FaceBook Instagram TikTok Twitter

andhirarum

    • Home
    • Tentang Andhira
    • Product
    • _aderation project
    • _Kirana Creative

    Satu hal yang ditunggu-tunggu saat Ramadan tiba adalah adanya takjil yang hadir setelah berpuasa seharian. Takjil pun beragam bentuknya, ada yang manis, gurih, hingga pedas. Namun dari semua takjil yang ada, tetap yang manis dan segar yang jadi pemenangnya. ~XD

    Ngobrolin tentang takjil, belakangan ini cerita lucu 'perang' takjil kian santer beredar. Adanya perang antara kaum muslim dan non muslim dalam mencari takjil di bazar Ramadan cukup seru untuk diikuti. Kaum non muslim yang bahkan sampai bela-belain menghafal Rukun Islam, Rukun Iman, dan memakai jilbab, menjadi hiburan tersendiri yang mengocok perut. Kok bisa sebegitu hebohnya perkara pertakjilan ini, ahahaha.

    Saya hanya jadi penonton saja, tidak ikutan borong takjil atau marah-marah dengan non muslim ini. Justru membuat Ramadan tahun ini semakin berwarna dan terasa asyik. ~XD

    Takjil sendiri bagi saya hanya sekadar pembatal puasa saja. Tidak terlalu menggebu-gebu harus cari takjil seperti A, B, C. Tidak melulu makanan atau minuman yang manis. Bahkan sekadar air putih pun rasanya sudah cukup bagi saya pribadi. Beberapa tahun belakangan memang berusaha membiasakan diri untuk tak banyak konsumsi manis, apalagi saat Ramadan ini. Kecuali memang dapat undangan dan diberi suguhan manis untuk berbuka. Sebagai bentuk dari menghargai pemberi, hihi.

    Beberapa takjil di bawah ini adalah favorit saya bila diminta memilih. Bukan sok jadi sehat, tapi memang sedang berupaya ke arah sana meski masih tergoda untuk beli takjil gorengan, ahahahaha. ~XD


    1. Buah Kurma

    Meski sempat tidak tertarik di awal, namun setelah saya coba, termyata justru kurma penyelamat saya dari kelaparan yang melanda. Hanya memakan beberapa butir saja perut terasa kenyang. ~XD

    Zaman kuliah di Surabaya beberapa tahun lalu ada masanya waktu Ramadan tiba pergi ke Ampel untuk belanja kurma, kemudian jadikan kurma itu santapan takjil selama beberapa hari ke depan. Perut sudah aman sekali. Balada anak kos yang apa-apa harus hemat, ahahahaha. ~XD

    Sekarang jadi doyan makan kurma, meski hanya beberapa jenis kurma tertentu. Kurma yang basah dan lembut (apa ya namanya? Saya tidak terlalu paham huhuhu) adalah kurma favorit saya. Bisa kalap beberapa butir kurma. ~XD

    2. Buah Melon

    Buah melon jadi buah favorit untuk menu takjil, karena rasanya yang segar dan manisnya enggak berlebihan. Selain lebih sehat, karena kebutuhan seratnya diperlukan tubuh, menu buah ini kaya akan kandungan air, yang membuat tenggorokan terasa segar.

    3. Buah Semangka

    Sama seperti melon, menu semangka ini juga jadi menu favorit untuk takjil, karena kandungan airnya yang cukup banyak mampu menuntaskan rasa dahaga selama seharian berpuasa. Selain praktis, menu buah-buahan ini juga terasa lebih menyehatkan.

    Sekarang ini cukup jarang menemui buah-buahan sebaagai menu takjil berbuka puasa, rata-rata  sudah dalam bentuk minuman atau makanan. Padahal menu seperti ini justru malah membuat badan lebih sehat daripada gorengan.

    Yah, meski saya juga kalau disuguhi menu gorengan saat berbuka masih saya makan, sih. Hihihi. Eman-eman, soalnya.

    4. Air Putih

    Banyak yang mengira bila berbuka hanya menggunakan air putih pertanda bukan orang berada alias tak memiliki uang untuk cari takjil. Padahal bisa jadi memang ingin mengubah gaya hidup mengurangi asupan manis dari minuman. Salah satunya saya sendiri AHAHAHAHAHAH. T----T

    Memang agak sulit, apalagi di tengah undangan buka bersama yang langsung dapat takjil minuman manis. Harus tahu diri dan bisa mengontrol diri agar tidak kalap dan minum berlebihan. ~XD

    -----------------------------------------------------------------------------------

    Itulah empat takjil menyehatkan tubuh yang bisa kamu nikmati tanpa takut tubuh akan bertambah berat badannya. Semoga bermanfaat, ya!

    Kalau kamu, apa menu takjil favoritmu? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya!

    -----------------------------------------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    BPN Ramadan Blog Challenge 2024.
    Continue Reading


    Entah mengapa, acapkali memasuki bulan Ramadan keinginan beli jajan justru meroket di hari-hari biasa. Saya kira hanya saya saja yang merasakan, namun ternyata teman-teman saya pun. Scroll aplikasi antar makanan, atau sekadar jalan-jalan sore sembari ngabuburit. Tahu-tahu sudah dapat 1 kresek penuh, ahahaha.

    Beberapa tahun belakangan ini saya tak terlalu tertarik dengan belanja banyak jajan di rumah saat Ramadan. Cenderung memilih untuk berbuka dengan apa saja yang sudah disediakan. Berawal dari rasa bersalah saat telanjur beli jajan banyak-banyak karena lapar mata yang berujung tak habis dan jadi mubazir, akhirnya sekarang jadi cukup pemilih. Bila ada kesempatan mengabuburit saat beli jajan pun, saya sering kali hanya jalan-jalan saja cuci mata tanpa beli apa pun, heuheuheu.

    Berikut adalah jajan khas Ramadan yang cukup sering saya temui tatkala menghabiskan waktu jalan-jalan di pasar Ramadan:


    1. Kolak


    Kalau kolak ini sepertinya memang wajib dihadirkan saat Ramadan, karena kuahnya yang gurih manis dapat melegakan perut dan tenggorokan. Apalagi disajikan selagi hangat, wuih, makin mantap jiwa untuk dikonsumsi. ~XD

    2. Gorengan, Makanan Bakaran, dan Kudapan Kukus


    Gorengan, makanan bakaran, dan kudapan kukus jadi jajan khas Ramadan yang juga sering saya temui saat jalan-jalan di bazar Ramadan. Mungkin karena kepraktisan saat menyajikannya, murah meriah, ditambah rasa gurih yang menggoda, mampu menyelamatkan dari rasa lapar setelah seharian berpuasa.

    Gorengan sekarang pun bermacam-macam, tak hanya tahu, tempe, dan pisang goreng saja. Sekarang ada menu olahan ayam yang sedang viral, yakni Gohyong, yang kini mulai ramai orang berjualan. Menu bakaran seperti sosis, sate tahu, juga masih jadi primadona. Kudapan kukus seperti siomay dan yang sedang banyak diperbincangkan (alias sering lewat di beranda media sosial saya ahahaha), juga menu wonton.

    Duh, nulis ini jadi ngiler pingin beli HAHAHAHA.

    3. Es Buah


    Es Buah ini jadi menu andalan saat Ramadan. Apalagi sekarang ada es buah yang bermacam-macam isian, yang dibandrol dengan harga 5ribuan saja per cupnya. Murah meriah, sehat, namun tetap segar dan mengenyangkan.

    Menu es buah favorit saya tentunya adalah es blewah dan es melon, dengan sirup homemade yang aroma frambozennya sangat khas merebak. Aroma frambozen selalu mengembalikan ingatan saya ke memori masa kecil saat Ramadan, yang mana kala itu selalu semangat menunggu jam buka puasa hahahaha.

    Buah blewah dan buah melon adalah buah yang segar dan menurut saya yang paling cocok bila dipadukan dengan sirup aroma frambozen. Tekstur buahnya juga tak terlalu banyak kandungan air, sehingga tak gampang hancur bila dicampur dengan sirup ini.

    4. Sayur Terancam


    Sayur yang satu ini sering kali saya temui hanya saat Ramadan. Saya tak tahu pasti penyebabnya, namun dari analisis saya, ini karena sayur terancam merupakan sayur yang segar dengan bahan-bahan yang menyehatkan. Sayur terancam ini juga mudah dibuat dan praktis, bisa jadi pengganti sayur lain saat berbuka puasa.

    5. Es Teh


    Menu yang satu ini tentu tak luput dari daftar jajanan khas Ramadan, hahaha. Menu sederhana, mudah ditemui di mana-mana, namun kesegaran dan rasa khasnya mampu membuat mbasuh tenggorokan setelah berpuasa seharian.

    Racikan teh favorit saya adalah teh dengan kadar gula yang tak terlalu banyak, dengan aroma melati dan rasa sepat yang imbang. Dijamin, saya pasti akan kalap untuk menambah. ~XD

    ------------------------------------

    Tidak ada jajanan khas yang hanya hadir saat Ramadan, namun kelima jajanan di atas adalah kumpulan kudapan dan jajanan yang sering kali saya temui. Di kota saya pun tak ada kuliner khusus Ramadan, semuanya bisa ditemui sepanjang waktu. Heuheu.

    Kalau kamu, apa jajan khas Ramadan andalanmu? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya!

    -------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    BPN Ramadan Blog Challenge 2024.
    Continue Reading

    Sahur di bulan Ramadan sering kali menjadi momok bagi orang yang tak terbiasa bangun dini hari. Harus bangun pukul 3 pagi untuk makan agar kuat berpuasa seharian. Belum lagi anggota keluarga yang harus menyiapkan masakan (biasanya sih Ibu), selalu bangun sebelum anggota keluarga lain bangun untuk mempersiapkan makanan sahur.

    Tak jarang, banyak juga yang memilih untuk tak sahur karena tak terbiasa untuk melek sedari pagi. Padahal banyak sekali keberkahan yang diperoleh sewaktu sahur, karena salah satu waktu mustajab doa ada saat sahur. Momentum sahur pun tak dialami sepanjang tahun, hanya selama sebulan saja dalam setahun. Sedikit disayangkan bila harus terlewati. ~~

    Berbicara tentang makanan sahur, keluarga saya tak terlalu njelimet terkait makanan, apalagi makan sahur. Yang penting ada nasi dan lauk pauk yang bisa dimakan. Namun, sejak Ramadan tahun lalu, Ibu dan saya memiliki komitmen untuk perbanyak asupan sayur dan gizi seimbang, alias dalam piring harus ada nasi - sayur - lauk pauk. Meski masih ada gorengan dalam bentuk tahu, tempe, ayam, dan telur goreng, namun kandungan di dalamnya yang dibutuhkan alias protein. ~XD

    Beberapa menu sahur yang praktis dan pastinya sehat untuk dikonsumsi, bisa cek di bawah ini! Tentu ini berdasarkan dengan pengalaman saya pribadi, yang sedang berusaha membiasakan diri untuk konsumsi realfood di keseharian. :D

    1. Sayur Sop, menu sederhana kaya akan serat dan vitamin


    Sayur sop cukup sering menjadi menu utama keluarga saya, baik saat Ramadan maupun hari biasa. Ibu saya cukup telaten untuk membuat sayur sop, di saat banyak yang menjunjung tinggi makanan 'kering' karena lebih praktis. Ini juga karena permintaan saya pribadi yang harus tetap ada sayur WKWKWKW.

    Di bulan Ramadan ini, Ibu tetap mengusahakan ada sayur sop. Praktis, bahan-bahannya mudah ditemui, kaya akan serat dan vitamin yang baik untuk tubuh. Sebuah tip dari Ibu bila ingin lebih praktis, menyiapkan potongan sayur malam sebelum tidur. Agar saat bangun sahur, tinggal menumis bumbu dan masukkan sayur saja. Bumbu pun bila ingin disiapkan malamnya juga bisa banget, justru malah tambah praktis lagi. ~xD

    Estimasi waktu pembuatan: 15-20 menit.

    2. Tumis Kangkung, Tumis Tauge Tahu, Tumis Sawi: sayur andalan praktis yang menyehatkan


    Hampir sama dengan sayur sop, ketiga menu tumisan ini kerap hadir di meja makan saya di hari-hari biasa, sebagai selingan dengan sayur sop. Sahur untuk Ramadan hari kelima ini Tumis Tauge Tahu mulai menampakkan diri di meja makan. Menu yang menurut saya juga mudah dibuat, karena bahan-bahan yang diperlukan juga hampir sama dengan sayur sop. Hanya saja, kuah yang diperlukan tak sebanyak kuah yang ada di sayur sop.

    Tumis-tumisan ini jadi favorit saya, karena kebutuhan sayur saya tetap bisa terpenuhi. Belakangan, saya memang tak ingin ribet tentang olahan makanan. Bahkan rebusan sayur biasa tanpa bumbu pun sebenarnya tetap saya makan, asal kebutuhan serat saya dapat terpenuhi. Upaya untuk menjaga badan di bulan Ramadan agar berat badan tidak naik secara drastis dan tetap bugar, wkwk. Semoga seterusnya bisa tetap suka sayur!

    Jangan lupa untuk persiapkan bahan-bahan malam sebelumnya agar sat-set wat-wet, yaaa!

    Estimasi waktu pembuatan: 15-20 menit.

    3. Tahu, Tempe, Telur, Ayam: aneka lauk pauk kaya akan protein


    Lauk pauk menjadi hal wajib yang ada di piring saya. Mengikuti aturan Kemenkes yang menerapkan pola makan gizi seimbang dalam program "Isi Piringku", di mana dalam satu piring terdapat makanan pokok (karbohidrat), sayuran (memenuhi kebutuhan serat dan vitamin), lauk pauk (usahakan kandungan proteinnya cukup), dan buah. Khusus buah ini masih belum saya terapkan sepenuhnya, karena sering lupa buat belanja, HUHUHU. Sebab itulah saya perbanyak asupan sayur di piring saya. ~XD

    Lauk pauk yang biasa jadi andalan menu sahur praktis saya adalah lauk pauk yang memiliki kandungan protein. Tahu, tempe, telur, dan ayam, adalah 4 lauk yang silih berganti mewarnai hari-hari saya. Tak pernah bosan dengan keemoat menu ini, apalagi bila paham manfaatnya yang cukup baik untuk tubuh. Makin-makin kalap dalam konsumsi sumber protein ini. ~XD

    Saya masih belum begitu menerapkan clean eating dalam pola makan saya. Untuk lauk pauk ini masih saya goreng dengan minyak, hahaha. Masih belum bisa meninggalkan makanan gurih dan gorengan. Meski begitu, saya usahakan gorengan yang saya konsumsi ada kandungan protein di dalamnya, enggak hanya tepung-tepungan saja. Hihihi. ~

    Estimasi waktu pembuatan: 10-15 menit

    Untuk ayam goreng, jangan lupa marinasi terlebih dahulu sebelum tidur malam, agar bumbu lebih meresap.

    -------------------------------------------------

    Itulah ketiga masakan sahur yang bisa diadaptasi di rumah. Praktis, namun tetap menyehatkan, demi menjaga tubuh agar timbangan tak banyak bergeser ke arah kanan. Hihihi.

    Kalau kamu, menu sahur praktis apa yang kamu buat? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya!

    ----------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    BPN Ramadan Blog Challenge 2024.

    Continue Reading


    Ramadan sering kali dikaitkan dengan badan dan tenaga yang lemah, karena waktu mengisi energi hanya terbatas di dini hari dan setelah berbuka puasa saja. Padahal bila ditelisik lebih jauh, justru puasa ini menjadi ajang detoksifikasi diri terhadap apa yang dikonsumsi, baik bagi asupan tubuh, pikiran, maupun hati. Memilah dan memilih apa yang terbaik bagi diri. Sebuah investasi jangka panjang yang akan dirasakan manfaatnya sepanjang hidup.

    Tentang menjaga kesehatan diri, saya baru benar-benar sadar betapa pentingnya jaga tubuh sejak pandemi melanda. Di saat kawan-kawan lain di sekitar saya merasa timbangan bergeser ke arah kanan, saya justru sebaliknya. Yah, ini ada efek dari patah hati juga di akhir tahun 2019 yang membuat berat badan menyusut, kemudian puncaknya ada di pertengahan 2020. Benar badan saya ada di bawah 50 kg, namun itu tak membuat badan saya terlihat segar. Ibu saya bahkan mengatakan bahwa badan saya terlalu kurus yang terlihat seperti orang penyakitan kurang gizi. Mak jleb, namun saya lihat-lihat lagi kok benar adanya, awoakwoakow.

    Di tahun 2021 mencoba untuk perbaiki tubuh kembali. Apalagi saat itu saya mulai belajar nge-gym, jadi titik balik saya untuk mengulik tubuh yang saya tempati seumur hidup ini. Menyadari bahwa hanya punya satu tubuh tanpa cadangan, membuat saya tertampar untuk terus memperbaiki diri melalui pola makan, olahraga, dan pola hidup. Tentu saja tidak selalu konsisten di setiap harinya, hahaha. Namanya aja juga manusia. ~XD

    Hal yang harus disadari penuh sebelum memulai ubah pola hidup adalah memperbaiki pemikiran bahwa jaga kesehatan ini tak hanya untuk setahun dua tahun, namun sepanjang usia. Badan yang hanya satu-satunya, diupayakan untuk terus bugar agar mudah dalam beraktivitas, berdaya, berkegiatan ini itu tanpa banyak mengeluh jompo di usia muda. Yaps, di usia saya yang mendekati kepala 3 ini sudah banyak keluhan masuk dari teman-teman saya yang banyak bersahabat dengan obat-obatan, koyo, dan minyak karena badan lebih mudah lelah. :"))

    Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuh saat berpuasa (dan sedang saya upayakan setiap harinya) di antaranya:

    1. Menjaga asupan air putih yang masuk ke tubuh


    Hal penting pertama yang selalu saya jaga saat Ramadan adalah asupan air putih yang masuk ke dalam tubuh. Semua orang tahu bagaimana pentingnya air putih untuk badan. Hal inilah yang sedang saya upayakan untuk tak lupa mengutamakan air putih saat sahur dan berbuka puasa, alih-alih menggantinya dengan minuman manis yang berkafein.

    Iya, sejak tahun lalu saya mulai mengurangi kebiasaan konsumsi minuman manis berkafein saat sahur dan berbuka puasa. Saya kira ini akan sulit, mengingat saya begitu rutin konsumsi minuman tersebut, utamanya saat sahur. Namun ternyata, ada perbedaan signifikan saat saya menggantinya dengan air putih saat sahur. Saya tak gampang 'beser' setelah subuh, juga lebih bugar saat menjalani puasa. ~XD

    2. Membatasi minuman manis dan gorengan, perbanyak sayur dan gizi seimbang


    Meski sulitnya setengah hidup, tapi saya coba upayakan untuk mengurangi minuman manis dan gorengan saat berbuka, dan menggantinya dengan air putih atau buah segar yang manisnya lebih alami. Balada mulai sadar bahwa badan sudah tidak seperti dulu yang gampang masuk makanan ini - itu, saya mulai dengan membatasi asupan gorengan dan minuman manis.

    Sejak beberapa tahun terakhir memang sudah mengurangi makanan dan minuman manis, jadi tak terlalu sulit bagi saya pribadi. Sesekali masih minum bila sedang nongkrong bersama kawan maupun dapat suguhan, itu pun bila nobgkrong saya minta takaran yang seminimal mungkin, hihihi. Yang paling sulit justru ada di gorengan ini sih, karena saya pecinta makanan dan masakan berumami. Benar-benar jadi tantangan tersendiri. :"))

    Mengupayakan untuk banyak makan makanan bergizi seimbang (karbo - protein - sayur) dibandingkan jajan/camilan yang minim gizi, baik saat sahur maupun berbuka puasa. Semoga dimudahkan demi badan sehat bugar sepanjang Ramadan (dan sepanjang hidup!).

    3. Beri kesempatan badan untuk istirahat cukup


    Perkara istirahat ini memang jadi tantangan cukup berat, apalagi bagi saya yang kini aktivitasnya tidak selonggar beberapa tahun lalu. Dulu masih mudah mengadakan waktu istirahat, bahkan siang masih bisa tertidur haha. Sekarang hanya sekali-kali, bila siang tak ada jadwal keluar rumah.

    Apalagi di bulan Ramadan ini, aktivitas saya cukup padat sedari pagi. Bekerja, berkarya, tentunya juga memperbanyak cari pahala dengan aktivitas yang mendekatkan diri padaNya. Mengusahakan untuk tidak tidur lebih dari pukul 11 malam, agar tubuh mendapatkan haknya untuk istirahat (karena pukul setengah 4 pagi sudah bangun sahur, heheu). Yah, meski sesekali masih melanggar karena sulit merem, hahaha.

    4. Olahraga tipis-tipis, minimal peregangan tubuh


    Nah, ini yang paling jadi tantangan. Olahraga di bulan Ramadan! Duh, kalau dengar kata olahraga di bulan Ramadan, entah mengapa, bawaannya selalu lemas, hahahaha. Padahal justru olahraga tetap dianjurkan untuk dilakukan, asal waktu yang dipilih benar-benar tepat dan tidak mengganggu ibadah.

    Olahraga yang dilakukan bisa peregangan tipis-tipis pagi hari. Saat mengabuburit sebelum buka juga bisa melakukan angkat beban, atau jalan kaki keliling lingkungan rumah. Saya sendiri memilih untuk peregangan tipis pagi hari, karena sore hari hingga malam sudah ada rutinitas lain huhuhu. Namun untuk Ramadan kali ini, mencoba untuk olahraga sore, meskipun sekadar jalan kaki cari takjil muahahahaha. ~XD

    Itulah keempat cara yang bisa dilakukan untuk menjaga tubuh agar tetap bugar saat menjalani puasa di bulan Ramadan. Kalau kamu, apa upaya yang kamu lakukan untuk membuat njaga badan agar tetap sehat dan bugar? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya!

    ---------------------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    BPN Ramadan Blog Challenge 2024.
    Continue Reading

    Rasanya baru seperti kemarin melewati 30 hari Ramadan yang cukup mengkis-mengkis karena punya rutinitas baru. Mengisi jurnal Ramadan seperti anak SD (iya, tahun kemarin saya nekat beli jurnal Ramadan ala anak SD dan minta tanda tangan imam di musala saya, AHAHA), nulis refleksi Ramadan dengan segmen #NgabubuWrite di Instagram Story dan ternyata ada teman yang ikutan, ahahaha. Jebul ternyata sudah bersua kembali dengan Ramadan 1445 H.

    Tak mudah menahan diri untuk tidak menangis memasuki waktu magrib di tanggal 11 Maret kemarin. Untungnya saat itu posisi salat enggak di rumah, jadi malu kalau terlihat menangis di depan umum wkwk. Tangis haru, sebab Allah begitu baiknya masih mempertemukan saya kembali dengan RamadanNya tahun ini. Terima kasih, Allah Ya Rahim!

    Setelah dua tahun vakum, akhirnya coba memberanikan diri untuk ikutan BPN Ramadan Blog Challenge kembali! Rasanya seperti menemukan rumah untuk pulang setelah berpetualang. Menulis masih menjadi kegiatan menyenangkan bagi saya, kendati sekarang sudah jarang menuangkan pemikiran di blog ini. Padahal blog jadi salah satu 'rumah' utama akan tulisan-tulisan yang saya tak berani tuangkan di media sosial mana pun yang saya miliki. Semoga tulisan ini menjadi awalan baik untuk memulai kembali menulis di rumah kesayangan saya sejak 2010! (utamanya agar enggak sia-sia untuk perpanjang domain setiap tahunnya, WKWKWK. Udah bayar domain tapi tulisannya enggak banyak, kan ya eman banget. Huhuhu~)

    Tulisan pertama di 2024 ini (telat banget mengawali di bulan Maret, WAKAKAK) saya buka dengan tips menjalani puasa di bulan Ramadan. Tentu setiap orang memiliki cara dan tujuan masing-masing dalam menjalani Ramadan setiap tahunnya. Menyesuaikan dengan kebutuhan akan diri yang tak sama setiap individu. Ramadan saya tahun ini masih sama seperti tahun lalu, mengupayakan diri menjalani Ramadan dengan badan bugar, produktif, berdaya, dan penuh makna sesuai kemampuan diri.

    Beberapa hal yang coba saya lakukan demi mencapai Ramadan Sehat dan Penuh Makna di antaranya:

    1. Sahur dan Berbuka dengan Makanan Bergizi Seimbang


    Menjaga makan di bulan Ramadan adalah tantangan tersendiri. Kuliner manis dan gorengan terlihat menggugah selera dua kali lipat seperti biasanya. Hampa rasanya bila tak berbuka puasa dengan itu semua.

    Pandemi Covid-19 lah yang mengubah sudut pandang saya akan kesehatan. Beberapa tahun belakangan mencoba menerapkan prinsip "You What You Eat" di setiap makanan yang saya konsumsi. Masih tetap konsumsi gorengan dan kuliner manis, namun lebih membatasi diri. Ternyata cukup berdampak di badan saya. Timbangan tak mudak bergeser ke kanan, tetap ethes alias lincah tanpa banyak mengeluh lelah (kecuali saat masuk masa PMS dan menstruasi), juga terasa lebih bugar. ~~

    Ramadan kali ini masih sama seperti Ramadan tahun sebelumnya. Membatasi asupan kafein (teh manis) saat sahur dan berbuka, perbanyak air putih daripada minuman yang gulanya tumpah-tumpah, memastikan ada sayur dan protein dalam makanan yang dikonsumsi. Hal yang paling sulit memang membatasi gorengan sih, hahahaha. Untung Ibu masih mau bekerja sama dengan saya untuk tidak adakan gorengan di meja makan saat buka, kecuali kalau dapat takjil wkwk. Kalau itu di luar kontrol dan kuasa diri, hihihi.

    2. Menyeimbangkan Waktu Kerja, Istirahat, dan Ibadah.


    Bulan Ramadan adalah ladang pahala. Sangat disayangkan apabila waktu yang dipunya saat Ramadan ini tak diadakan untuk panen pahala.

    Saya masih belajar untuk ini. Sering kali belum dapat menyeimbangkan waktu kerja, ibadah, dan istirahat. Seringnya ibadahnya yang masih kurang, huhuhu. Kebanyakan kerja dan berkegiatan lain yang minim faedah, bahkan terkesan buang-buang waktu. Allah, ampuni. :'))

    Tahun ini mengupayakan diri untuk membagi waktu dan mencoba disiplin dengan pembagian tersebut. Pagi setelah tadarus subuh untuk menulis blog dan jurnaling, setelah dhuha mulai produktif bekerja hingga sore hari sebelum berbuka. Malam diisi dengan berbuka puasa, salat tarawih, dan lanjut membereskan kerjaan yang masih belum kelar dan bahas kerjaan untuk besok, sambil sesekali ngopi yang tak lebih dari pukul 10 malam (agak berat sih ini harus kelar ngopi pukul 10 malam, tapi dicoba dulu lah ya~).

    Semoga dimampukan prosesnya untuk tak sia-siakan waktu!

    3. Pasang Target Sesuai Kemampuan Diri


    Di awal Ramadan memang tergoda untuk pasang target setinggi mungkin. Ibadah A, B, C, melakukan hal ini dan itu.

    Tak ada masalah, sebenarnya. Hanya saja akan lebih baik bila diimbangi dengan kesadaran dan kemampuan diri agar tak berakhir wacana. Tak pasang banyak target atau tinggi pun pada akhirnya tak jadi masalah. Yang paling penting adalah konsistensi dan kuantitasnya secara bertahap, agar diri tak kepayahan dan api semangat untuk melakukan target tersebut tak padam alias TERUS MENYALA ABANGKUU! ~~

    Ingat, kualitas di atas kuantitas. ✨

    Semoga tiga tips (yang juga saya upayakan sekarang) di atas dapat membantumu untuk meraih Ramadan Sehat Penuh Makna, ya! Selamat berpuasa, semuanya! ✨

    ------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    BPN Ramadan Blog Challenge 2024.

    Continue Reading

    Sudah berapa lama vakum menulis di sini? Sepertinya sudah puluhan purnama, wkwk. Sebenarnya enggak berhenti menulis. Hanya saja berpindah media sejenak, karena merasa tulisan yang saya tulis bukan sesuatu yang ndakik-ndakik bila ditulis di blog, yang ternyata lambat laun nyali saya menciut untuk menulis sesuatu di sini.


    Kemudian saya berpikir jauh lagi, 'Lah, ini kan, blog punya saya, ya? Mengapa harus ribet harus gini-gitu buat mulai?' Menepiskan pikiran harus tampil ndakik-ndakik tersebut, akhirnya langsung saja eksekusi. Toh, dulunya, blog ini juga berangkat dari tulisan-tulisan saya yang receh apa adanya, hihihi. Akhirnya, ya, semuanya akan dimulai kembali. Semoga bisa terus konsisten meski enggak ada yang baca sekalipun. ~XD


    Dimulai dari mana, ya? Ah, iya. Kan sudah ada judulnya, wkwkwk. Iya, saking lama enggak nulis di blog jadi gugup mau nulis apa. Plis, kok jadi kayak masa pedekate gini main gugup-gugupan hah? *brb memukul diri sendiri -___-*


    Yak. Jadi, beberapa waktu terakhir ini saya jagong bayi ke tempat dua teman. Kedua teman saya ini sudah pada lahiran di bulan Maret kemarin (hanya berbeda tanggal), namun saya baru mengunjungi mereka setelah dua bulan bayi mereka lahir. Memang sengaja enggak segera menjenguk. Alasan saya adalah, saya memberi ruang pada teman saya untuk adaptasi dengan kebiasaan, rutinitas, waktu, dan banyak hal baru, yang tentunya hampir sebagian besar berubah setelah menambah status baru menjadi seorang ibu. Jeda waktu dua bulan saya ambil dengan ilmu kira-kira saja. Karena menurut saya, di umur dua bulan ini, si bayi (dan ibunya) pelan-pelan sudah mulai menemukan ritmenya.


    Ternyata dugaan saya cukup tepat. Memilih waktu berkunjung setelah salat magrib, kok ya teman saya juga waktunya pas banget sudah mulai longgar. Bayinya sedang istirahat setelah kekenyangan minum asi, jadi ada kesempatan ngobrol banyak dengan ibu bayi. Dari awal saya memang berniat hanya melihat dan mengajak main bayi secukupnya saja. Saya justru ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu bayi. Memancing mereka satu pertanyaan setelah menanyakan kabar,


    “Gimana rasanya jadi seorang ibu?”


    Satu pertanyaan tercetus, jebul cerita mengalir begitu deras dari mereka. Semua tidak jauh-jauh dari proses kehamilan, kelahiran, adaptasi, dan tantangan yang terjadi di setiap fasenya. Seakan-akan pertanyaan tersebut jadi hal yang dinanti-nanti mereka setelah sekian lama, wkwkwk (menurut saya sendiri sih ~XD). Terlihat bagaimana mereka begitu antusias bercerita apa pun yang mereka rasakan sejauh ini dengan jujur dan terbuka tanpa ditutupi, tanpa pura-pura, tanpa harus terlihat kuat di depan saya.


    Saya, yang memang di awal kunjungan sudah meniatkan menjadi pendengar cerita mereka, begitu senang dengan respons positif mereka. Entah mengapa, saya merasakan bahwa teman-teman saya setelah bertambah peran ini membutuhkan telinga seorang teman lain sesama perempuan untuk bercerita secara blak-blakan. Sambat ini itu, curhat ini itu tanpa dihakimi, juga divalidasi segala emosinya. Maka dari itu, saya meminimalisir diri sendiri untuk bercerita banyak dalam jagong bayi. Memperluas rasa empati, membuka telinga lebar-lebar untuk mereka, tidak banyak komentar ini itu. Sesekali saya menimpali guyonan untuk mencairkan suasana, hahaha. Selebihnya, full senyum dan mendengarkan pengalaman yang mereka bagikan.


    Dari cerita-cerita yang saya dapat sejauh ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwasanya seorang perempuan yang bertambah status barunya jadi ibu adalah sosok yang harus banyak diberi ruang dan dukungan dari berbagai pihak. Saya memang belum menjadi ibu (bahkan saya belum menikah), namun rasanya, saya bisa memahami apa yang mereka rasakan. Bagaimana rasanya ingin didengarkan, ingin diberi ruang untuk belajar dan mengenal makhluk baru yang dilahirkan dari rahimnya. Tidak banyak disalahkan, tidak banyak diatur ini itu, tidak mencekoki mereka dengan banyak teori dan mitos-mitos yang belum jelas kebenarannya.


    Ah, ternyata saya juga harus belajar banyak saat jagong bayi. Datang tanpa membawa banyak cerita yang dibagikan, memosisikan diri menjadi pendengar dan mengedepankan empati kepada perempuan yang sedang belajar menjadi ibu. Selain dua hal tersebut, hal-hal yang saya lakukan saat jagong bayi di antaranya:

    • Membawa bingkisan untuk orangtua bayi dan bayi

    Sebenarnya yang ini enggak harus dilakukan. Namun yang namanya berkunjung, mustahil bila berangkat dengan tangan kosong. Saya membawa bingkisan untuk bayi, juga tak lupa membawa bingkisan untuk orangtua bayi. Tidak perlu sesuatu yang mewah dan ndakik-ndakik. Bisa dengan makanan atau minuman kesukaan orangtua bayi tersebut. Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan kerja sama mereka selama beberapa waktu terakhir menjadi orangtua baru. 


    • Memilih waktu yang tepat saat berkunjung

    Hal yang pertama kali saya lakukan ketika ingin mengadakan jagong bayi kepada teman adalah menanyakan kapan waktu mereka senggang untuk menerima tamu. Tentu saya paham bila ibu menyusui ini lebih sering ada waktu di rumah, namun saya tetap menanyakan kondisi mereka apakah punya energi untuk bertemu orang atau tidak. Bila tidak, bisa ditunda di kesempatan lain. Tapi syukurnya, sejauh ini waktu kunjungan saya tepat sekali. Kuncinya adalah mengedepankan kenyamanan ibu bayi lebih dahulu (tidak memilih sesegera mungkin berkunjung setelah mereka lahiran, memilih waktu saat ibu bayi mulai senggang dan sudah menyesuaikan ritme bayi).

    • Tidak sembarangan uyel-uyel bayi tanpa diizinkan

    Sampai sekarang, saya belum berani untuk uyel-uyel bayi yang berumur di bawah 6 bulan. Selain saya sendiri tidak berani, saya menyadari bahwa bayi masih rentan dengan penyakit. Saya takut bahwa saya jadi pembawa virus/bakteri tanpa saya sadari. Bila ingin menggendong pun, harus dengan seizin orangtua bayi dan tidak banyak uyel-uyel dengan mencium atau menyentuh mereka. Minim interaksi fisiklah pokoknya. Takut menyentuh mereka dengan tangan tak suci milik saya inih. ~XD


    Story dari salah satu teman yang saya jagongi beberapa waktu lalu. Hangat sekali hati ini. :'))


    —-----------------------------------------------


    Saya mungkin belum menjadi seorang ibu, bahkan saya juga belum menikah. Meski begitu, saya akan terus belajar banyak terkait fase ini, agar nanti ketika jagong bayi kembali tidak salah memilih langkah. Si bayi tenang, Ibu Bayi senang karena dikunjungi teman dan ada kesempatan ngobrol, saya pun turut lega karena bisa mengadakan waktu bertemu.


    Semoga terus dimampukan. 💕



    Salam hangat,


    Andhira A. Mudzalifa


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Holla!

    Untitled-design-2

    Saya Andhira A. Mudzalifa, seorang perempuan biasa di balik semua postingan di blog ini yang suka bercerita, makan, dan jalan-jalan.

    Menyibukkan diri di Aderation Project dan Kirana Creative .

    Untuk menyapa lebih lanjut, bisa menghubungi lewat surel di andhira(dot)dee(at)gmail(dot)com

    Terima kasih telah mampir ke tempat di mana saya menuangkan segala cerita! Selamat membaca dan menikmati :)

    Temukan Saya Di

    • facebook
    • instagram
    • twitter

    Teman-teman

    Label

    #AyoNulis #BPNRAMADAN2024 #BPNRamadan2020 #BPNRamadan2021 #CatatanDuaEmpat #DiRumahAja Aderation Project Beauty Bodycare Cooking Crafting DIY Informasi Jelajah Blitar Journey Jurnal Tahunan Kafe Kuliner Life Lovely Place Makeup Pantai Blitar Rekomendasi Review Scarlett Smartfren Thoughts Tips Travelling Vaksinasi Writing Challenge cerita jalan-jalan

    Arsip Blog

    • ▼  2024 (17)
      • ▼  November 2024 (1)
        • Kenal Lebih Dekat dengan SoFresh: Sabun Cuci Pirin...
      • ►  Oktober 2024 (1)
      • ►  April 2024 (6)
      • ►  Maret 2024 (9)
    • ►  2023 (3)
      • ►  Juni 2023 (1)
      • ►  Februari 2023 (1)
      • ►  Januari 2023 (1)
    • ►  2022 (3)
      • ►  Maret 2022 (1)
      • ►  Februari 2022 (1)
      • ►  Januari 2022 (1)
    • ►  2021 (51)
      • ►  Desember 2021 (2)
      • ►  November 2021 (1)
      • ►  Oktober 2021 (1)
      • ►  September 2021 (1)
      • ►  Agustus 2021 (3)
      • ►  Juli 2021 (1)
      • ►  Juni 2021 (1)
      • ►  Mei 2021 (17)
      • ►  April 2021 (17)
      • ►  Maret 2021 (4)
      • ►  Februari 2021 (2)
      • ►  Januari 2021 (1)
    • ►  2020 (55)
      • ►  Desember 2020 (1)
      • ►  November 2020 (2)
      • ►  Oktober 2020 (2)
      • ►  September 2020 (4)
      • ►  Juli 2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (4)
      • ►  Mei 2020 (22)
      • ►  April 2020 (11)
      • ►  Maret 2020 (1)
      • ►  Februari 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (48)
      • ►  Desember 2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (3)
      • ►  September 2019 (5)
      • ►  Agustus 2019 (3)
      • ►  Juli 2019 (2)
      • ►  Juni 2019 (1)
      • ►  Mei 2019 (6)
      • ►  April 2019 (3)
      • ►  Maret 2019 (9)
      • ►  Februari 2019 (11)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (10)
      • ►  Desember 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (2)
      • ►  Mei 2018 (3)
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (9)
      • ►  November 2017 (1)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  Juli 2017 (1)
      • ►  Mei 2017 (1)
      • ►  April 2017 (1)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (1)
      • ►  Januari 2017 (1)
    • ►  2016 (16)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (2)
      • ►  Oktober 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (2)
      • ►  Juni 2016 (1)
      • ►  Januari 2016 (4)
    • ►  2015 (4)
      • ►  Maret 2015 (1)
      • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  2011 (1)
      • ►  Juli 2011 (1)

    Popular Posts

    • Usia Kepala Dua?
    • Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan
    • A Flashback to Senior High School: Kangen!

    Saya Bagian Dari

    Logo-Blogger-Perempuan-Network-round-7

    Aderation Project

    Untitled-design-20240826-113829-0000
    Facebook Instagram Pinterest Tumblr Twitter

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top