Sebuah Catatan di Usia Dua Puluh Empat Tahun

16.52.00


Seharusnya, postingan ini turun ketika usia tepat menginjak dua puluh empat tahun, seminggu yang lalu. Namun nyatanya, malah baru selesai seminggu setelahnya hahahaha. Ya sudah, demi membekukan cerita perjalanan hidup, mari ditulis meski telat :D

Tujuh tahun lalu, ketika usia saya masih 17 tahun, pernah terlintas dalam pikiran saya tentang bagaimana kelak saya nanti di usia 24 tahun; apakah sudah mencapai mimpi-mimpi, sudah menikah, sudah begini sudah begitu, blablabla.

Well, time flies.

Mencapai umur dua puluh empat tahun, tentunya tidak serta merta terlewati begitu saja. Banyak hal, banyak pengalaman, banyak sudut pandang yang saya dapatkan selama dua puluh tiga tahun terakhir, yang keseluruhannya saya jadikan sebagai pengingat, sebagai pedoman, sebagai prinsip hidup, dan tentunya sebagai penghati-hati agar tidak jatuh pada lubang yang sama.

Meski ada beberapa pembelajaran yang harus dibayar dengan kesedihan dan air mata, tapi yang namanya pembelajaran tetaplah berharga. Justru bisa dijadikan pengingat diri, dan bisa menjadi penguat saya ketika kembali ada di titik lemah. Heuheu.

Ada beratus, bahkan beribu hal yang sudah saya dapatkan selama dua puluh tiga tahun terakhir, tapi sepertinya akan saya rangkum menjadi 24 saja, sesuai dengan umur yang saya jalani sekarang he he he. Ngepas-ngepasin aja sih, ceritanya.

Mungkin ada yang terdengar klise, basi, atau "apaan sih ini kayak quote di tumblr ajah", tapi berhubung ini blog pribadi,  tentunya ditulis dengan sudut pandang dan pengalaman pribadi :p hehe. Here, let me tell you ~XD

1. Put Allaah first, Allaah is The Best Planner.

Klise. Tapi seriusan, apapun urusannya, nomorsatukan Allaah terlebih dahulu. Karena percayalah, urusan bakal dimudahin segalanya :,)


Sudah berulangkali kejadian, soalnya heheu.

Soal Allaah perencana yang terbaik, ini dapet pembelajarannya seiring berjalannya waktu.

Sampai sekarang masih meraba-raba, kenapa Allaah menggariskan takdir seperti ini. Tapi sedikit-sedikit, sudah mulai terjawab teka-tekiNya :)

Semoga Allaah mudahkan. Bismillaah.

2. Accept and love yourself first.

Saya sudah ada dalam tahap menerima diri sendiri, terutama masalah fisik. HAHAHA. Meski prosesnya memakan waktu yang cukup lama.



Menerima segala sesuatu tentang diri sendiri; masalalu, kejujuran diri-- juga masih dalam proses.

Ada di titik dimana saya begitu mencintai diri saya sendiri, ada pula satu waktu dimana saya membenci diri saya sendiri ketika gagal akan sesuatu.

Sebisa mungkin saya menerima apapun yang terjadi pada diri saya. Mulai mencintai diri saya sendiri, baik-buruknya.

Karena kehilangan diri sendiri lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan siapapun.

3. Live in the moment.

Sejak tahun 2018, saya cukup belajar banyak tentang mindfulness, meski masih amatir. Belajar untuk hidup disini-kini, belajar untuk menikmati apa yang terjadi sekarang, tanpa harus cemas memikirkan masa depan maupun menyesal atas masalalu yang telah lewat.



Bukan apa-apa. Menikmati momen dan merasakan diri hadir utuh sadar penuh, menjadikan semua momen yang terlewati begitu berhaga. Hingga tidak ada waktu yang terbuang, maupun terbesit pikiran "Lah perasaan tadi gak ngapa-ngapain kok udah jam segini aja sih?!?!" Padahal daritadi mondar-mandir kesana-kemari.

Masih belajar banyak tentang ini. Hingga kini.

4. Family comes first.

Seberapapun lamanya love-hate relationship yang saya jalani dengan mereka, semakin dewasa saya semakin menyadari bahwa merekalah yang sejatinya akan selalu ada disisi saya ketika disaat saya ada di titik terburuk sekalipun.



Bapak yang selalu siaga, Ibu yang menguatkan, adik-adik yang selalu menghibur untuk pertamakali.

Bukan siapa-siapa, bukan orang lain, tapi... keluarga.

Tidak salah jika Keluarga Cemara menuliskan ini dalam lirik lagunya, "Harta yang paling berharga, adalah keluarga. Mutiara paling indah, adalah keluarga."

5. Healthy mind, healthy heart and healthy body are important!

Menjaga kewarasan pikiran, hati, dan kesehatan badan adalah yang utama untuk menjalani kehidupan yang super kompleks ini.



Menghilangkan orang-orang yang menjadi racun dalam hidup, mengurusi apa yang perlu diurusi saja, dan tegas kepada diri sendiri, adalah tiga dari sekian hal yang saya lakukan demi warasnya hati dan pikiran saya. Heuheu.

Hidup udah susah, jangan ditambah dengan pikiran dan lingkungan yang bikin makin susah :D

Jaga badan juga sangat berguna bagi saya, mengingat anaknya gampang menggendats bulat seperti bola pimpong????

Yang ringan aja, sih. Kayak jogging, skipping, sit up, plank, squat, zumba. Heuheu. Yang penting badan sehat hati kuat ~

6. It’s okay not to be okay.

Dulu, masih sok-sokan kuat. Gak mau kelihatan sedih, gak mau kelihatan kalau lagi galau. Kudu tampil ceria dan bahagia, meski hati sebenarnya lagi hancur ambyar. Karena takut nantinya bakal keterusan sedih mulu hahaha.

Sok-sokan gak mau sambat, takut nanti dikira gak bersyukur bla-bla-bla.

Tapi semakin bertambahnya usia, saya makin menyadari bahwa yang namanya emosi; baik itu sedih, senang, duka, bahagia, marah, adalah sebuah kewajaran.

Kita berhak merasakan sedih, berhak merasakan galau, berhak sambat, berhak ‘tidak baik-baik saja’. Namanya juga manusia, bukan robot.

Ada satu titik dimana emosi saya benar-benar gak kekontrol, sedih nggak ada alasannya, gampang marah, gampang kepancing. Ya penyebabnya ternyata memang ada emosi yang nggak tertuntaskan dengan baik. Jadinya menumpuk dan menjadi ‘bom’ di satu waktu.

It’s okay not to be okay.

Kalau lagi sedih, sedihlah. Nggak usah ditahan. Biarkan emosi itu datang. Rasakan kehadirannya, peluk kehadirannya.

Karena itu hal wajar. Semua perasaan itu wajar. Seperti senang, rasa sedih akan berlalu.

Sampai saat ini saya masih terus menerus belajar menjadi manusia yang ‘okay not to be okay’. Hehe. Susah, sih. Soalnya kadang masih denial. Tapi tetap berusaha.

Semangat xD

7. Pertahankan siapa yang memang ingin dipertahankan, dan pantas dipertahankan.

Tidak hanya untuk hubungan asmara saja. Tapi seluruh hubungan antar manusia hehehe. Meski saya belajarnya lewat hubungan asmara :p

Well, memang susah pada awalnya untuk melepaskan yang tidak ingin dipertahankan, meski kita sendiri masih ingin mempertahankannya. Tapi saya menyadari, bahwa jika hanya satu pihak saja yang berjuang mempertahankan, bikin capek lahir batin.

Yang namanya berjuang, harus ada ketersalingan, sih. Hehehe.

8. Everything is Temporary.

Terlalu naif kalau saya berkata ‘selamanya’ .

Semua akan datang dan pergi. Rasa sedih, rasa bahagia, momen-momen apapun, semua akan datang dan pergi. Semua hanya sementara.

Begitu pula dengan keberadaan orang-orang tercinta. Akan selalu ada yang datang, dan juga pergi. Tentu ada juga yang bertahan, tapi tetap tidak akan mungkin selamanya.

Itu sebabnya saya selalu berusaha menikmati momen bersama mereka. Menciptakan kenangan, membekukannya lewat foto maupun tulisan. Agar nantinya jika mereka pergi, ada sesuatu yang bisa saya kenang dengan baik.

Tidak ada kata selamanya, yang ada hanya bertahan sedikit lebih lama dari biasanya.

9. Selalu berbuat baik selama ada kesempatan. Dimanapun. Kapanpun. Pada siapapun.

Salah satu alasan saya hidup. Kenapa?

Ada kebahagiaan tersendiri.

10. Selalu ada risiko yang mengikuti di setiap pilihan yang dijalani, meski hal yang dipilih adalah hal yang disukai sekalipun. Pilihlah hal yang risikonya mampu diterima dan dijalani dengan penuh tanggungjawab, dan sesadar-sadarnya.

11. Perbanyak minum air putih, sayur, dan pakai sunscreen kemana-mana.

Percayalah, semakin dewasa saya menyadari bahwa sesungguhnya air putih adalah minuman terbaik bagi tubuh! HAHA. Bikin kulit makin bersihan dan badan makin enteng.

Begitu pula juga makan sayur. Bikin kulit makin sehat dan pencernakan juga enteng. Hohoho~

Btw tentang sunscreen sendiri itu emang pentiiing banget bagi wajah saya yang super sensitif. Biar nggak terpapar sinar matahari langsung yang bikin kulit gosong . Hwkwkw.

12. Mie instan kuah + telur di waktu hujan adalah sebuah kenikmatan haqiqi. Jangan lupa untuk selalu stok mie instan dan telur di kulkas gaes. Karena itu sebuah serpihan surga duniawi, yang sedikit melupakan akan beban hidup~

13. Sekali-kali, menjadi bodoamat itu perlu. Apalagi kalau ada omongan-omongan yang nggak ngenakin, ngejatuhin tanpa ngasih kontribusi positif dalam hidup. Heuheu. Mendingan milih enggak tau bodoamat sekalian aja.

14. Sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, ternyata belum ada apa-apanya dengan perasaan sama-sama menyukai, tapi saling memahami bahwa tidak akan pernah bisa bersatu.

Hehe. Mari memutar lagu Marcell yang Peri Cintaku :’)

15. Jangan sekali-kali membawa/mengantongi handphone jika sedang bermain air di pantai, kalau nggak mau terjadi hal yang tidak-tidak alias handphone slulup di air laut (karena sekali kena air laut, siap-siap harus merelakan hape jadi rongsokan :’))

16. Jangan minum kopi dalam keadaan perut kosong jika nggak mau perut bergejolak alias berujung sakit perut.

17. Menambah kenalan itu lebih mudah daripada menambah teman.

Bisa dibilang, teman saya sekarang ini cuma itu-itu aja. Kalau kenalan yang sekadar kenal mah banyak.

Tapi teman? Sahabat?

*hening*

Semakin bertambahnya usia, entah mengapa seperti membatasi diri. Dulu mah rasanya kayak punya teman buuanyak banget. Merasa bangga kalau punya temen disana-sini.

Tapi semakin lama semakin sadar, kalau semuanya hanya sekadar kenal sepintas aja. Bukan benar-benar mengerti gimana dia, baik buruknya. Bahkan ada yang cuma datang kalau pas lagi butuh atau cuma sambat doang ~xD ya, gapapa. Da aqu anaknya baik kok~

Kalau udah punya temen yang bener-bener ngerti, udah akrab, tinggal bagaimana saling pertahanin aja sih. Heuheu.

18. Menikah bukan ajang perlombaan. Menikah bukan hanya memikirkan senang-senangnya saja. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum melangkah ke fase itu. Pilih pasangan yang saling mengerti, saling memahami satu sama lain, saling kompromi, dan bisa diajak kerjasama. Jangan kemakan sama tampang, karena tampang nggak bikin kenyang.

19. Percaya dan mempercayakan itu dua hal yang sulit. Jangan main-main dengan hal itu.

20. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Jika pada akhirnya nggak tercapai sesuai dengan keinginan, setidaknya rasa penasaran telah tuntas, berjuangnya juga ada hasilnya. Daripada tidak pernah mencoba dan dihantui rasa penasaran seumur hidup.

21.  Jangan lupa beri jeda pada diri sendiri. Memerdekakan diri sejenak dari riuhnya kehidupan.

22. Hidupkan diri dengan hobi/kesibukan yang menyenangkan atau apapun hal yang membuat untuk bertahan hidup.

23. It’s okay to say ‘NO’, sometimes.

24. Jangan membandingkan prosesmu terhadap orang lain. Setiap orang memiliki ‘waktu emas’nya masing-masing. Semua ada porsinya masing-masing. Cukup fokus dengan apa yang kamu kerjakan.

Sepertinya ini tulisan saya yang terpanjang setelah pengalaman masuk kuliah beberapa tahun lalu heuheu. Nggak papa, namanya juga pengingat pribadi. Jurnal pribadi. Siapa tahu nanti berguna di masa depan dan anak cucu ~XD

And, welcome to 24's club! Semoga diberi kekuatan untuk melalui apapun yang terjadi di tahun ini :)




Love,


Andhira A. Mudzalifa

You Might Also Like

1 comments

Silahkan berkomentar :) No SPAM and SARA ya ^^