki Coffee and Eat ini karena ada salah satu teman yang upload foto berlatar belakang icon ini hihi.

Saat pertamakali berkunjung ke kedai kopi ini (yang mana kala itu hari ketiga pembukaan kedai kopi), saya merasa beruntung. Pasalnya, saya bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan founder Waiki Coffee and Eat, Mbak Dipika Lauren dan Mas Daniel Bagas, dimana beliau berdua menyapa saya dan dua teman mengopi saya kala itu terlebih dahulu. Sebuah kesempatan bagi saya untuk mengulik lebih banyak dan lebih dalam lagi tentang kedai kopi ini (ya, saya selalu senang ketika berkunjung ke sebuah tempat baru dan bisa berinteraksi dengan pemiliknya langsung. Jadi tidak hanya untuk duduk, foto-foto, dan mecicipi saja).

Menyandingkan Kedinamisan Kultur Coffee Shop dengan Sajian Kuliner Nusantara

Mengalirlah cerita dibalik berdirinya Waiki Coffee and Eat dari Mbak Dipika dan Mas Bagas. Awal mulanya memang ingin mendirikan sebuah kedai kopi yang memiliki ciri khasnya sendiri, yang bisa menjadi pembeda dari kedai kopi lainnya di Blitar yang semakin menjamur. Akhirnya dipilihlah tema yang seperti diaplikasikan sekarang ini.

Waiki, yang dalam bahasa jawa sendiri merupakan sebuah ungkapan senang akan hal yang telah dinanti telah datang seperti ‘Wah, ini!’. Menjadi sebuah doa dan harapan bahwa kafe ini nantinya akan tumbuh menjadi sebuah ruang favorit yang dinanti sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, tempat menuangkan pikiran, maupun hanya sekadar tempat melepas penat untuk mengopi.

Salah satu spot foto, yang bagi saya ini menjadi icon utama dari Waiki Coffee and Eat.

Bagi saya pribadi, kedai kopi ini terlihat unik. Saya melihat bagaimana kedai kopi ini menyatukan antara idealisme dan hobi para founder, kultur coffee shop dan sajian kuliner nusantara, yang dikemas dan ditata secara apik. Ini terlihat jelas pada interior kedai kopi ini yang banyak dihiasi oleh pernak-pernik barang vintage, koleksi buku, dan miniatur sepeda, yang merupakan koleksi dari kedua founder.

 Icon utama dari Waiki Coffee and Eat, yang berisi pernak-pernik koleksi dari para founder



 Koleksi kamera lawas, atau saya dulu menyebutnya tustel. Hahaha. Kamu pernah difoto pakai kamera ini, nggak?

 Koleksi buku yang bisa dibaca di tempat. Bisa sebagai teman mengopi juga :D


Baru pertama kali ini saya mendapati ada zine di sebuah kedai kopi. Sebuah ide bagus yang menarik! Bisa lebih mendekatkan diri dengan pengunjung dan penikmat kedai kopi ini :D

Nilai plus dari kedai kopi ini adalah kursi yang dipakai tidak paten alias mudah untuk digeser-geser, yang mana hal ini membuat saya lebih mudah untuk menyesuaikan duduk yang nyaman bersama teman. Ini juga termasuk salah satu hal yang diimpikan oleh Mbak Dipika dan Mas Bagas untuk membangun sebuah kedai kopi tanpa ada batasan ruang yang menjadikan sekat untuk berkumpul, bertukar ide, berdiskusi, maupun hanya sekadar untuk berkeluh kesah bersama teman-teman.


 Nilai plus dari kedai kopi ini adalah kursi yang geser-able alias mudah buat digeser-geser alias nggak paten. Lebih mudah untuk menyesuaikan :D



Di beberapa sudut kedai kopi ini juga terdapat tulisan-tulisan yang unik dan anti mainstream. Pemilihan diksi yang tidak menye-menye dan terkesan nggak puitis, membuat saya tertarik untuk mengabadikan tulisan-tulisan yang terpatri di sudut-sudut kedai ini.







Ruang Redam: Memberi Kenyamanan dan Memicu Kegelisahan dalam Waktu Bersamaan

Hal yang mendasari saya untuk segera mengunjungi Waiki Coffee and Eat ini adalah adanya Ruang Redam, yang pada awal pembukaan lalu menampilkan instalasi audio visual dan cahaya yang berkolaborasi dengan Mosh Museum, salah satu instalasi audio visual yang berbasis di Yogyakarta. Saya yang penasaran akan instalasi audio visual ini (yang baru pertama kali saya tahu di kedai kopi Blitar) langsung berencana untuk berkunjung. Beruntungnya, saya masih bisa menikmati penampilan audio visual ini dikarenakan pada saat kunjungan saya yang pertama kali itu merupakan hari terakhir instalasi audio visual ditampilkan.



Bagi saya yang memang penasaran sejak awal tentang audio visual seperti ini sangat menikmatinya. Apalagi instalasi ini hanya satu-satunya yang saya ketahui di Blitar (bahkan diadakan di sebuah kedai kopi, pula). Menarik!




Bonus saya ikutan nampang huahahaha. Awalnya ingin kayak foto siluet ala-ala, tapi nggak jadi. Meh -_-

Tak Hanya Tersedia Menu Kopi

Seperti yang saya ceritakan di awal postingan, bahwa kedai ini tidak hanya tersedia menu kopi-kopian saja. Mulai dari menu susu dan non kopi, menu teh dan squash, makan santai alias camilan, hingga makanan berat yang merupakan kuliner khas nusantara dimana saya jarang menemui sebuah kedai kopi yang juga menyediakan makanan berat sebagai teman mengobrol.

Dibandrol dengan harga mulai dari 4000 rupiah untuk camilan santai dan 13000 rupiah untuk minuman, kedai kopi ini masih cukup terjangkau untuk daerah Blitar.


Beberapa kali ke sini, saya mencoba 3 menu yang cukup membuat saya penasaran, diantaranya Waiki Signature, Waiki Palma, dan Nasi Gandul. Overall, semua menu ini cocok di lidah saya.


Jika sedang bingung menentukan apa yang harus saya coba, saya selalu memesan menu khas atau signature menu dari kedai kopi atau kafe yang sedang saya kunjungi. Untuk kunjungan pertama ini, saya mencoba Waiki Signature (IDR 15.000), yang merupakan es kopi susu dengan citarasa irish (perpaduan rasa krim, kacang, cokelat, dan vanila), masala (racikan khas india yang berbentuk seperti rempah), dan cinnamon. Rasanya unik dan nge-blend banget di lidah saya! Es kopi susu bercampur dengan rempah-rempah. 



Saya juga sempat mencoba Nasi Gandul (IDR 20.000), yang merupakan kuliner Indonesia khas Pati, Jawa Tengah. Dimana saya belum pernah menemukan menu ini di Blitar. Semacam soto santan, yang isinya ada jerohan daging sapi bersanding dengan emping dan irisan telur rebus. Disajikan di lemper, menambah rasa tradisional menu ini. Overall, cocok di lidah saya. Gurih santannya pas, bumbunya mantap.


Kunjungan terakhir di kedai ini, saya gambling lagi. Atas saran penyaji, saya dipilihkan Waiki Palma (IDR 15.000), yang merupakan es kopi susu dengan gula palm (gula aren). Cocok untuk pecinta kopi susu yang menyukai kopi yang ramah lambung! Rasanya nge-blend antara kopi susu dan gula arennya.

------------------------------------------------------

Overall, kedai kopi ini bisa menjadi rekomendasi kedai kopi Blitar yang patut dikunjungi ketika ingin nongkrong. Mulai dari perkopian duniawi, camilan, hingga makanan berat tersedia di kedai ini. Jadi nggak perlu bingung jika kelaparan, langsung cuss pesan menu makanan yang tersedia :D

Sudah tertarik mengunjungi coffee shop ini? Yuk, agendakan berkunjung bersama orang-orang tersayang! Jangan lupa tetap memperhatikan protokol kesehatan, ya!

------------------------------------------------------

Waiki Coffee and Eat

Lokasi:
Jalan Palem nomor 99, Rembang, Kota Blitar

Instagram:

Tentang Kedai Kopi:
Salah satu rekomendasi menarik yang patut dicoba. Tempatnya nyaman, cocok untuk mengobrol, berdiskusi, berkeluh kesah, hingga mengerjakan tugas. Fasilitas ada kamar mandi dan tempat ibadah. Cukup lengkap.

WiFi:
Yes!



Love,



Andhira A. Mudzalifa

You Might Also Like

27 comments

  1. Yuk mari agendakan nongki laggiiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuukkk! Ditunggu tulisan barunya tentang kedai kopi ini juga, Kak! :p

      Hapus
  2. Interior yang menarik ada sepeda di dinding membuat kesan tersendiri bagi para penikmat Coffee.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang saya tahu interior di Blitar yang ada sepedanya masih kedai kopi ini saja, Mas :D

      Hapus
  3. Baru kemarin saya baca tulisan soal Blitar di blog mas Ikhwan yang bercerita mengenai makam Bung Karno, eh sekarang saya mampir ke blog mba Andhira yang ternyata tinggal di Blitar 😍 jadi tambah deh list saya if one day ingin ke Blitar, maybe bisa berkunjung ke coffee shop yang mba rekomendasikan 🀭

    Eniho, saya suka bangettt tulisan yang ada di dindingnya. Terlihat bagus and blend well sama interior ruangan in general 😍 furniture-nya juga kece yah, areanya juga terlihat luas. Hihihi. Saya memang kalau ke suatu tempat especially coffee shop atau resto, yang dilihat bukan makanannya melainkan interior ruangnya mba πŸ™ˆ jadi maaf komentarnya justru ke interior bukan ke makanan 🀣

    However, kalau dilihat dari menunya, harga masih bersahabat 😍 terima kasih untuk rekomendasinya ya mba, dan mohon maaf baru sempat berkunjung balik. Salam kenal dari saya πŸ˜πŸ’•

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaaah, ditunggu beneran loh kalau main ke Blitar! Kudu kontak saya nih :D hihihi

      Wkwkwkwk, sama nih Mbaaak. Aku juga paling suka kalau ngelihatin interiornya dulu daripada menunya XD ini yang ngebuat saya penaasaran sama kedai kopi ini, makanya niat banget ke sini sampai tiga kali biar nulisin rada detail hueheheheh.

      Yaaay, sama-sama ya Mbaaak! Salam kenal juga, Mbak Enooo :D saya langsung ngikutin blognya Mbak Eno, nih :D

      Hapus
  4. Kedai kopinya nyaman sekali kelihatannya! Bahkan dari foto aja, aku bisa merasakan nyamannya kedai kopi iniπŸ₯°

    Meskipun aku bukan penggemar kopi tapi aku selalu suka aroma dan kenyamanan yang ada di kedai kopi. Rasanya rileks banget.
    Apalagi di kedai kopi ini, banyak banget spot instagramable ya! Nggak heran kalau bisa jadi hits πŸ˜†

    Tulisan-tulisan di dindingnya juga nggak menye-menye, setuju banget! Malah keren dan kreatif banget dilihatnya hahaha.

    Jadiii, kapan ajak aku ke sana? #lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyaman, Kaak. Apalagi kalau pas lagi sepi gitu. Bakal nggak sungkan-sungkan kalau mau foto-foto hahaha. Ini aja aku nunggu sepi dulu baru berani foto-foto ruangannya :D

      Samaaaa! Makanya kalau ke setiap kedai kopi tuh selalu suka duduk di area bar kopi, sambil ngelihatin baristanya nyeduh kopi. Ada kenikmatan tersendiri :D
      Iyaaa, ini yang membuat aku tertarik ke kedai kopi ini, dan barang-barangnya vintage gitu loh :D

      Ahahahahaha, iya tuh. Tulisannya ini langsung bikin mata aku melek dan langsung mengabadikan semua tulisannya ~~XD soalnya jarang banget aku nemu tulisan ginian di kedai kopi daerah Blitar :D

      WAAAAAAAA, ayoook main-main dulu lah ke Blitaaaar! Nanti kuajakin main deeeeh :P

      Hapus
    2. Huahahah semoga baristanya nggak salting tuh dilihatin km πŸ˜†

      Bagus memang konsep kedai kopi ini. Homey dan vintage yaaa jadi nyaman berlama-lama di sana. Apalagi kalaj ada wifi kenceng 🀣

      Huahahaha terima kasih undangannya! Semoga suatu saat bisa main ke sana. Aminnn.

      Hapus
    3. Untungnya udah kebal hahahahahah :D *eh

      Banget Kaaak, WIFInya juga lumayan kok kalau aku kemarin nyoba. Mantap sih :D

      Aamiiin, ditunggu main-mainnya ke sini, loh :D

      Hapus
  5. Kedai kopi memang makin banyak, mungkin karena peminatnya juga banyak. Karena itu memang wajib tampil beda agar bisa bersaing seperti Waiki Coffe and Eat ini.

    Setelah ditelaah memang beda ya. Kedai kopi ini menyatukan antara idealisme dan hobi para pemilik nya, kultur coffee shop dan sajian kuliner nusantara, yang dikemas dan ditata secara apik.

    Harga kopinya juga biasa ya, rata rata kopi disini juga segitu. Cuma nasi gandul disini yang ngga ada.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak. Apalagi di Blitar sini juga semakin banyak kedai kopi. Aku pun kalau mengikuti perkembangan baru kedai kopi yang ada di Blitar itu pusing, soalnya hampir tiap bulan ada kedai baru yang dibuka hahaha.

      Waiki Coffee and Eat ini, jujur saja, aku langsung tertarik buat mengulas karena berbeda dari kedai-kedai kopi yang aku temuin di sini. Bahkan ini kayaknya kedai kopi baru yang pertama kukunjungi setelah masa karantina hihihi. Langsung niat buat mengunjungi karena tertarik dengan story teman-teman yang udah ke sini duluan.

      Kemarin niatnya mau coba Garang Asem, soalnya tertarik sama garang asem tapi ternyata udah kehabisan huhu. Akhirnya nyobain Nasi Gandul ini dan ternyata enak juga :D

      Hapus
  6. Konsep kafe ini kuat dan unik sekali. Mana ditambah dengan koleksi sang ownernya sendiri ya, jadi punya ciri khas tersendiri. Terkadang memang aku mengunjungi sebuah tempat bukan karena hidangan kopi atau makanannya (boong deng, yang utama itu emang pengen ngopi hahaha), tapi karena interiornya yang seolah-olah "berbicara" dan "bercerita" sesuatu pada pengunjungnya.

    Setelah pindah ke Bogor, aku banyak menemukan konsep kafe yang serupa di sini. Tempat kafenya mungil, tapi homey. Karena kafe-kafe di Jakarta itu banyak yang "sama", desainnya gitu-gitu aja, ada lampu neon berbentuk kaktus atau flamingo dan biasanya mengusung konsep "instagrammable". Akutu jujur bosen lho dengan gimik coffee shop yang "instagrammable", mohon maappp aja nih πŸ˜‚

    Btw, entah kenapa belakangan aku suka nemu postingan teman-teman blogger yang mengunjungi coffee shop lokal di beberapa kota Indonesia. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa menyambangi satu per satu tempat yang direkomendasikan, termasuk Waiki Coffee ini (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Janeeeeeee :D

      Betul banget Kak. Aku juga tertarik mengunjungi kedai kopi maupun kafe itu yang paling utama sekarang adalah interior yang berkonsep, yang membuat beda dengan kedai kopi yang lain. Soalnya kedai kopi udah semakin menjamur di sini, jadinya kalau nggak dibuat 'beda', kayaknya bakal gitu-gitu ajaa.

      Iya ya Kak, sekarang rata-rata desain kafe tuh hampir sama gitu loh. Nggak ada ciri khas yang menjadi pembeda. Rata-rata ya gitu-gitu aja, lebih menonjolkan 'instagram-able'nya huhu. Ya mungkin melihat pasar juga kali ya Kak :')

      Aminnnn, yuk Kak kalau main ke Blitar bisa nih mampir ke kedai kopi ini :D

      Hapus
  7. wah kebetulan minggu depan saya mau ke blitar
    dari stasiun jauh enggak mbak?

    kesengsem sama instalasi seninya
    futuristik
    harganya juga murdah juga
    bisa jadi referensi nih
    makasih infonya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, asik nih Mas main-main ke Blitar :D mau ke mana aja Mas?

      Tempat ini dari stasiun nggak terlalu jauh sih, mungkin sekitar 10 menitan. Tempatnya malah deket sama Terminal Patria, terminalnya Blitar :D

      Patut dicoba kalau main ke Blitar, Mas.
      Sama-sama, semoga membantu :D

      Hapus
  8. Duh aku kangen nongki 🀣 udah lamaaaaa banget nggak nongki. Ini cafenya lucu banget ya Diraaa.. ada quotes2nya di dinding. Aku pernah difoto pake tustel. Ih suka jadulan akuu. Andai dekeeeeut nih cafenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Uciii, lucu banget :D kemarin ke sini langsung tertarik buat mengabadikan karena berbeda dari kafe lainnya :D
      Waaah, pakai tustel sekitar jaman 2000an awal ini pastinyaaa :D
      Yuk Mbak kalau mau main ke Blitar bisa lah mampir ke siniiii :D

      Hapus
  9. Wah, di Blitar ya. Saya ke Blitar saja belum pernah. Paling dekat saya pernah ke Kediri atau Malang, itu pun di kotanya. Untuk ke kota Blitar pasti butuh waktu juga ya, karena kotanya ada di tengah-tengah kabupaten Blitar (kalau tidak salah).

    Dan nampaknya kesempatan berkunjung ke Blitar masih jauh karena sekarang ditambah lagi pandemi Corona, yang menyulitkan orang untuk bepergian ke luar kota.

    Tapi saya senang membaca ulasan waiki cafe ini, paling tidak dari foto-fotonya saya bisa membayangkan rasanya kalau berada di sana.

    Salam kenal ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Blitar kota sendiri ada di tengah-tengah kabupaten Blitar. Mungkin ke sininya membutuhkan waktu yang cukup lama :D wah, sudah pernah ke Kediri dan malang ya? Sekali-kali sekalian mampir Blitar, Mas :D

      Iya nih Mas, masih sulit buat bepergian ke luar kota. Di sini sementara kendaraan umum yang baru berjalan hanya bis saja. Untuk kereta sendiri masih area jawa timur, kalau jarak jauh masih belum bisa :'))

      Terima kasih atas apresiasinya, Mas Agung! Senang jika ulasan ini bisa membantu :D

      Salam kenal kembali, Mas :)

      Hapus
  10. PErnak-pernik kopinya keren banget
    Sangat salut dengan sang empunya Mbak Dipika dan Mas Bagas. Saya kok jadi ingin kenalan juga
    Harga kopi juga lumayan terjangkau
    Wah kalau dekat, sama mampir nih. Saya kan maniak pecinta kopi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini Mas, main-main ke Blitar! :D
      Harga kopi di Blitar lumayan terjangkau semua, Mas hehehe. Maklum, namanya aja kota kecil :D
      Ditunggu kedatangannya ke Blitar, Mas :D

      Hapus
  11. Dari merek coffee shopnya aja udah mentereng lho Mba! Waiki! Hehe, out of the box banget. Aku cukup terkesima sama interiornya sih kak, karena kebetulan aku bukan penggemar kopi, hehe. Interiornya itu bikin yang nongkrong pada betah yah pastinya. Gila, bisa sekeren itu penataannya. Apalagi harganya juga terjangkau banget. Sukses buat Waiki Coffeenya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awal mula yang membuat aku datang dan niat banget buat ngulas ya gara-gara tempatnya, Mbak. Berbeda dari kedai kopi lain yang pernah saya datangi, soalnya. Bikin betah jugaa :D
      Terima kasih, Mbak :D monggo mampir jika sedang berkunjung ke Blitar :D

      Hapus
  12. Aku juga arep isen isen kolom komentar blognya dhira sek ah, ahahah

    Waiki ! Kudu dicoba nih kede kopi
    Dari judul kedenya aja udah ngeh pasti iki bahasa jawa, e bener hehehhe

    Kursinya nonpaten bisa digeser2...oke juga sik
    Tapi emang klo ke kede mah tujuan utamaku mangan n medang hihi
    Jadi mata ini ntah mengapa langsung tertuju pada signature menunya (ngingetin aku sama kopi vietnam kasus sianida huahah), tapi ini unik ya, karena aku fokus ada masala rempah indianya

    Kalau nasi gandul, tadinya takpikir ada gandulnya loh, otu loh sayur pepaya muda, hihihi, ternyata bukan toh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakaka, matur nuwun, Mbaaaak :D

      Kudu dicoba Mbak kalai main ke Blitar, hihihi.

      Ya ampun, kopi sianida wkwkw. Aku malah baru ngeh lek kopinya itu vietnam hahaha :D
      Sama Mbak, aku tertarik signature-nya karena ada rempahnya ini :D

      Bukan Mbak. Ini jatuhnya kayak semacam soto jerohan gitu sih, pakai santen gitu :D

      Hapus
  13. Aku baru sekali ke Blitar, itupun udh agak lama dan cuma ke makam bung Karno :D. Trus balik lagi ke solo :D.

    Waktu kesana, kyaknya blm trend minuman kopi kekinian gini mba :D. Beda ya Ama skr , banyak bangetttt kafe kopi yg semua kayaknya menarik :D.

    Aku slalu suka kalo Nemu kafe kopi yg juga nyediain menu makanan. Ga cuma kopi Thok. Kayaknya kalo minum kopi itu, ga lengkap bangettt kalo ga pake cemilan ato makanan, yeee kaaaan :p. Kan enak, sambil isi perut, tapi ditemani segelas kopi latte :D.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan komentar di blog ini dengan bahasa yang santun, tidak spam, dan tidak mengandung SARA.

Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar di blog ini, ya! Saya senang sekali jika teman-teman meninggalkan komentar di tulisan saya ^_^

Mari menyambung silaturahmi dan berkawan :) (saya anaknya nggak nggigit, kok :D)