FaceBook Instagram TikTok Twitter

andhirarum

    • Home
    • Tentang Andhira
    • Product
    • _aderation project
    • _Kirana Creative



    Sejak kasus COVID-19 pertama muncul di Indonesia di awal Maret 2020 yang lalu, semuanya sudah terasa berbeda seperti hari-hari biasanya. Banyak sektor terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Di Blitar dimana kota tempat saya tinggal pun juga sangat terasa sekali perbedaannya. Apalagi setelah ada kasus pertama muncul di Blitar. Semua warga Bltar mulai waspada dan berupaya untuk melindungi diri.

    Pengaruh yang cukup kentara adalah adanya imbauan dari pemerintah untuk tetap #DiRumahAja. Efek dari himbauan ini sangat berdampak luas. Sistem kerja diubah menjadi Work From Home, alias hanya bertemu tatap muka lewat online. Begitu pula dengan anak sekolah dan kuliah, yang kesemua pembelajarannya diubah menjadi pembelajaran daring (online) alias pembelajaran jarak jauh melalui beberapa aplikasi virtual meet diantaranya Zoom, Google Classrom, Google Meet. Intinya, semua dialihkan menjadi online.

    Hal ini juga berdampak pada adik saya ketika sidang seminar proposal. Baru pertamakali ini saya mengetahui bahwa ada sidang yang dilakukan secara online. Kata adik saya sih, memang cukup ribet dibandingkan dengan sidang tatap muka biasa. Tapi rasa tegangnya jadi berkurang HAHAHAHA. Alhamdulillah, lulus untuk tahap selanjutnya. Yeay!

    Adik kandung saya, yang beberapa minggu yang lalu menjalani seminar proposal secara online. Gugupnya sedikit berkurang, katanya. Hahahaha. Selamat, Adik!

    COVID-19 juga memukul sektor ekonomi. Banyak sekali toko dan penjual makanan yang harus tutup untuk sementara. Jika ada yang buka pun, hanya melayani take away dan delivery order saja. Seperti kasus yang pernah saya alami, beberapa kali saya terpaksa harus makan di dalam mobil, karena tempat makan yang saya tuju tidak menerima untuk makan di tempat. Akhirnya menyiasatinya dengan makan di mobil, kemudian berhenti di tepi jalan yang dekat dengan tempat cuci tangan –yang untungnya sudah mulai tersebar di sudut-sudut kota tempat tinggal saya.

    Salah satu kafe di kota saya yang hanya melayani take away dan delivery order

    Berbicara tentang tempat cuci tangan, mewabahnya virus COVID-19 ini membuat banyak orang semakin sadar untuk menerapkan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Terutama untuk selalu cuci tangan, memakai masker jika sakit, dan juga mematuhi etika bersin. Terlihat banyak tempat cuci tangan di setiap sudut kota yang disediakan oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat di lingkungan masing-masing. Bahkan di beberapa wilayah juga terdapat bilik disinfektan, dimana setiap warga berhenti sejenak di sana untuk disemprot.

    Mulai terdapat tempat cuci tangan di beberapa sudut kota

    Sejak adanya COVID-19 ini, jalanan jadi cukup sepi. Tempat wisata ditutup untuk sementara. Bahkan, jalan raya utama yang biasanya ramai ketika malam Minggu pun sangat lengang, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Banyak acara-acara besar harus ditiadakan, padahal di bulan April ini merupakan ‘hajatan’ besar kota saya, yang biasanya di bulan-bulan ini padat sekali acara untuk memperingati kelahiran kota saya yang jatuh pada tanggal 1 April. Sepi dan sunyi.

     Jalan protokol yang biasanya ramai saat malam Minggu, ini beneran sepi banget

     Taman kota yang harus tutup sementara akibat wabah COVID-19


    COVID-19 menyebabkan saya harus stay di rumah dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, meski sesekali keluar rumah karena ada urusan yang mengharuskan untuk keluar. Agenda nongkrong bersama teman-teman dan ngopi di kedai kopi langganan harus ditiadakan, karena semua kedai kopi dan kafe di Blitar ditutup (bahkan semua kafe disidak, loh!). Sudah hampir satu bulan ini saya tidak bertemu dengan teman-teman seperkopian. Rindu sekali, huhuhuhu.

    Imbauan dari pemerintah untuk tidak mudik yang segede gaban sudah terpampang nyata :')

    Yang pasti, COVID-19 ini membuat kehidupan saya cukup berubah akhir-akhir ini, tetapi cukup senang karena saya jadi berpikir lebih kreatif bagaimana agar tetap enjoy menikmati hari-hari walau hanya di rumah saja. Terutama untuk tetap menjaga kewarasan diri saya di tengah badai pandemi ini.

    Semoga kita semua dikuatkan untuk melewati pandemi COVID-19 ini. Tetap jaga diri, jaga kesehatan, jangan lupa cuci tangan, dan stay at home!

    -------------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    30 Day Ramadan Challenge BPN




    Love,

    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading

    Sejak akhir tahun 2019 lalu, dunia digegerkan dengan suatu virus yang berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Virus itu bernama Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau sekarang berganti nama dengan COVID-19.

    Menurut keterangan yang saya baca di situs World Health Organization (WHO), COVID-19 ini masih satu keluarga dengan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan juga SARS (Severe Acute Respiratory), yang merupakan sesama coronavirus. Dimana ketiga penyakit ini merupakan infeksi saluran pernapasan.

    Dibandingkan dengan MERS dan SARS, COVID-19 ini lebih berbahaya dan mematikan dari kedua infeksi itu, karena penularan yang begitu cepat dan sangat tinggi. Terhitung sejak Desember 2019 dimana virus COVID-19 muncul untuk yang pertamakali, hingga April 2020 ini  sudah menginfeksi sebanyak 2,25 juta orang di dunia yang tersebar lebih dari 200 negara, dengan negara terjangkit tertinggi adalah Amerika Serikat. Setelah sebelumnya Tiongkok menempati urutan pertama (sumber dari sini).

    Gejala-gejala COVID-19

    Dikutip dari situs WHO, gejala yang timbul pada umumnya adalah demam tinggi (>38 derajat), muncul rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa gejala lainnya yang ditemukan yakni sakit tenggorokan, nyeri, pilek, dan diare. Orang dengan usia lanjut dan orang dengan penyakit bawaan lainnya (diabetes, tekanan darah tinggi, jantung), memiliki risiko terkena COVID-19 ini.

    Penyebaran COVID-19

    COVID-19 dapat menyebar melalui percikan-percikan (droplets) yang keluar dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi COVID-19. Percikan-percikan ini jatuh kemudian menempel pada permukaan benda-benda, maupun orang sekitar. Dan tentu saja, orang yang menyentuh benda yang terkena percikan itu dapat tertular COVID-19.

    Virus COVID-19 tidak menyebar melalui udara. Penularan virus ini hanya dapat menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan percikan. Oleh sebab itulah disarankan untuk menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.

    Pandemi COVID-19  di Indonesia

    Kasus pertama di Indonesia muncul sejak awal Maret 2020 yang lalu. Pasien pertama berasal dari Depok, Jawa Barat. Kemudian menyebar hingga hampir ke seluruh Indonesia.

    Saat ini (per tanggal 19 April 2020) tercatat ada 6575 kasus positif, dimana 686 pasien dinyatakan sembuh, 582 pasien dinyatakan meninggal, dan sisanya sedang menjalani perawatan insentif di rumah sakit (sumber: statistik Google). Kasus terbanyak terjadi di DKI Jakarta, dengan data terkonfirmasi sebanyak 3032 kasus. Diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

    Di Jawa Timur, per 19 April 2020 terdapat 588 kasus positif, dimana total 98 pasien sembuh dan 56 pasien meninggal dunia. (sumber: instagram jatimpemprov)






    View this post on Instagram




    [UPDATE] Berikut update situasi Jawa Timur per hari ini, Minggu 19 April 2020 pukul 18.00 WIB beserta Peta Sebaran COVID19 (slide ke-3) . Jumlah pasien positif mengalami peningkatan sebanyak 33 pasien positif baru sehingga total pasien positif saat ini adalah 588 pasien positif (rincian dapat dilihat di peta pada slide ke-3 dan tabel pada slide ke 4-5) . Pasien sembuh belum mengalami pertambahan sementara pasien meninggal bertambah 2 pasien . Pemerintah berharap agar dulur-dulur selalu menerapkan #PhysicalDistancing dan menggunakan masker apabila terpaksa keluar rumah untuk hal darurat. Selalu cuci tangan dengan sabun selama 20 detik dan bilas dengan air yang mengalir . Apabila SANGAT TERPAKSA untuk keluar, agar dilakukan sesuai protokol (dapat dicek di postingan sebelumnya) . Lakukan cek mandiri melalui link yang ada di bio dan segera melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Rujukan terdekat apabila menunjukkan gejala yang akut . Kamu juga bisa mengikuti update perkembangan #covid19 di daerahmu melalui WhatsApp (link segera di-update di highlight/sorotan) . #NengOmahAe, utamakan keselamatan diri dan keluarga @khofifah.ip @emildardak #CoronaBisaDisembuhkan #StayAtHome #DiRumahAja #Covid19Pandemic #jatimpemprov #jawatimur #jatimtanggapcovid19 #covid19 #coronavirus

    A post shared by Pemerintah Provinsi Jawa Timur (@jatimpemprov) on Apr 19, 2020 at 6:12am PDT


    Kasus COVID-19 di Blitar Raya

    Di Blitar sendiri, kasus positif COVID-19 pertama muncul pada tanggal 22 Maret yang lalu. Pasien berasal dari Kecamatan Nglegok, tetapi sehari-hari tinggal di Bogor, Jawa Barat. Pulang ke Blitar dalam rangka berkunjung ke rumah orangtua.

    Kasus terakhir (per tanggal 18 April 2020), dilaporkan ada satu kasus positif dari Kecamatan Kesamben. Dilansir dari Info Blitar, pasien tersebut sehari-hari tinggal di Surabaya. Sudah melakukan perawatan di Surabaya sejak tanggal 10 April 2020, dan pada tanggal 13 April 2020 pasien memutuskan untuk keluar dari rumah sakit meski hasil tes swab belum keluar. Kemudian tanggal 15 April 2020 pasien pulang ke rumah Blitar yang ada di Ds. Pagergunung, Kec. Kesamben. Dan ketika hasil swab sudah keluar, ternyata pasien dinyatakan positif COVID-19.






    View this post on Instagram




    Sekilas #InfoBlitar - Update #COVID19⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Pembaruan terakhir dari Pemprov Jatim : 19 April 2020 pukul 16.47 WIB⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Kota Blitar⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ - 1 orang berstatus Positif COVID-19⁣ dan sudah dinyatakan sembuh⁣⁣⁣⁣⁣⁣ - 2 orang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 1 pasien sudah sembuh, 1 masih dalam perawatan⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ - 164 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP)⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣ Kabupaten Blitar⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ - 3 Orang positif (1 sembuh, 1 meninggal, 1 masih dirawat) ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ - 1 orang positif dari pagergunung kesamben tercatat positif di Surabaya, sehingga data positif di kabupaten Blitar tidak bertambah - 14 orang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP)⁣⁣⁣ (3 dirawat, 8 sembuh dan 3 meninggal)⁣⁣⁣⁣⁣ - 643 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP)⁣ ⁣ Peta sebaran Blitar Raya bisa cek di https://infoblitar.com/covid-19/ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Jangan ragu kontak kami via whatsapp/telegram ke nomor 0889-7605-3980 atau email redaksi@infoblitar.com bila kamu punya info menarik seputar Blitar.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ #infoblitar #infojatimonline #beritaharian #beritaterkini #beritaterbaru #blitar ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣#covıd19 #covid #Corona⁣ #PemprovJatim #JatimPemprov #KotaBlitar #BlitarKota #KabBlitar #jatimcettar

    A post shared by Info Blitar (@infoblitar) on Apr 19, 2020 at 4:38am PDT

    Semoga kita semua selalu berada dalam lindungaNya! Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa untuk selalu cuci tangan. Stay safe, ya!

    -----------------------------------------------------

    Ditulis guna memenuhi tantangan dari Blogger Perempuan Network,
    30 Day Ramadan Challenge BPN




    Love,



    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading


    Sudah sekian hari #DiRumahAja dan mulai merindukan nongkrong ngopi di luar rumah.

    Meskipun sebenarnya saya oke-oke saja jika disuruh ndekem di rumah, namun ada kalanya saya mencapai titik kebosanan ingin menghirup udara bebas di luar rumah dan nongkrong bertemu teman-teman. Seperti sekarang ini. Huhuhu~

    Beberapa hari yang lalu, tetiba di linimasa twitter diramaikan dengan video tiktok sebuah resep kopi susu yang membuat saya tertarik untuk mencobanya. Dalgona Coffee, namanya. Atau banyak orang yang menyebut Kopi Tiktok gegara kopi susu ini diviralkan di aplikasi Tiktok.

    Sebenarnya, Dalgona Coffee ini sama halnya dengan kopi susu biasa. Hanya saja, dalam penyajiannya, kopi di Dalgona Coffee dibentuk seperti busa (foam). Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk mencobanya hihihi. Sekaligus melepas rindu akan kopi (meski sekarang saya tidak terlalu suka mengonsumsi kopi). Plus, bisa jadi alternatif untuk terus produktif, meski harus #DiRumahAja :D


    Alat dan Bahan

    Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan Dalgona Coffee ini antara lain:
    1. Nescafe Classic 2 sachet (bebas mau 1 atau 2 sachet, tergantung suka kopi atau tidak)
    2. Susu Frisian Flag Coconut Delight (sebenarnya bebas saja sih untuk varian susunya. Saya memilih Frisian Flag Coconut Delight karena saya sangat suka dengan susu satu itu! Nggak bikin eneg, malah ada gurih-gurihnya khas kelapa gitu, deh :D)
    3. Gula pasir 2 sendok makan (bebas, tergantung suka manis atau tidak)
    4. Air panas 2 sendok makan
    5. Es batu (bebas mau dibikin dingin atau hangat. Saya lebih suka dingin, sedingin sikap doi pada saya~)
    6. Mixer (bebas mau pakai mixer atau dikocok menggunakan sendok. Berhubung saya malas untuk mengocok lama, saya menggunakan mixer HAHAHAHAHAH)
    7. Doa semoga dilancarkan~

    Cara Pembuatan

    1. Berdoa agar diberi kesabaran dan kekuatan untuk membuat Dalgona Coffee

    2. Siapkan alat dan bahan.

    Lupa nyantumin mixer dan es batunya wqwqwq~

    Bahan utama!

    3. Campurkan Nescafe Classic, gula pasir, dan air panas dalam satu wadah. Untuk perbandingan nescafe, gula pasir, dan air panas, saya menggunakan perbandingan 2:2:2 . Kebanyakan sih pakai perbandingan 2:2:1 agar kental banget. Bebaskan, yang penting tidak terlalu encer.

    Pokoknya dicampur kayak gini ehe~

    4. Campurkan ketiga bahan di atas menggunakan mixer, atau juga bisa diaduk menggunakan sendok/alat pengaduk tepung, hingga warna kopi berubah menjadi kecoklatan dan mengembang.

    Karena saya tidak telaten dan tidak sabar menggunakan sendok, jadi saya memilih menggunakan mixer biar cepat~

    5. Taraaaa! Masih setengah jadi, gaes. Nah, nanti hasil akhir kopinya harus seperti ini, ya!

    Adonan harus terlihat kecoklatan dan mengembang seperti ini, gaes!

    6. Siapkan es batu (jika ingin es kopi) dalam gelas.


    7. Tuang susu Frisian Flag Coconut Delight ke dalam gelas berisi es batu.


    8. Tuang adonan kopi yang sudah dikocok tadi di atas kopi.

    9. Sajikan selagi dingin maupun hangat.


    10. Jangan lupa foto dulu #demikonten ~XD

    Mohon maaf ini foto seadanya banget karena keburu magrib dan ini sehabis hujan, pula. HAHAHAHA. Dasar Andhira, hujan-hujan bukannya cari yang hangat-hangat, malah cari es!

    Tidak terlalu rempong sih untuk pembuatan kopinya selain effort di mixer maupun mengaduk menggunakan sendok. Sangat melatih kekuatan otot tangan dan juga melatih kesabaran, tentunya! Heuheuheu~.

    Modal yang saya gunakan pun tidak banyak. Cukup merogoh kocek tidak sampai 15 ribu saja. Itu saja Nescafe Classic-nya juga bisa digunakan beberapa kali pembuatan (dan sampai sekarang masih sisa lumayan banyak, dan sudah saya gunakan dua kali pembuatan kopi. Ehe). Susu Frisian Flag-nya kalau tidak salah hanya 5700-an saja.  Untuk bahan yang lain seperti gula, es batu, dan air panas, sudah ada stok sendiri di rumah. Salah satu upaya penghematan :D

    Oh iya, saya sempat juga komentar di salah satu cuitan tweet seorang selebtweet yang menuliskan Dalgona Coffee menggunakan Frisian Flag  Coconut Delight itu enak. Dan tetiba tweet saya dibalas, dong! Hihihihi.


    Dalgona kopi kalo pakenya susu coconut delight rasanya jadi juara banget 😭👌🏻
    — aan (@aan__) March 29, 2020


    Sudah mencoba kemarin dan rasanya beneran enak paraaah!!!https://t.co/Iz7aFD9Pty
    — Andhira A. Mudzalifa (@andhirarum) March 29, 2020


    Coba yang panas. Lebih kerasa gurihnya gara2 ga kecampur es 🔥🔥🔥
    — aan (@aan__) March 29, 2020


    Semoga Dalgona Coffee ini bisa melepas rindu untuk ngopi di luar, ya! Tetap #DiRumahAja, stay safe, stay healthy, and happy!



    With love,



    Andhira A. Mudzalifa

    Continue Reading

    Terinspirasi dari postingan blognya Mbak Astri Puji Lestari yang ini (klik), saya jadi ingin menuliskan pengalaman decluttering pakaian yang mungkin di mata orang lain saya terlihat pakai yang  ‘itu-itu’ saja. Meski sempat saya tuliskan di caption instagram, tapi saya ingin juga simpan cerita di blog ini. Biar makin banyak cerita di blog ini (.......dan biar nambah postingan di blog saya, gitu). Eheu~

    Perlu diketahui bahwasanya saya tidak terlalu suka berbelanja pakaian, meskipun kalau ditraktir pakaian atau dikasih, nggak pernah nolak. Berbeda dengan adik perempuan saya yang lebih feminim dari saya, yang lebih sering berbelanja pakaian, kerudung, dan sepatu. Terakhir saya berbelanja pakaian tuh tahun 2018, karena memang beneran butuh pakaian baru. Hahaha.

    Semula bermula di tahun 2017 ketika saya berkenalan dengan Marie Kondo lewat bukunya yang terkenal yaitu The Life-changing Magic of Tidying Up. Pikiran saya tentang merapikan dan beres-beres banyak terbuka gegara buku satu itu (....dan sepertinya harus saya baca ulang gegara banyak yang lupa poin-poinnya HAHAHAH).

    Kemudian di tahun 2018 setelah membaca buku Marie Kondo dan membaca beberapa tulisan orang terkait dengan mindfulness, decluttering, dan hidup minimalis,  sayapun sangat tertarik dengan decluttering pakaian alias memilah-milih pemakaian baju.

    Sudah dasarnya nggak suka belanja pakaian seperti yang sempat sedikit saya ceritakan di atas, ditambah bacaan-bacaan yang mendukung tentang mindfulness dan decluttering, akhirnya saya memutuskan untuk menerapkan decluttering pada pakaian. Saya memilih belajar decluttering pada pakaian karena lebih mudah dibandingkan pada barang lain HAHAHAHAHA (untuk yang lainnya akan segera belajar secara bertahap HAP HAP!).

    Beberapa hari yang lalu ketika momen #DiRumahAja yang sedang berlangsung saat ini akibat wabah COVID-19 yang semakin meluas, saya mencoba membongkar lemari baju saya untuk melakukan decluttering yang sudah saya lakukan untuk kesekian kalinya beberapa tahun terakhir. Lha kok ya tetap nemu pakaian yang sudah saatnya di-declutter. Mana cukup banyak, pula. Eheu.

    Hasil declutter yang saya lakukan beberapa hari lalu

    Beberapa pertimbangan yang saya lakukan ketika melakukan decluttering pakaian diantaranya:

    1. Seberapa nyaman dipakai
    2.  Seberapa fungsional pakaian dipakai
    3. Punya warna dan jenis pakaian yang sama lebih dari 5
    4. Tidak suka lagi dengan modelnya
    5.  Sudah tidak muat dipakai
    6. Bisa dipadu padankan dengan yang lain  (atasan/bawahan)
    7.  Warna pakaian
    8. Menimbulkan bahagia/rasa percaya diri ketika dipakai
    Sejauh ini saya cukup dengan satu lemari saja, sih. Kebanyakan juga warna-warna netral seperti hitam, biru tua/navy, abu-abu, coklat, putih. Warna-warna lainnya hanya punya beberapa, itu saja gegara dapat baju dari saudara dan teman HAHAHAHA.

    Untuk penataan sendiri, sebenarnya ada tatacaranya. Salah satunya bisa baca di artikel Living Loving yang ini (klik) untuk lebih detainya. Nah, berhubung saya hanya memakai lemari yang ada, jadi saya memanfaatkan untuk menata lemari sedemikian rupa agar rapi dan tentunya nyaman seperti pelukannya dia~ *eh

    1. Lemari atas saya isi dengan gamis (tidak saya gantung karena tidak ada lemari gantung HAHAHAHAHAH), dengan posisi dilipat dan ditata dari warna tergelap hingga terang. Disamping gamis, saya isi dengan pakaian semi-formal seperti kemeja, blus, dan tunik.
    2.  Lemari tengah saya isi dengan pakaian santai seperti kaos lengan panjang dan baju rumah. Urutannya juga sama seperti dengan lemari atas, diurutkan dari tergelap hingga terang.
    3. Lemari bawah saya isi dengan training, rok, celana kain, dan kulot. Ehe. Saya tidak punya celana jeans lagi sejak beberapa tahun lalu.
    4. Untuk kerudung, kaos kaki, inner kerudung, dan masker, saya pisah di laci yang berbeda. Cari tempat yang sedikit kecil daripada di lemari hehe. Tidak saya gantung karena hanger khusus kerudung sudah penuh dengan kerudung lain :D
     Lemari atas pakaian saya. Oh iya, ada yang urutan warnanya nggak pas gegara barusan dicuci dan belum saya tata lagi. Hehe

     Lemari tengah, khusus untuk kaos lengan panjang santai dan pakaian di rumah

     Lemari bawah, isinya celana training, rok, dan celana kulot :D

           Kerudung dan hijab yang saya lipat di laci lain, sesuai metodenya Marie Kondo. Btw hanya kerudung dan hijab saja yang bisa saya terapkan metode dari Marie Kondo, lainnya nggak bisa gegara nggak punya laci lagi wkwkwk

    Sejauh ini, saya nyaman dan senang dengan metode decluttering pakaian ini. Meski mungkin tidak sedikit orang berpikir, kok saya hanya punya baju yang itu-itu saja HAHAHA. Tapi nggak papa, sih. Toh yang ngejalanin juga saya, yang penting terlihat rapi dan pantas dilihat ehehe.

    Saya tidak perlu banyak menghabiskan waktu untuk memilih baju mana yang akan saya kenakan, karena dengan secukupnya baju yang saya punya, saya menjadi hafal. Nggak repot, lebih sadar, dan tentunya lebih teratur. Ehe.

    Efeknya, saya jadi berpikir dua kali lipat jika ingin mengisi lemari, atau sekadar membeli sesuatu. Lebih sering bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar membutuhkan? Atau hanya sekadar lapar mata?”

    Saya juga menerapkan prinsip baru dalam hidup untuk Beli 1, Keluar 1. Jadi ketika membeli pakaian baru, saya harus mengeluarkan satu pakaian saya yang ada dalam lemari agar tidak terjadi penumpukan baju.

    Semoga resolusi sederhana untuk belajar declutter dan hidup fungsional bisa tercapai! Yay~

    Jadi, sudah mengagendakan beberes lemari untuk mengisi kegiatan saat #DiRumahAja saat ini? Semoga kita semua baik-baik selalu dan berada dalam lindunganNya, ya! Stay safe!


    Love,


    Andhira A. Mudzalifa
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Holla!

    Untitled-design-2

    Saya Andhira A. Mudzalifa, seorang perempuan biasa di balik semua postingan di blog ini yang suka bercerita, makan, dan jalan-jalan.

    Menyibukkan diri di Aderation Project dan Kirana Creative .

    Untuk menyapa lebih lanjut, bisa menghubungi lewat surel di andhira(dot)dee(at)gmail(dot)com

    Terima kasih telah mampir ke tempat di mana saya menuangkan segala cerita! Selamat membaca dan menikmati :)

    Temukan Saya Di

    • facebook
    • instagram
    • twitter

    Teman-teman

    Label

    #AyoNulis #BPNRAMADAN2024 #BPNRamadan2020 #BPNRamadan2021 #CatatanDuaEmpat #DiRumahAja Aderation Project Beauty Bodycare Cooking Crafting DIY Informasi Jelajah Blitar Journey Jurnal Tahunan Kafe Kuliner Life Lovely Place Makeup Pantai Blitar Rekomendasi Review Scarlett Smartfren Thoughts Tips Travelling Vaksinasi Writing Challenge cerita jalan-jalan

    Arsip Blog

    • ▼  2024 (17)
      • ▼  November 2024 (1)
        • Kenal Lebih Dekat dengan SoFresh: Sabun Cuci Pirin...
      • ►  Oktober 2024 (1)
      • ►  April 2024 (6)
      • ►  Maret 2024 (9)
    • ►  2023 (3)
      • ►  Juni 2023 (1)
      • ►  Februari 2023 (1)
      • ►  Januari 2023 (1)
    • ►  2022 (3)
      • ►  Maret 2022 (1)
      • ►  Februari 2022 (1)
      • ►  Januari 2022 (1)
    • ►  2021 (51)
      • ►  Desember 2021 (2)
      • ►  November 2021 (1)
      • ►  Oktober 2021 (1)
      • ►  September 2021 (1)
      • ►  Agustus 2021 (3)
      • ►  Juli 2021 (1)
      • ►  Juni 2021 (1)
      • ►  Mei 2021 (17)
      • ►  April 2021 (17)
      • ►  Maret 2021 (4)
      • ►  Februari 2021 (2)
      • ►  Januari 2021 (1)
    • ►  2020 (55)
      • ►  Desember 2020 (1)
      • ►  November 2020 (2)
      • ►  Oktober 2020 (2)
      • ►  September 2020 (4)
      • ►  Juli 2020 (4)
      • ►  Juni 2020 (4)
      • ►  Mei 2020 (22)
      • ►  April 2020 (11)
      • ►  Maret 2020 (1)
      • ►  Februari 2020 (1)
      • ►  Januari 2020 (3)
    • ►  2019 (48)
      • ►  Desember 2019 (3)
      • ►  November 2019 (1)
      • ►  Oktober 2019 (3)
      • ►  September 2019 (5)
      • ►  Agustus 2019 (3)
      • ►  Juli 2019 (2)
      • ►  Juni 2019 (1)
      • ►  Mei 2019 (6)
      • ►  April 2019 (3)
      • ►  Maret 2019 (9)
      • ►  Februari 2019 (11)
      • ►  Januari 2019 (1)
    • ►  2018 (10)
      • ►  Desember 2018 (1)
      • ►  Oktober 2018 (3)
      • ►  September 2018 (2)
      • ►  Mei 2018 (3)
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (9)
      • ►  November 2017 (1)
      • ►  Oktober 2017 (1)
      • ►  Juli 2017 (1)
      • ►  Mei 2017 (1)
      • ►  April 2017 (1)
      • ►  Maret 2017 (2)
      • ►  Februari 2017 (1)
      • ►  Januari 2017 (1)
    • ►  2016 (16)
      • ►  Desember 2016 (3)
      • ►  November 2016 (2)
      • ►  Oktober 2016 (2)
      • ►  Agustus 2016 (2)
      • ►  Juli 2016 (2)
      • ►  Juni 2016 (1)
      • ►  Januari 2016 (4)
    • ►  2015 (4)
      • ►  Maret 2015 (1)
      • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  2011 (1)
      • ►  Juli 2011 (1)

    Popular Posts

    • Usia Kepala Dua?
    • Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan
    • A Flashback to Senior High School: Kangen!

    Saya Bagian Dari

    Logo-Blogger-Perempuan-Network-round-7

    Aderation Project

    Untitled-design-20240826-113829-0000
    Facebook Instagram Pinterest Tumblr Twitter

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top