FaceBook Instagram TikTok Twitter

andhirarum

    • Home
    • Tentang Andhira
    • Product
    • _aderation project
    • _Kirana Creative


    Lebaran belum terasa Lebaran jika tradisi yang satu ini tidak dilaksanakan. Tradisi mudik sepertinya sudah menjadi agenda tahunan setiap kali Lebaran tiba. Menjadi salah satu parameter kesuksesan kinerja menteri perhubungan setiap tahunnya. Apakah makin baik atau makin slendro. Eheu.

    Kendati saya tidak pernah merasakan euforia mudik dikarenakan kampung halaman kedua orangtua saya yang sama-sama berada di Blitar (hanya berbeda lokasi kota dan kabupaten), tapi saya senang melihat berita-berita mengenai dunia permudikan ini melalui televisi (saat saya kecil, hingga beberapa tahun lalu sebelum tragedi rusaknya televisi saya HAHAHA) dan juga update-an teman-teman di media sosial.

    Ah, ya. Saya sepertinya pernah merasakan euforia mudik menjelang Lebaran ini ketika saya masih kuliah. Touring dari Surabaya bersama teman-teman kuliah satu Karesidenan Kediri (Tulungagung, Kediri), hahaha. Tapi menurut saya itu kurang greget aja, sih. Karena tidak sampai mengalami macet hingga berjam-jam dan nggak merasakan sensasi mudik yang sebenarnya wakakaka.

    Hingga saya pernah berangan-angan untuk memiliki suami yang bekerja di luar kota (hanya kerjanya aja yang di luar, tapi berasal dari kota yang sama biar nggak bingung kudu mudik ke mana wakakaka), agar bisa merasakan mudik setiap tahunnya. Mengalami deg-degannya mudik, berdebat kecil memilih mudik di rumah ibu sendiri atau mertua, berebut tiket Lebaran (tapi saya berdoa semoga diberi kemudahan membeli kendaraan sendiri agar tidak merasakan gontok-gontokan rebutan tiket hehe aamin!), persiapan menjelang mudik, belanja ini itu untuk Lebaran...

    Oke, angan-angannya cukup sampai disini dulu. Takut kebablasan.

    Fenomena mudik sendiri menjadi momen yang cukup sentimentil, dimana orang-orang yang lama merantau kembali ke kampung halamannya beberapa hari. Melepas rindu kepada orang-orang tersayang yang ditinggalkan di kampung halaman, nostalgia ke tempat-tempat di mana menghabiskan waktu saat kecil, bertemu keluarga besar yang ternyata sudah tumbuh dewasa dan menua (yang terkadang melontarkan pertanyaan yang ngadi-ngadi aje). Beginilah kiranya yang saya tahu tentang mudik. Ehe.

    Menjelang hari raya tahun ini, sepertinya agenda yang satu ini harus ditunda dahulu, dikarenakan adanya wabah pandemi yang berimbas pada imbauan pemerintah untuk tetap #DiRumahAja dan tidak mudik untuk sementara. Ini bertujuan agar virus COVID-19 tidak meluas dan utamanya untuk memutus rantai penyebaran virus ini.

    Imbauan pemerintah daerah saya untuk tidak mudik yang sudah terpampang nyata
    Saya rasa, ini adalah langkah yang sangat tepat. Karena kebanyakan kasus positif merupakan imported case, alias kasus yang berasal dari luar (begitu pula beberapa kasus positif yang ada di Blitar). Membatasi jumlah pendatang atau meniadakan pendatang masuk ke kota, merupakan cara yang paling efektif untuk memutus rantai penularan. Menyelamatkan teman, saudara, dan keluarga yang ada di kampung agar tidak tertular.
    Memang berat tidak bisa mudik ke kampung halaman. Apalagi menjelang hari raya yang seharusnya bisa berjumpa dan melepas rindu dengan keluarga. Namun, mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Apalagi penyakit ini bukan penyakit yang main-main.
    Sayangi keluarga di rumah. Lindungi mereka. Dengan cara tidak mudik untuk sementara. Kendati kita merasa badan kita sehat, tapi kita sendiri juga tidak tahu apakah kita menjadi carrier alias pembawa virus apa tidak. Memilih untuk berjaga-jaga tidak mudik lebih baik, bukan?
    Semoga kita semua dijaga dan dilindungi dari virus COVID-19 ini. Tetap jaga kesehatan di manapun berada, ya. Selamat mempersiapkan Idulfitri bagi yang merayakan. Semoga keadaan lekas membaik dan bisa berjumpa kembali dengan keluarga tercinta :)


    Mudik, Yes or No? 

    Kalau saya sih, NO. Untuk tahun ini. Nggak tahu kalau Mas Anang~

    -----------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network
    30 Day Ramadan Challenge BPN



    Love,



    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading

    Tidak terasa Idulfitri tinggal beberapa hari lagi. Tentunya banyak momen-momen langka yang terjadi hanya saat Lebaran tiba yang kehadirannya sangat saya nantikan. Saya tidak merasakan euforia mudik sedari kecil, sih. Karena memang sudah hidup di kota orangtua saya sedari kecil. Rumah kakek-nenek alias ayah dan ibu dari Ibu maupun Bapak saya pun hanya berbeda sebatas kota dan kabupaten saja. Jadinya yaa nggak terlalu merasakan euforia mudik. Lebih ke momen-momen lainnya yang nggak kalah meriah dan membuat rindu (pastinya!).

    Tapi sepertinya Idulfitri kali ini terasa berbeda. Adanya imbauan dari Pemerintah untuk merayakan Idulfitri tetap #DiRumahAja akibat dari mewabahnya pandemi (yang semakin bertambah pasiennya, hiks), membuat ada yang terasa hilang dari Lebaran ini. Momentum mudik yang paling terasa. Banyak saudara dan teman-teman saya yang merayakan Idulfitri di kota rantau masing-masing, yang saya rasa, banyak yang merasakan pertamakalinya tidak mudik saat lebaran tiba. Saya ikut sedih, tapi mau bagaimana lagi? Demi kebaikan bersama :’)

    Beberapa momentum yang saya rindukan ketika Lebaran tiba diantaranya:

    Berkumpul dan Temu Kangen dengan Keluarga Besar

    Meski tidak kumpul semua karena ada beberapa yang tidak mudik ke Blitar (terutama dari keluarga Ibuk yang notabene ada di Jakarta semua), tapi saya mensyukuri ketika masih ada yang bisa berkumpul. Kebanyakan yang selalu bisa bertemu saat Lebaran adalah keluarga dari Bapak, yang masih banyak berada di Blitar dan sekitarnya. Momen ini sangat saya nikmati, karena hanya terjadi sekali dalam setahun.

    Berkeliling Mengunjungi Sanak Saudara

    Masih bersambung dengan momentum berkumpulnya dengan keluarga saat Lebaran, momen berkeliling mengunjungi saudara-saudara yang ada di dalam maupun di luar kota adalah momen yang membahagiakan. Selain menjadi ajang piknik tipis-tipis, ini menjadi sebuah PR bagi saya pribadi untuk menghafal nama dan lokasi saudara-saudara saya yang tersebar di berbagai daerah.

    Sejauh ini, sebagian besar sudah pada hafal, gegara Bapak sangat rajin bersilaturahmi mengunjungi rumah saudara satu ke saudara lainnya, meski bukan saat momen momen Lebaran. Agar tidak mati obor, ucap beliau satu kali ketika saya bertanya alasan mengapa sangat suka mengunjungi sanak saudara, bahkan yang rumahnya pelosok sampai sinyal pun agak susah.

    Semoga tradisi berkunjung ke rumah saudara-saudara dengan sukacita bisa diteruskan pada generasi saya. Aamiin :D

    Mencicipi Jajanan Orang yang Dikunjungi

    Salah satu hal favorit saya ketika Lebaran tiba adalah icip-icip jajan Lebaran di rumah yang saya kunjungi, entah itu rumah saudara maupun rumah mertua teman-teman saya, terutama yang jajannya membuat sendiri seperti kue kering dan kerupuk (meski kalau kerupuk tinggal pada nggoreng doang~).
    Selain menghargai si pembuat kue yang bersusah payah menyajikan jajan terbaik saat Lebaran (jarang-jarang ini ada jajan yang enak-enak waktu main ke tempat saudara maupun teman), ini juga menjadi ajang wisata kuliner bagi saya, karena terkadang ada jajanan yang tidak ada di rumah saya seperti jajanan tradisional yang hanya ada di desa.

    -----------------------------------------------------

    Untuk tahun ini, sepertinya tradisi-tradisi di atas belum bisa saya rasakan kembali akibat dari pandemi yang entah kapan berakhirnya ini, huhu. Sedih, tentu. Tapi mau bagaimana lagi? Memang begini keadaannya :’)

    Semoga kondisi lekas membaik dan bisa segera berkumpul dengan keluarga, ya. Stay safe dan jaga kesehatan di manapun berada!

    -----------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network
    30 Day Ramadan Challenge BPN



    Love,



    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading


    Ditanya perkara menu Lebaran di daerah masing-masing, saya sebenarnya cukup bingung karena tidak adanya menu spesifik dari daerah saya. Ada sih satu menu khas dari daerah saya, tapi bukan menjadi menu andalan ketika Idulfitri tiba. Mending memilih menu lainnya, ehe.

    Ada beberapa menu Lebaran khas yang menjadi favorit saya (dan tentunya keluarga saya). Menu ini jarang-jarang ditampilkan saat hari-hari biasa, karena.... “Malas rempongnya”, kata Ibuk. HAHA. Akhirnya dipilihlah saat Lebaran saja atau ketika momen-momen spesial seperti saya lamaran, misalnya (enggak, ini hanyalah contoh momen spesial angan-angan saya).

    Opor Ayam

    Opor ayam selalu masuk jadi daftar menu favorit saya saat Lebaran tiba. Lupakan diet, lupakan defisit kalori sejenak. Opo ayam selalu sukses menggagalkan keinginan untuk makan sedikit saja. Minimal nambah nasi 1 centong. Nggak papa, sekali-kali. Belum tentu tiap bulan kayak gini, elak saya selalu.

    Rendang

    Belum Lebaran namanya kalau belum berpesta rendang. Hampir setiap tahun juga, menu ini juga ikutan nongol dalam dunia perkulineran Lebaran di keluarga saya. Meskipun tidak semenggoda opor ayam, tapi menu rendang ini juga sukses memanjakan lidah saya dan membuat saya andok nasi. Tentu saja Ibuk kegirangan melihat anaknya makan dengan lahap. Terima kasih, rendang!


    Nasi Kuning

    Nasi kuning menjadi permintaan wajib dari saya dan adik-adik saya (alhamdulillah, jadi ada pasukan) kepada Ibuk untuk dimasakkan di hari raya. Jarang-jarang soalnya Ibuk mau masak nasi kuning, karena malas berepot-repot ria. Biasanya saya merayu Ibuk untuk membuat nasi kuning dengan dalih, pumpung Lebaran lho~. Untungnya, beliau manut dan mau-mau saja hueheheheu.

    Gurihnya nasi kuning membuat saya ketagihan dan berhasil menggugah selera makan saya. Nggak sadar buat nambah lagi, biasanya.

    Sambal Goreng Kentang

    Menu satu ini cukup sering ditampilkan selain hari lebaran, namun keberadaan menu satu ini tetap saya nantikan. Karena kriuk-kriuknya yang nagihi, dan gurih manisnya yang membuat rindu. Sebagai pelengkap ketiga menu di atas sih sebenarnya. Rasanya ada yang kurang jika belum ada sambal goreng kentang, ehe.

    Kerupuk Udang

    Pelengkap sederhana yang satu ini jarang ketinggalan jika Lebaran tiba. Bahkan, untuk tahun ini Ibuk sudah menyetok di rumah HAHAHA. Yaa, kerupuk udang menjadi salah satu ‘kerupuk mewah’ di keluarga saya, selain kerupuk rambak yang enaknya masyaaAllah tapi bikin nyeretin itu.

    -----------------------------------------------------

    Beberapa di atas adalah menu-menu favorit saya saat lebaran tiba. Memang bukan menu makanan khas dari daerah saya, tapi menu-menu ini yang menggugah selera makan saya ketika lebaran (dan menjadi salah satu faktor melebarnya saya saat Lebaran tiba). Hihi.

    Kalau kamu, menu lebaran mana yang jadi favoritmu? Kuy tuliskan di kolom komentar!

    -----------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network
    30 Day Ramadan Challenge BPN



    Love,


    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading


    Beberapa hari yang lalu sempat lewat di beberapa toko baju kekinian anak muda. Dimana saya cukup kaget dibuatnya, karena sudah ramai pembeli. Padahal masih belum H-7 Lebaran. Heu. Kenapa orang-orang pada semangat gini....

    Harusnya saya tidak usah kaget dan nggumun, sih. Wong ya sudah menjadi sebuah tradisi bahwasanya Lebaran selalu dikaitkan dengan sesuatu yang baru. Selain hati yang baru alias bersih tanpa noda-noda iri dengki dendam, tentunya juga diramaikan dengan hal-hal baru lainnya seperti gamis baru, koko baru, sepatu baru, hiasan rumah baru, dan pacar baru.

    Entah apa tujuan pastinya, kok ya semua harus gressss kinyis-kinyis alias baru bau dari toko. Seperti ada pakemnya gitu lho. Tapi saya rasa sih, ini adalah upaya untuk menampilkan yang terbaik saat hari raya. Salah satunya adalah dengan cara menggunakan sesuatu yang baru, yang dirasa adalah hal yang terbaik.

    Berbicara perkara baju disaat hari raya, sedari dulu (bahkan sedari kecil), saya bukan tim harus selalu pakai baju baru. Yaa, walaupun tetap ada satu dua baju baru yang dibelikan oleh budhe dan saudara sepupu yang baiknya MasyaAllah. Rejeki anak (belum) solehah, memang. Jadinya masih ada yang bisa dipamerkan ketika sowan dan berkunjung ke tetangga-tetangga, lah. Ups.
    Tapi jujur saja, semakin dewasa ini saya semakin malas untuk upgrade baju baru saat Lebaran tiba. Selain karena ndak megang uang buat belanja baju (eh), saya memang malas berjubelan hanya perkara sandangan atau bebajuan. Ditambah jika tokonya nggak ada angin-angin segar sama sekali bikin sumuk alias bikin gerah. Wah, dijamin. Saya bakal ngibrit pergi tak kembali lagi. Heuheu.

    Terlepas dari malasnya seorang saya untuk membeli baju baru, disamping itu dalam beberapa tahun terakhir ini saya sedang menerapkan decluttering baju alias bersih-bersih baju manakala saya tidak memakainya dalam jangka waktu yang lama. Salah satu tahap untuk belajar hidup minimalis dan fungsional, sih. Alias, mencoba benar-benar memanfaatkan semua barang yang saya punya sesuai dengan fungsinya, tidak menimbun hingga menjadi tumpukan-tumpukan. Ehe. Cerita selengkapnya tentang decluttering baju bisa dibaca selengkapnya di link di bawah ini :D
    Baca: #DiRumahAja: Belajar Decluttering Lewat Bebajuan
    Kembali lagi ke laptop topik utama.

    Baju baru vs baju lama, pilih yang mana?

    (Karena ini adalah blog pribadi, tentu saja saya menulisnya dengan sudut pandang pribadi. Ehe)
    Saya sendiri berpendapat bahwa Lebaran tidak harus memakai baju baru. Hanya saja, saya lebih memilih untuk menggunakan baju terbaik, menurut saya pribadi. Hehe. Toh, baju saya yang masih layak untuk dipakai juga masih ada (meski nggak banyak).
    Mungkin yang ngelihat saya pakai baju yang itu-itu saja juga sudah bosan. Tapi saya tidak peduli, wong saya nggak minta mereka buat beliin baju~~ (shombong. Padahal dibeliin baju juga nggak nolak)
    Pada akhirnya, perkara baju-bajuan ini seperti geger perkara bubur tidak diaduk vs bubuk diaduk. Nggak bakal ada jluntrungnya. Alias saling menghargai saja. Yang terpenting, tetap berpakaian. Ehe.

    Baju baru alhamdulillah
    Tuk dipakai di hari raya
    Tak punya pun tak apa-apa
    Masih ada baju tetangga~~

    -----------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network
    30 Day Ramadan Challenge BPN



    Love,


    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading


    Memasuki minggu ketiga bulan Ramadan, yang terasa berjalan begitu cepat. Perasaan baru saja mengeluh tidak bisa tarawih di mushola, mengeluh tidak ada buka bersama, mengeluh tidak ada Pasar Ramadan (lha ini isinya kok mengeluh thok?). Ya pokoknya intinya perasaan baru saja menjalani ritme ‘baru’ di bulan Ramadan ini. Lha jebul ndilalah kok ya puasa sudah berjalan hampir tiga minggu.

    Tentu saja sedikit wagu atau aneh ketika menjalani Ramadan tahun ini. Tapi tetap saja, walaupun Ramadan tahun ini banyak sekali yang berbeda, selalu ada yang disyukuri. Ya seperti yang pernah saya katakan di postingan yang ini, bahwa dibalik cobaan-cobaan yang datang, pasti ada satu atau dua hal yang bisa disyukuri.

    Ah, ya. Menjelang akhir Ramadan ini ada doa-doa dan pengharapan yang saya tuliskan (dan semoga bisa saya gapai) di Ramadan tahun depan. Meskipun sebenarnya ya doa-doa dan harapannya itu-itu saja, tapi tak apa. Saya tak pernah bosan berdoa (dan berharap padaNya, bukan padanya, eh) hehehe.

    Diberikan Kesempatan untuk Bertemu dan Menjalani Ramadan Kembali di Tahun Depan

    Tentu saja ini adalah doa pertama yang saya harapkan (dan mungkin juga doa semua orang). Diberikan kesehatan, diberikan kuat iman, diberikan keteguhan hati hingga bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.

    Tidak Menjalani Ramadan di Tengah Pandemi

    Doa dan harapan selanjutnya untuk Ramadan tahun depan ialah, tidak menghadapi Ramadan di tengah pandemi seperti saat ini. Semoga tahun depan bisa leluasa untuk beribadah, berkumpul bersama, beuka bersama, berjalan-jalan mencai takjil di Pasar Ramadan kembali (yang ternyata hal sepele ini sangat saya rindukan).

    Mengisi Ramadan dengan Ibadah yang Sebaik-baiknya

    Saya merasa bahwa tahun ini (dan tahun-tahun kemarin, tentu!), kualitas ibadah saya masih gitu-gitu saja. Bahkan seakan-akan menurun huhu. Semoga di tahun depan lebih semangat lagi untuk mendulang pahala (dan memohon ampunan) di bulan suci yang penuh berkah ini. Aamiin.

    Menjadi Sebaik-baiknya Hamba

    Harapan terakhir (tapi merupakan harapan yang paling diharapkan. Mohon bantu doa!) adalah, semoga tahun depan bisa menjadi sebaik-baiknya hamba. Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, memuliakan Tuhannya, mengejar kebaikan dan keberkahan hanya karenaNya. Semoga dimampukan.

    ---------------------------------------------

    Itulah beberapa harapan saya terkait dengan Ramadan tahun depan. Semoga Ramadan tahun ini bisa terlewati dengan baik, meski harus melewati di tengah badai pandemi. Semoga iman kita semua tetap terjaga, hingga bertemu dengan Ramadan tahun depan. Aamiin!

    Semangat untuk menggapai Hari Kemenangan, teman-teman!

    ------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network
    30 Day Ramadan Challenge BPN



    Love,


    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading



    Sedikit kaget ketika Ramadan sudah berjalan lebih dari 15 hari. Sudah separuh perjalanan. Rasa-rasanya saya seperti hari pertama saja ikut Writing Challenge dari Blogger Perempuan ini, eh ternyata udah hari ke-20 aja huhu. Cepat sekali~

    Berpuasa di tahun ini terasa cukup berat. Bukan berat karena harus menahan lapar dan dahaga (ya meskipun itu berat tapi ya nggak terlalu berat-berat amat, sih), tapi karena puasa tahun ini bebarengan dengan menghadapi pandemi. Cukup berat, memang. Meski katanya lebih berat rindu, sih. Huhu~

    Meskipun Ramadan tahun ini lebih berat (dan banyak yang berubah) dibandingkan dari tahun-tahun yang lalu, tentunya masih ada beberapa hal yang bisa disyukuri. Ya namanya orang Jawa sih ya. Apapun cobaannya, selalu menyelipkan syukur di dalamnya.

    Ramadan tahun ini, saya lebih banyak di rumah dan berkumpul dengan keluarga, terutama dengan keluarga inti. Ya, anjuran dari pemerintah untuk tetap #DiRumahAja membuat saya harus njogrog di rumah dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Terhitung sudah hampir dua bulan ini saya stay di rumah saja, tanpa piknik dan ngopi yang seperti biasa saya lakukan bersama teman-teman. Mulai bosan, tapi tak apalah. Demi kebaikan dan menjadi warga negara yang tertib mematuhi aturan. Ehe~

    Pandemi yang berlangsung ketika Ramadan ini juga berpengaruh pada kondisi ekonomi semua orang, termasuk juga saya. Daya beli menurun, yang otomatis membuat pemasukan menurun. Tapi tetap bersyukur, pendapatan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Tuhan masih berbaik hati untuk menitipkan rezekiNya pada saya di kala pandemi ini. Perbanyak syukur.

    Ajakan buka bersama yang selalu santer terdengar ketika Ramadan tiba, tahun ini sudah tidak terdengar lagi. Grup WhatsApp yang biasanya ramai diskusi sampai engkel-engkelan perkara buka bersama, untuk tahun ini tidak ada baunya sama sekali. Tidak ada ramai-ramai bingung tempat buber.

    Yaa, ini sebenarnya cukup menjadi hal yang saya syukuri, sih. Dimana saya selalu bingung untuk memilih menghadiri yang mana. Heuheuheu. Membuat saya lebih berhemat, tentunya. Karena jujur saja, pengeluaran untuk buka bersama ini membuat kantong saya sedikit cenat-cenut, mengingat status saya hanya seorang jomlo freelance, dimana penghasilannya tidak pasti (tapi tetap berpenghasilan hehehe aamin!).

    Yang pasti, satu hal penting yang harus disyukuri di Ramadan ini saya tetap bisa beribadah dengan lancar, meskipun dalam keterbatasan seperti tidak bisa melaksanakan ibadah salat tarawih berjamaah di mushola dekat rumah. Meskipun tidak bisa salat berjamaah pun, tetap bisa melaksanakan salat di rumah sendiri, yang notabene, malah membuat saya lebih khusyuk. Ehe.

    ---------------------------------------------

    Semoga dengan keterbatasan yang terjadi di bulan Ramadan ini, tidak lantas menghambat segala ibadah yang dilakukan pada bulan penuh ampunan ini. Semangat melaksanakan ibadah Ramadan hingga menggapai kemenangan, teman-teman!

    ------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network
    30 Day Ramadan Challenge BPN



    Love,


    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Holla!

    Untitled-design-2

    Saya Andhira A. Mudzalifa, seorang perempuan biasa di balik semua postingan di blog ini yang suka bercerita, makan, dan jalan-jalan.

    Menyibukkan diri di Aderation Project dan Kirana Creative .

    Untuk menyapa lebih lanjut, bisa menghubungi lewat surel di andhira(dot)dee(at)gmail(dot)com

    Terima kasih telah mampir ke tempat di mana saya menuangkan segala cerita! Selamat membaca dan menikmati :)

    Temukan Saya Di

    • facebook
    • instagram
    • twitter

    Teman-teman

    Label

    #AyoNulis #BPNRAMADAN2024 #BPNRamadan2020 #BPNRamadan2021 #CatatanDuaEmpat #DiRumahAja Aderation Project Beauty Bodycare Cooking Crafting DIY Informasi Jelajah Blitar Journey Jurnal Tahunan Kafe Kuliner Life Lovely Place Makeup Pantai Blitar Rekomendasi Review Scarlett Smartfren Thoughts Tips Travelling Vaksinasi Writing Challenge cerita jalan-jalan

    Arsip Blog

    • ▼  2024 (17)
      • ▼  November 2024 (1)
        • Kenal Lebih Dekat dengan SoFresh: Sabun Cuci Pirin...
      • ►  Oktober 2024 (1)
      • ►  April 2024 (6)
      • ►  Maret 2024 (9)
    • ►  2023 (3)
      • ►  Juni 2023 (1)
      • ►  Februari 2023 (1)
      • ►  Januari 2023 (1)
    • ►  2022 (3)
      • ►  Maret 2022 (1)
      • ►  Februari 2022 (1)
      • ►  Januari 2022 (1)
    • ►  2021 (51)
      • ►  Desember 2021 (2)
      • ►  November 2021 (1)
      • ►  Oktober 2021 (1)
      • ►  September 2021 (1)
      • ►  Agustus 2021 (3)
      • ►  Juli 2021 (1)
      • ►  Juni 2021 (1)
      • ►  Mei 2021 (17)
      • ►  April 2021 (17)
      • ►  Maret 2021 (4)
      • ►  Februari 2021 (2)
      • ►  Januari 2021 (1)
    • ►  2020 (55)
      • ►  Desember 2020 (1)
      • ►  November 2020 (2)
      • ►  Oktober 2020 (2)
      • ►  September 2020 (4)
      • ►  Juli 2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (4)
      • ►  Mei 2020 (22)
      • ►  April 2020 (11)
      • ►  Maret 2020 (1)
      • ►  Februari 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (48)
      • ►  Desember 2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (3)
      • ►  September 2019 (5)
      • ►  Agustus 2019 (3)
      • ►  Juli 2019 (2)
      • ►  Juni 2019 (1)
      • ►  Mei 2019 (6)
      • ►  April 2019 (3)
      • ►  Maret 2019 (9)
      • ►  Februari 2019 (11)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (10)
      • ►  Desember 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (2)
      • ►  Mei 2018 (3)
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (9)
      • ►  November 2017 (1)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  Juli 2017 (1)
      • ►  Mei 2017 (1)
      • ►  April 2017 (1)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (1)
      • ►  Januari 2017 (1)
    • ►  2016 (16)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (2)
      • ►  Oktober 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (2)
      • ►  Juni 2016 (1)
      • ►  Januari 2016 (4)
    • ►  2015 (4)
      • ►  Maret 2015 (1)
      • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  2011 (1)
      • ►  Juli 2011 (1)

    Popular Posts

    • Usia Kepala Dua?
    • Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan
    • A Flashback to Senior High School: Kangen!

    Saya Bagian Dari

    Logo-Blogger-Perempuan-Network-round-7

    Aderation Project

    Untitled-design-20240826-113829-0000
    Facebook Instagram Pinterest Tumblr Twitter

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top