Jagong Bayi: Sebuah Seni Mendengarkan Cerita dan Mengedepankan Empati

17.49.00

Sudah berapa lama vakum menulis di sini? Sepertinya sudah puluhan purnama, wkwk. Sebenarnya enggak berhenti menulis. Hanya saja berpindah media sejenak, karena merasa tulisan yang saya tulis bukan sesuatu yang ndakik-ndakik bila ditulis di blog, yang ternyata lambat laun nyali saya menciut untuk menulis sesuatu di sini.


Kemudian saya berpikir jauh lagi, 'Lah, ini kan, blog punya saya, ya? Mengapa harus ribet harus gini-gitu buat mulai?' Menepiskan pikiran harus tampil ndakik-ndakik tersebut, akhirnya langsung saja eksekusi. Toh, dulunya, blog ini juga berangkat dari tulisan-tulisan saya yang receh apa adanya, hihihi. Akhirnya, ya, semuanya akan dimulai kembali. Semoga bisa terus konsisten meski enggak ada yang baca sekalipun. ~XD


Dimulai dari mana, ya? Ah, iya. Kan sudah ada judulnya, wkwkwk. Iya, saking lama enggak nulis di blog jadi gugup mau nulis apa. Plis, kok jadi kayak masa pedekate gini main gugup-gugupan hah*brb memukul diri sendiri -___-*


Yak. Jadi, beberapa waktu terakhir ini saya jagong bayi ke tempat dua teman. Kedua teman saya ini sudah pada lahiran di bulan Maret kemarin (hanya berbeda tanggal), namun saya baru mengunjungi mereka setelah dua bulan bayi mereka lahir. Memang sengaja enggak segera menjenguk. Alasan saya adalah, saya memberi ruang pada teman saya untuk adaptasi dengan kebiasaan, rutinitas, waktu, dan banyak hal baru, yang tentunya hampir sebagian besar berubah setelah menambah status baru menjadi seorang ibu. Jeda waktu dua bulan saya ambil dengan ilmu kira-kira saja. Karena menurut saya, di umur dua bulan ini, si bayi (dan ibunya) pelan-pelan sudah mulai menemukan ritmenya.


Ternyata dugaan saya cukup tepat. Memilih waktu berkunjung setelah salat magrib, kok ya teman saya juga waktunya pas banget sudah mulai longgar. Bayinya sedang istirahat setelah kekenyangan minum asi, jadi ada kesempatan ngobrol banyak dengan ibu bayi. Dari awal saya memang berniat hanya melihat dan mengajak main bayi secukupnya saja. Saya justru ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu bayi. Memancing mereka satu pertanyaan setelah menanyakan kabar,


“Gimana rasanya jadi seorang ibu?”


Satu pertanyaan tercetus, jebul cerita mengalir begitu deras dari mereka. Semua tidak jauh-jauh dari proses kehamilan, kelahiran, adaptasi, dan tantangan yang terjadi di setiap fasenya. Seakan-akan pertanyaan tersebut jadi hal yang dinanti-nanti mereka setelah sekian lama, wkwkwk (menurut saya sendiri sih ~XD). Terlihat bagaimana mereka begitu antusias bercerita apa pun yang mereka rasakan sejauh ini dengan jujur dan terbuka tanpa ditutupi, tanpa pura-pura, tanpa harus terlihat kuat di depan saya.


Saya, yang memang di awal kunjungan sudah meniatkan menjadi pendengar cerita mereka, begitu senang dengan respons positif mereka. Entah mengapa, saya merasakan bahwa teman-teman saya setelah bertambah peran ini membutuhkan telinga seorang teman lain sesama perempuan untuk bercerita secara blak-blakan. Sambat ini itu, curhat ini itu tanpa dihakimi, juga divalidasi segala emosinya. Maka dari itu, saya meminimalisir diri sendiri untuk bercerita banyak dalam jagong bayi. Memperluas rasa empati, membuka telinga lebar-lebar untuk mereka, tidak banyak komentar ini itu. Sesekali saya menimpali guyonan untuk mencairkan suasana, hahaha. Selebihnya, full senyum dan mendengarkan pengalaman yang mereka bagikan.


Dari cerita-cerita yang saya dapat sejauh ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwasanya seorang perempuan yang bertambah status barunya jadi ibu adalah sosok yang harus banyak diberi ruang dan dukungan dari berbagai pihak. Saya memang belum menjadi ibu (bahkan saya belum menikah), namun rasanya, saya bisa memahami apa yang mereka rasakan. Bagaimana rasanya ingin didengarkan, ingin diberi ruang untuk belajar dan mengenal makhluk baru yang dilahirkan dari rahimnya. Tidak banyak disalahkan, tidak banyak diatur ini itu, tidak mencekoki mereka dengan banyak teori dan mitos-mitos yang belum jelas kebenarannya.


Ah, ternyata saya juga harus belajar banyak saat jagong bayi. Datang tanpa membawa banyak cerita yang dibagikan, memosisikan diri menjadi pendengar dan mengedepankan empati kepada perempuan yang sedang belajar menjadi ibu. Selain dua hal tersebut, hal-hal yang saya lakukan saat jagong bayi di antaranya:

  • Membawa bingkisan untuk orangtua bayi dan bayi

Sebenarnya yang ini enggak harus dilakukan. Namun yang namanya berkunjung, mustahil bila berangkat dengan tangan kosong. Saya membawa bingkisan untuk bayi, juga tak lupa membawa bingkisan untuk orangtua bayi. Tidak perlu sesuatu yang mewah dan ndakik-ndakik. Bisa dengan makanan atau minuman kesukaan orangtua bayi tersebut. Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan kerja sama mereka selama beberapa waktu terakhir menjadi orangtua baru. 


  • Memilih waktu yang tepat saat berkunjung

Hal yang pertama kali saya lakukan ketika ingin mengadakan jagong bayi kepada teman adalah menanyakan kapan waktu mereka senggang untuk menerima tamu. Tentu saya paham bila ibu menyusui ini lebih sering ada waktu di rumah, namun saya tetap menanyakan kondisi mereka apakah punya energi untuk bertemu orang atau tidak. Bila tidak, bisa ditunda di kesempatan lain. Tapi syukurnya, sejauh ini waktu kunjungan saya tepat sekali. Kuncinya adalah mengedepankan kenyamanan ibu bayi lebih dahulu (tidak memilih sesegera mungkin berkunjung setelah mereka lahiran, memilih waktu saat ibu bayi mulai senggang dan sudah menyesuaikan ritme bayi).

  • Tidak sembarangan uyel-uyel bayi tanpa diizinkan

Sampai sekarang, saya belum berani untuk uyel-uyel bayi yang berumur di bawah 6 bulan. Selain saya sendiri tidak berani, saya menyadari bahwa bayi masih rentan dengan penyakit. Saya takut bahwa saya jadi pembawa virus/bakteri tanpa saya sadari. Bila ingin menggendong pun, harus dengan seizin orangtua bayi dan tidak banyak uyel-uyel dengan mencium atau menyentuh mereka. Minim interaksi fisiklah pokoknya. Takut menyentuh mereka dengan tangan tak suci milik saya inih. ~XD


Story dari salah satu teman yang saya jagongi beberapa waktu lalu. Hangat sekali hati ini. :'))


—-----------------------------------------------


Saya mungkin belum menjadi seorang ibu, bahkan saya juga belum menikah. Meski begitu, saya akan terus belajar banyak terkait fase ini, agar nanti ketika jagong bayi kembali tidak salah memilih langkah. Si bayi tenang, Ibu Bayi senang karena dikunjungi teman dan ada kesempatan ngobrol, saya pun turut lega karena bisa mengadakan waktu bertemu.


Semoga terus dimampukan. 💕



Salam hangat,


Andhira A. Mudzalifa


You Might Also Like

5 comments

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. İnternet, dünya genelinde bilgisayar ağlarının bir araya gelmesiyle oluşan küresel bir iletişim ve bilgi paylaşım sistemidir. İnternet, milyonlarca bilgisayarın birbirine bağlanarak bilgi alışverişi yapmasını, iletişim kurmasını ve içeriklere erişimini sağlar. Web siteleri, e-posta, sosyal medya, çevrimiçi alışveriş ve daha birçok uygulama ile kullanıcılar arasında bilgi paylaşımı ve etkileşim mümkün olur. İnternet, dünya çapında bilgiye erişimi kolaylaştırır, iletişimi hızlandırır ve küresel bir dijital köprü görevi görür.

    BalasHapus
  3. Pool coping is the capstone for the edge of swimming pools, providing a stylish finish and safety feature. It separates the pool structure from the surrounding surface area, preventing water from seeping behind the pool shell, and offers a non-slip surface for safer entry and exit.

    https://serapool.com/en/pool-coping

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan komentar di blog ini dengan bahasa yang santun, tidak spam, dan tidak mengandung SARA.

Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar di blog ini, ya! Saya senang sekali jika teman-teman meninggalkan komentar di tulisan saya ^_^

Mari menyambung silaturahmi dan berkawan :) (saya anaknya nggak nggigit, kok :D)